Pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat Situraja yang dinamis agaknya mengilhami para pemilik modal untuk menangkap peluang usaha dengan mendirikan tempat belanja swalayan di Situraja. Dua buah minimarket yang berafiliasi ke pewaralaba/franchisor besar hadir di Situraja. Setelah KPRI GKS bermitra dengan PT Inti Cakrawala Citra mendirikan Outlet Mitra Indogrosir (Omi minimarket)yang terlebih dahulu beroperasi, kini giliran KSU Sugih Mukti menggandeng PT Sumber Alfaria Trijaya mendirikan outlet waralaba Alfamart di Situraja.
Bagi masyarakat Kecamatan Situraja yang terbiasa belanja keperluan sehari-hari dari minimarket tentu kedua minimarket tersebut dapat membantu kemudahan berbelanja,setidaknya sekarang tidak perlu ke pusat kota di Sumedang. Lain halnya mungkin bagi sebagian pelaku usaha kecil seperti warung,toko kelontongan dan pemilik kios di pasar dengan usaha sejenis, keberadaan kedua minimarket yang dikelola dengan manajemen modern dan modal besar ini boleh jadi menjadi ancaman bagi kelangsungan usaha mereka, apalagi keduanya berada pada jarak radius yang berdekatan. Semoga saja efek persaingan yang saling mematikan tidak terjadi,semuanya dapat hidup berdampingan dengan segmen pasarnya masing-masing. Hal ini tentu sudah terpikirkan jauh secara cermat oleh para pemegang kebijakan pembuat regulasi dan perijinam mulai dari pemerintah daerah hingga pemerintah pusat.
Cukup unik memang keberadaan kedua minimarket yang ada di Situraja ini. Jika kita mau berbelanja ke Omi minimarket maka di gedungnya tertera nama Toko KPRI-GKS dengan tulisan di bawahnya Pewaralaba Omi dan jika berbelanja akan diberikan struk belanja dengan tulisan KPRI GKS Minimarket Jl. Raya Situraja Sumedang yang dilengkapi dengan nomor telepon. Sedangkan kalau ke Alfamart Situraja nama yang tertera pada gedungnya adalah Koperasi Serba Usaha (KSU) Sugih Mukti dan jika kita berbelanja akan diberikan struk belanja dengan tulisan PT.Sumber Alfaria Trijaya Alfamart Situraja Sumedang.
Adanya kedua minimarket ini mungkin nanti di kemudian hari akan diikuti dengan hadirnya minimarket waralaba sejenis atau mungkin juga supermarket dan mal yang lebih besar yang juga menggandeng koperasi seiring dengan meningkatnya tingkat pendapatan dan konsumsi masyarakat Situraja dan sekitarnya.
Usaha-usaha inovatif yang dilakukan Koperasi dalam membangun jaringan dan mengembangkan unit usahanya patut diacungi jempol. Mudah-mudahan keberadaan koperasi dapat menyejahterakan anggotanya dan masyarakat Situraja pada umumnya dan benar-benar dapat menjadi sokoguru perekonomian Indonesia.
Selamat berbelanja!

Penulis: Dede Rudianto,SH

Posted by situraja, filed under Ekonomi. Date: January 25, 2009, 8:24 am | No Comments »

PROFIL BULAN INI
PERWAKILAN BPKP PROVINSI JAWA BARAT
Ekspresinya datar saja ketika tim redaksi Mading
mengajaknya berbagi cerita di teriknya siang,
namun sesaat kemudian senyumnya selalu
terkulum di sepanjang perbincangan. Bahkan
matanya tak henti berkedip ketika berkisah
tentang pengalaman2 hidupnya yang cukup
berwarna. Sesekali tangannya mengusap wajah,
namun yaitu tadi senyumnya selalu mengembang.
Hmm… so cool…!
Terlahir di Situraja 51 tahun yang lalu, persisnya
tanggal 14 Agustus 1957 dengan nama
Drs. Toto Suparman
kini sebagai Komandan/Kabid IPP Jabar.
Putra Sumedang tulen jebolan Unpad yang mengaku ‘mateng’ di kampus dari th 1975 sd th 1984(weleh2 betah amat ya, ngapain aja di kampus pak…?), begitu mengidolakan Buya Hamka karena cara berpikirnya yang cerdas, jelas, simple dan aplikatif serta seimbang pula antara urusan dunia dengan akhiratnya. Nama Ali Sadikin juga sempat disebut…’Namun saya sedikit kecewa dengan Bang Ali karena sebagai orang sunda (Sumedang) tidak membesarkan daerah asalnya…!’, tegasnya serius. Tapi masih ada salutnya juga sih, beliau orangnya tegas, bijak dan berani. Lihat saja Jakarta di masa itu…!
“Saya hampir down ketika ayah meninggal, namun melalui dzikir panjang alhamdulillah bisa bangkit kembali”, tuturnya sembari menerawang. Ayahanda dari 3 orang putra putri yang beranjak dewasa (Dery Mustika, Andreansyah dan Sheila Lingga) buah perkawinannya dengan Tintin Kartini (alm) yang juga telah berpulang menghadap Sang Khalik pada Juli 2007, menegaskan bahwa ‘Kehilangan memang sakit namun hidup harus tetap dijalani… jika kita tatap dengan rumit maka akan rumit, maka yakinlah Allah SWT akan memberikan yang terbaik’ ujarnya panjang lebar. Dengan optimisme tersebut dan seiring berjalannya waktu, kini telah hadir pengganti tambatan hati, sang mojang Sumedang Ida Rosyida, yang masih terhitung kerabat mengisi penuh hari2nya di Jl Pelesiran No 82/56 Tamansari Bandung. Keceriaan kembali merona dan binar kebahagiaan pasangan ini rupanya kerap mengaliri orang2 di sekitarnya sehingga banyak yang termehek-mehek dibuatnya…! Hehe… maklum dong ah namanya juga temanten baru.
Awal kariernya dimulai ketika masih berstatus mahasiswa, magang di perusahaan kontraktor dari th 1978 sd 1984 (pantes atuh kuliahnya gak kelar2…!) kemudian hijrah ke BPKP dan muter2 mulai dari Kalbar, Jabar, Sumsel, Sulteng eh balik ke Jabar lagi sampai sekarang.
Bungsu dari 3 bersaudara yg suka tiba2 alergi kalau disuruh nyanyi ini (psst… anehnya seneng banget Ketuk Tilu lho…!) lagi2 berfilsafat bahwa “Hidup adalah tantangan dan perlu kenekatan, probabilitynya sama antara berhasil atau gagal so hadapi segala sesuatu dengan optimis karena pasti ada solusinya, tatap masa depan dengan enjoy”, serunya cepat. Wuaduh…!
Penggemar tutug opak dan tutug oncom yang mengaku emosional dan tidak sabaran sebagai salah satu kelemahan dirinya, “tapi saya bukan tipe pendendam lho…” tambahnya buru-buru, Saya akan marah jika seseorang keluar dari koridornya, tapi dalam menyikapi suatu kebijakan terpaksa harus manut walau sebenarnya tak sesuai dengan hati nurani” ini punya segudang cerita. Ketika tugas di pedalaman Kalimantan dan mendapat undangan dari suku Dayak; “Psstt… itu adalah isyarat untuk ditarik sebagai calon mantu instan alias “paksaan”, tandanya adalah jika lilin yg ada tiba2 mati (nah loe…!) jadi musti hati2, jika tak berkenan tolaklah secara halus” ungkapnya, lagi2 dengan tersenyum penuh arti. Pernah juga selama tugas di daerah transmigrasi mandinya pake aqua galon karena air yg ada tak layak, hahaha…borju ya? Ujarnya sambil tergelak.
Pesannya untuk BPKP : Harus selalu siap berubah, lingkungan juga terus berubah! Jaga integritas, karena yg merusak BPKP ya kita2 juga. Artinya “Kalau mau ngakal yang masuk akal tapi jangan nakal…!! Untuk peningkatan kualitas di IPP, tidak ada lagi temuan yg baru disampaikan menjelang exit confirm alias nodong. Nah loe rekan2 di IPP hati2 lho ya… kalo gak pengen kena jewer Sang Komandan.
Untuk lebih lengkap mengenal sosok profil kita ini yok simak Apa Kata Mereka…?? (Red)
APA KATA MEREKA?
Cukup tegas, tidak egois, banyak toleransi kpd rekan & bawahannya, mudah mengerti keadaan
Pak Toto pindahan dari BPKP di luar jawa, orangnya dari luar mah kelihatannya baik, tapi gak tau ya… (gak kenal banget) soalnya gak pernah ngajak ngobrol siih…
Sosok pejabat yang ramah. Setiap kali bicara selalu diikuti dg senyum dan tawa, tapi dalam penugasan tetap tegas. Kalau tim di luar kota, sering berkunjung dan memberikan arahan atas masalah2 di lapangan. Semoga kesederhanaan dan kedekatannya dgn bawahan dapat tetap dipertahankan
Kalau ada yg tidak sesuai aturan, langsung meledak amarahnya. Tapi kalau sudah colling down, balik seperti semula…. Baiikk sekalee…

sumber: http://www.bpkp.go.id/index.php?idunit=29&idpage=2521

Posted by situraja, filed under Tokoh. Date: January 24, 2009, 11:22 pm | No Comments »

MATO REOG FESTIVAL 2008 : DARI SITURAJA UNTUK PELESTARIAN KESENIAN REOG SUNDA

Ada banyak hal menarik dari pelaksanaan “MATO Reog Festival 2008″ yang dilaksanakan di Alun-Alun Kecamatan Situraja Kabupaten Sumedang, 29 s.d. 30 Nopember 2008. Ketika pembukaan dimulai terlihat deretan motor klasik seperti B SA, Norton, BMW, DKW, AJS, Ariel, Thor, Matchless, Jawa, Villiers, Puch, dan motor klasik lainnya yang diparkir di Alun-Alun Situraja. Demikian pula nampak orang-orang yang mengenakan baju dan jaket kulit hitam,bercelana jeans dan beraksesoris khas para pengendara motor besar. Ya, jangan kaget, acara ini memang disponsori oleh komunitas pecinta motor klasik yaitu Bikers Brotherhood Mother Chapter Bandung, yang juga melibatkan pegiat seni Kecamatan Situraja yang tergabung dalam wadah Parikesit serta Paser Bandung.
Unik memang, para bikers ketika datang disambut dengan upacara adat dan tarian khas daerah Situraja yaitu Tarian Umbul. Menyatunya para bikers dengan atmosfer kesenian dan budaya lokal menegaskan bahwa mereka adalah komunitas yang peduli dan mencintai seni budaya daerah dan mampu berbaur dengan masyarakat kalangan manapun serta tidak kehilangan akar budayanya. “Support Your Local”, “Brotherhood for Indonesian Culture”, demikian diantaranya banner yang ditampilkan oleh Bikers Brotherhood MC, disamping banner lain yang berisi semangat nasionalisme. Sungguh suatu bentuk kepedulian yang mengagumkan.
Acara yang disambut antusias oleh warga Situraja ini dimaksudkan sebagai upaya untuk memelihara dan melestarikan kesenian daerah yang cukup populer di masyarakat Sumedang pada jamannya, yaitu kesenian reog.
Pada hari pertama ditampilkan juga seni helaran,tari merak dan jaipongan-tayuban, sedangkan pada hari kedua merupakan acara pokok berupa festival reog se-Kabupaten Sumedang.
MATO Reog Festival 2008, demikian tajuk perhelatan yang diusung penyelenggara. Nama MATO sendiri dilekatkan pada festival reog ini sebagai bentuk penghargaan terhadap grup reog MATO dari Kecamatan Situraja yang pernah berjaya pada era 70-an dan 80-an yang personilnya terdiri dari
Bapak Momo (Alm.), Bapak Aca, Bapak Tarip dan Bapak Obih (Alm.). Sebagai catatan, group seni reog MATO pernah dianugerahi penghargaan pada masa itu sebagai salah satu group reog yang menjuarai lomba seni reog tingkat Jawa Barat.
MATO Reog Festival 2008 bukan hanya upaya sesaat untuk mengenang kejayaan kesenian reog di Kabupaten Sumedang pada jaman dahulu kala saja, tetapi merupakan sebuah upaya nyata memelihara mata rantai seni budaya yang hidup di masyarakat Sumedang agar tetap eksis, bertahan, dan berkelanjutan. Karena itulah penyelenggara bertekad agar MATO Reog Festival ini dapat diselenggarakan secara rutin di tahun-tahun mendatang. Sebuah upaya yang harus didukung oleh semua pihak!

Posted by situraja, filed under Seni Budaya, Situraja's News, Terbaru. Date: November 29, 2008, 2:09 pm | No Comments »

Kini di Situraja telah hadir warung internet. Core Net itulah namanya. Sekilas kalau diucapkan namanya seperti jenis makanan daging olahan dalam kemasan kaleng, kornet. Sebagai bentuk strategi marketing, namanya dibuat familiar agar mudah diingat konsumen.
Situraja merupakan daerah remote/rural yang belum terjangkau jaringan existing radio/wirelless dari ISP seperti KampungCyber/Ipteknet Nusantara Sumedang dan kabel serat optik milik PT Telkom, maka jalan satu-satunya menghadirkan internet berkecepatan tinggi (broadband) adalah dengan teknologi VSAT/satelit. Karena itulah pengelola Core Net memilih jasa Indosat M2. Kalau Anda mampir ke Core Net di atapnya tampak piringan parabola khusus VSAT-IP KU Band yang menengadah ke angkasa sebagai alat uplink dan downlink sinyal dari satelit milik Indosat.
Akhirnya, masyarakat Situraja tak perlu pergi jauh-jauh ke Sumedang untuk mencari warung internet kecepatan tinggi. Cukup datang ke Core Net di Jalan Raya Situraja 151, tikungan Cipadung Situraja. Disini Anda dengan suasana lesehan dapat melakukan browsing, chatting, atau sekadar membuka dan mengirim email, cukup hanya dengan merogoh kocek Rp 5.000.-/jam.

Posted by situraja, filed under Terbaru. Date: November 12, 2008, 5:13 am | No Comments »

Banyak anak usia taman kanak-kanak di Situraja sudah bisa baca koran. Hal ini tidaklah terlalu mengherankan karena sudah sejak beberapa tahun yang lalu Raudhatul Athfal/TKA Plus At Taqwa Situraja membuktikanya.Dengan metode, kurikulum dan rasio guru/murid yang tepat RA/TKA Plus At Taqwa telah menghasilkan anak didik yang membanggakan para orang tuanya.Pintar membaca latin tingkat lanjut,menulis,berhitung,membaca Al Qur’an,menghapal doa-doa harian dan bacaan shalat,mengenal bahasa arab dan inggris,penuh kreatifitas,percaya diri,mandiri,dan sarat nilai moral islami,itulah profil lulusan RA/TKA Plus At Taqwa Situraja.
RA/TKA Plus At Taqwa merupakan salah satu garapan unggulan Yayasan Pendidikan Islam (YPI) At Taqwa pimpinan Bapak Amal Jamaludin S.Ag. Selain RA/TKA Plus, YPI At Taqwa juga menyelenggarakan:TKA/TPA/TQA, Remaja Masjid, Majelis Ta’lim, Koperasi Pesantren (Kopontren), Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), serta Pusat kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) berupa Paket B (setara SMP), Paket C (setara SMA), Kursus, dan Keaksaraan Fungsional (KF).
Sebagai salah satu lembaga pendidikan yang tumbuh dan mendapat kepercayaan yang tinggi dari masyarakat, YPI At Taqwa
merupakan salah satu aset dan kebanggaan masyarakat Situraja dalam membentuk sumber daya manusia berkualitas yang siap menghadapi tantangan masa depan global yang kompleks.
Kalau Anda menginginkan anak yang cerdas,pintar,unggul,sholeh dan berakhlak islami,maka sudah saatnya menyekolahkan anak di lembaga pendidikan islam terintegrasi seperti RA/TKA Plus At Taqwa.

Posted by situraja, filed under Pendidikan. Date: November 10, 2008, 3:18 am | No Comments »

Giliran Bibit Palawija Diinvasi Pasukan Kera

Rabu, 29 Oktober 08 - by : Iko
SITURAJA, PriOl- Serangan ribuan kera yang ada di sekitar hutan Desa Bangbayang Kec. Situraja terus berlanjut. Kali ini hewan primata tersebut bukan saja memakan tanaman masyarakat yang sudah matang atau berbuah siap panen, namun tanaman yang masih berupa bibit pun habis dijarah mereka.
Menurut Kepala Desa Bangbayang Umar, aksi pasukan kera yang kian ganas dan mengkhawatirkan itu sudah berjalan dua tahun terakhir. Pasukan kera kini menyerang bibit tanaman yang baru ditebar, seperti benih kacang tanah yang baru diaseuk (disemai). “Kondisinya terbalik. Kini para petani sepertinya hanya menunggu belas kasihan dari pasukan kera tersebut,” kata Umar.
Awalnya, menurut Umar, hanya mengganggu tanaman yang sudah berbuah yang mungkin saat ini mulai memasuki musim tanam dan di hutan masih paceklik (tidak ada makanan) sehingga para kera tersebut mengambil binih dalam tanah terus dimakan. “Sakadang monyet teh kalaparan meureun,” tambah Umar.
Ditambahkan Umar, kejadian tersebut membuat para petani seakarang frustasi dengan perilaku sang kera. Umar tidak bisa memastikan apakah para petani palawija yang ada di desanya mau lagi bercocok tanam palawija. Sementara perhatian dari pemkab Sumedang untuk mengatasi masalah ini belum ada. “Nya kahayang mah atuh dibantuan binih keur palawija da puguh unggal taun oge binih palawija teh beak dihakan monyet,” jelas Umar.

Priangan tanpa Batas, Fakta tanpa Batas, Priangan Maya Priangan Nyata
Rubrik : Lingkar Sumedang
http://berita.prianganonline.com
Versi Online : http://berita.prianganonline.com/?act=berita&aksi=lihat&id=1455

Posted by situraja, filed under Ekonomi, Pertanian. Date: October 29, 2008, 2:46 pm | No Comments »

Sisihkan Doktor Peneliti, Juarai Lomba Komite Sekolah Tingkat Jabar

Kamis, 24 Juli 08 - by : Iko
SUMEDANG, PriOl- Ketua Komite SMAN Situraja, Kab. Sumedang, Rahmat Surahmat menjuarai lomba kinerja komite sekolah tingkat Jawa Barat sehingga ia berhak atas hadiah umroh Gubernur Jawa Barat yang rencananya diberikan pada 5Agustus 2008 mendatang.
Rahmat yang hanya berpendidikan SMA, berhasil menyisihkan Ketua Komite SMAN Satu Bogor yang merupakan doktor peneliti di IPB dan Ketua Komite MAN Cirebon serta ketua komite salah satu SMAN di Karawang yang bergelar S2 pada lomba komite sekolah tingkat Jabar tersebut.
Menurut Rahmat yang menjadi penilaian lomba adalah kinerja komite dalam membantu pengadaan keuangan untuk penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Di tingkat SMA peran serta orang tua dan komite sangat besar dalam membantu biaya operasional sekolah sebab bantuan pemkab sangat minim.
“Kami harus mencari dana operasional pendidikan yang besarnya untuk tahun ini saja (2008/2009-Red) Rp 1 M. Berarti kami harus memberikan sosialisasi yang hebat kepada orang tua siswa agar mereka mengerti akan kebutuhan operasional sekolah,” jelas Rahmat yang sudah 15 tahun berkecimpung di Komite SMAN Situraja.
Dikatakannya, ia berkecimpung di dunia pendidikan tanpa honor dan tanpa imbalan. Rahmat mengaku melakukan hal itu karena merasa dendam. “Saya dendam pada keadaam karena tidak bisa sekolah ke perguruan tinggi dengan alasan ekonomi orang tua yang tidak memungkinkan saat itu,” jelasnya serayab menambahkan dengan dendam itulah Rahmat bercita-cita menyekolahkan anaknya agar menjadi sarjana.
Ketika anaknya bersekolah di SMAN Situraja, Rahmat terpilih menjadi anggota BP3 dan selang satu periode terpilih menjadi ketua. sampai BP3 berubah menjadi komite sekolah.
Ditambahkan Rahmat, beberapa waktu lalu ia sempat akan mengundurkan diri sebab sudah tidak memiliki anak yang bersekolah di SMAN Situraja, namun pihak sekolah keberatan.
“Tapi lamun Akang diijinan mundur ti komite, atuh ayeuna meureun moal bisa umroh,” jelasnya sambil tersenyum.
Rahmat mengaku ia pun sangat kritis kalau ada permintaan biaya dari pihak sekolah. Menurutnya setiap anggaran dalam RAPBS harus jelas penggunaannya, jangan sampai uang yang ditarik dari orang tua siswa hanya menjadi beban tanpa jelas penggunaannya.
Hingga sekarang, komite yang dipimpin Rahmat sudah berhasil membangun 11 ruang kelas berikut mebelernya. Jika dinilai dengan uang, 11 kelas dan mebelernya itu lebih dari Rp 1 miliar.

Priangan tanpa Batas, Fakta tanpa Batas, Priangan Maya Priangan Nyata
Rubrik : Lingkar Sumedang
http://berita.prianganonline.com
Versi Online : http://berita.prianganonline.com/?act=berita&aksi=lihat&id=1051

Posted by situraja, filed under Pendidikan. Date: July 25, 2008, 1:25 pm | No Comments »

Nama Landasan Udara Wiriadinata Tasikmalaya adalah nama orang Situraja

 

Landasan Udara Wiriadinata terletak di Kelurahan Setiajaya, Setianegara, dan Setiaratu di Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya.Landasan Udara Wiriadinata, dulu Lanud Tasikmalaya, pernah digunakan untuk penerbangan sipil tahun 1970-an oleh maskapai penerbangan Bouraq dengan rute Bandung-Tasikmalaya-Cilacap. Namun, usaha itu berhenti karena tingkat okupansi pesawat yang tidak memadai.  Saat ini Landasan Udara Wiriadinata berfungsi sebagai pangkalan udara TNI Angkatan Udara. Penggantian nama Lanud Tasikmalaya menjadi Lanud Wiriadinata ini berasal dari usulan Paguyuban Masyarakat Pasundan mengingat besarnya jasa Wiriadinata selama masa revolusi pembangunan TNI AU sejak 1946. Marsda (Pur) RHA Wiriadinata kelahiran 15 Agustus 1920 di Situraja, Sumedang itu pernah menjadi Panglima Komando Pasukan Gerak Cepat (PGT) dan Panglima Komando Gabungan Pendidikan Paratrop. Selain itu juga pernah menjadi Wakil Gubernur DKI, dan anggota Dewan Pertimbangan Agung.Sumber: http://www.angkasa-online.com/12/01/cakra/cakra1.htm dan http://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/23/Jabar/1767450.htm

Posted by situraja, filed under Tokoh. Date: December 19, 2007, 6:54 pm | No Comments »

PERAN BAITUL MAAL WAT TAMWIL (BMT) DALAM PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT MELALUI KEUANGAN MIKRO : Studi Kasus : Peran BMT Amanah, Kecamatan Situraja, Sumedang

Oleh : Drs. Agus Hermawan - (13/06/2002)

MUQODDIMAH

Dampak krisis ekonomi berkepanjangan yang melanda negeri Indonesia hampir dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Meskipun besar kecilnya dampak tersebut berlainan antar lapisan masyarakat.

Namun, bagi masyarakat di lapisan bawah, dampak yang paling dirasakan adalah menurunnya daya beli karena harga-harga kebutuhan pokok meningkat dari harga sebelum krisis terjadi. Bagi masyarakat pelaku ekonomi rakyat (baca : pengusaha mikro) yang bergerak dalam penyediaan kebutuhan pokok (bisnis retail) krisis ekonomi tidaklah menghancurkan usaha mereka, namun bagi pelaku yang bergerak dalam usaha di luar kebutuhan pokok, dampak krisis ekonomi lebih teras dengan merosotnya omzet mereka.

Di sisi lain, lembaga-lembaga keuangan yang bergerak dalam skala makro (perbankan nasional), hampir berjatuhan satu persatu diterpa angin krisis tersebut. Dalam skala yang lebih bawah dari itu, adalah mulai rontoknya Bank-Bank Perkreditan Rakyat Konvensional. Sementara Bank umum yang tidak menganut sistem bunga, semacam Bank Muamalat Indonesia (BMI), masih bisa berdiri tegar ditengah-tengah krisis tersebut. Dari segi ini, kita bisa mengajukan sebuah dugaan bahwa sistem pengelolaan keuangan yang terkait dengan sistem global, apabila menerapkan sistem syariah cenderung bisa bertahan ditengah-tengah krisis.

Menengok lembaga keuangan mikro, bahwa ia lebih bisa bertahan di tengah-tengah krisis faktor utamanya bukan karena ia berdasarkan syariah atau tidak, tetapi karena ia tidak berkaitan langsung dengan sistem global. Karena, LKM baik yang berlandaskan syariah, seperti BMT, ataupun konvensional (yang menerapkan sistem bungan) ada yang tumbuh berkembang di tengah-tengah krisis adapula krisis adapula yang gulung tikar.
Justru kunci ketangguhan LKM ditengah-tengah krisis adalah faktor manajemen saja. Siapa yang menerapkan manajemen yang baik, dialah yang akan survive.

PEMAHAMAN DASAR TENTANG BMT

BMT singkatan dari Baitul Maal wat Tamwil, namun ada juga yang menyebutnya sebagai Balai Usaha Mandiri dan Terpadu. Perbedaan penyebutan ini sebenarnya akan menimbulkan penafsiran yang berbeda tentang BMT di lapangan.

Dalam makalah ini, yang akan dipaparkan adalah BMT sebagai Baitul Maal wat Tamwil, yang visinya adalah pemberdayaan ekonomi rakyat melalui pola syariah.

Dari perkataan Baitul Maal wat Tamwil ini, maka BMT memiliki 2 visi/misi : yaitu visi/misi sosial yang diwujudkan melalui Baitul Maal, dan visi/misi bisnis yang diwujudkan melalui Baitut Tamwil. Dengan demikian strategi BMT dalam pemberdayaan ekonomi rakyat ini adalah dengan memadukan visi/misi sosial dan bisnis.

Dalam segi operasi, BMT tidak lebih dari sebuah koperasi, karena ia dimiliki oleh masyarakat yang menjadi anggotanya, menghimpun simpanan anggota dan menyalurkannya kembali kepada anggota melalui produk pembiayaan/kredit. Oleh karena itu, legalitas BMT pada saat ini yang paling cocok adalah berbadan hukum koperasi.

Baitul Maal-nya sebuah BMT, berupaya menghimpun dana dari anggota masyarakat yang berupa zakat, infak, dan shodaqoh (ZIS) dan disalurkan kembali kepada yang berhak menerimanya, ataupun dipinjamkan kepda anggota yang benar-benar membutuhkan melalui produk pembiayaan qordhul hasan (pinjaman kebijakan/bungan nol persen).

Sementara Baitut Tamwil, berupaya menghimpun dana masyarakat yang berupa : simpanan pokok, simpanan wajib, sukarela dan simpanan berjangka serta penyertaan pihak lain, yang sifatnya merupakan kewajiban BMT untuk mengembalikannya. Dana ini diputar secara produktif/bisnis kepada para anggota dengan menggunakan pola syariah.
Dalam pengembangan selanjutnya, BMT mengembangkan “triangle” yaitu, Baitul Maal, Baitut Tamwil, dan sektor riil BMT. Untuk yang ketiga ini, BMT mendirikan untuk mengoptimalkan dana masyarakat.

PERAN BMT AL-AMANAH SUMEDANG

Pendirian BMT Al-Amanah Sumedang, yang mulai dioperasikan tanggal 9 Januari 1995, berangkat dari keprihatinan pendiri yang melihat kondisi para pengusaha mikro yang sangat kesulitan mendapatkan modal usaha.

Lembaga-lembaga keuangan formal yang ada belum bisa mengakses mereka dengan alasan “tidak bankable”. Akibatnya, mereka masuk dalam perangkat para rentenir yang menawarkan sistem pinjaman yang mudah dan cepat meskipun berbunga tinggi (bisa mencapai 20% / bulan).

Dalam identifikasi masalah dan solusinya ditemukan bahwa mereka memiliki potensi dana yang cukup besar apabila mereka bisa kerjasama satu sama lain. Apabila dilihat dari masing-masing individu, mereka memang cukup kesulitan mendapatkan modal usaha. Logikanya, seorang pengusaha mikro yang memiliki uang tunai Rp 10.000.00 akan sangat sulit untuk bisa mengembangkan usahanya. Namun apabila ada 50 orang saja yang memiliki modal sebesar itu dan mereka bersatu padu dalam satu wadah kerjasama, akan terhimpun modal Rp 500.000,00. Modal bersama ini apabila diputar dengan sistem manajemen tertentu akan cukup memberdayakan mereka, paling tidak, persoalan modal bukan lagi kendala dalam mengembangkan usaha.

Masalahnya adalah, wadah apa yang paling tepat untuk menghimpun potensi tersebut, dan sistem bagaimana yang bisa diterapkan dengan hasil yang efektif ?

Terlihat pada diri mereka (pengusaha mikro), ada rasa senasib dan sepenanggungan (persamaan kebutuhan). Karena itu, mereka harus dihimpun dalam wadah dimana mereka bisa turut serta memiliki wadah tersebut. Lalu, fakta menunjukkan bahwa, mereka bisa turut serta memiliki persamaan dalam mendapatkan modal, dan perputaran dana yang cukup cepat (simpan dan tarik), serta habisnya modal apabila terjadi musibah di dalam keluarga mereka.
Pada proses pencarian sebuah pemberdayaan, munculah model Baitul Maal wat Tamwil (BMT) seperti yang telah dipaparkan diatas. Dengan keterampilan hasil pelatihan BMT yang diselenggarakan oleh Yayasan Dompet Dhuafa Republika Jakarta di Semarang dan modal awal Rp 1 satu juga, para pendiri BMT Al-Amanah mulai mengoperasikan BMT di tengah-tengah masyarakat yang masih asing dengan simbol-simbol ke-Islaman. Dari modal tersebut, hanya setengahnya yang kami gulirkan ke tengah-tengah pengusaha mikro, diantaranya pedagang kaki lima, gendongan dan para pedagang kecil di Pasar Situraja, Sumedang.

Karena modal awal yang sangat minim, perlu dilakukan strategi penghimpunan dan pengelolaan dana yang efektif. Strategi yang pertama adalah sistem jemput bola. Dengan sistem jemput bola ini, petugas langsung mendatangi anggota baik anggota penyimpan maupun peminjam. Strategi ke dua, perputaran uang harus secara harian atau paling lama mingguan.
Kedua sistem ini memiliki beberapa keuanggulan, diantaranya :

a. Pelayanan cepat
b. Setoran berlipat
c. Dana bermanfaat
d. Modal jadi kuat

Khususnya dalam penghimpunan dana, beberapa cara kami lakukan, diantaranya :

a. Produk simpanan harus menarik. Kami ciptakan produk SIMANIS (Simpanan Andalan Umat Islam) dan SIBERKAH (Simpanan Berjangka Barokah), dan unutk anggota yang memiliki cicilan kios ditawarkan produk SIMPATIK (Simpanan Titipan Iuran Kios).

b. Mendatangi majelis-majelis taklim, pondok-pondok pesantren, TPA dan TQA, dan sekolah-sekolah umum.

c. Setiap peminjam diwajibkan menyimpan dananya minimal 30% dari total pinjaman yang berfungsi sebagai pinjaman.

d. Setiapa jenis simpanan diberikan jasa bagi hasil setiap bulan, meskipun kebanyakan anggota penyimpan tidak mengharapkan jasa simpanan (kecuali SIBERKAH).

Jumlah anggota masyarakat yang menitipkan dananya ke BMT Al-Amanah, dari bulan ke bulan menunjukkan peningkatan, rata-rata setiap bulan anggota penyimpan bertambah 50 orang. Hingga Juli 2000 tercatat yang menjadi anggota BMT Al-Amanah sebanyak 4551 orang anggota.

Sementara untuk penyaluran dana, disalurkan untuk pembiayaan yang produktif. Sesuai dengan sistem jemput bola dan sistem harian, maka usaha yang kami biayai unutk tahap awal adalah usaha yang perputaran dananya harian, seperti pedagang.

Pendekatan yang dilakukan dalam penyaluran dana adalah kelayakan usaha anggota dan kepribadian anggota, tidak menekankan pendekatan jaminan. Hingga Juli 2000 tercatat jumlah anggota peminjam sebanyak 416 orang (jumlah yang mengajukan permohonan terus mengikat namun kami tetap menyalurkan secara hati-hati), dengan sisa pinjaman diluar hingga Juli 2000 sebesar Rp 628.018.508,00.

Dengan sistem jemput bola harian, dana yang masuk dari anggota bisa diputar beberapa kali dalam masa tempo pembiayaan untuk anggota yang lain. Sebagai gambaran, dengan cara ini tahun 1999 total pinjaman yang sudah diberikan adalah sebesar Rp 1.277.480.756,00, dengan rata-rata perbulan disalurkan sebesar Rp 106.000.000,00.
Sebagai gambaran dari strategi diatas, dikemukakan data perkembangan jumlah simpanan dan asset tahun 1995 – Juli 2000 :

SIMPANAN DAN ASET BMT AL-AMANAH, SUMEDANG

TAHUN SIMPANAN ASSET
1995 Rp 7.244.604 Rp 12.217.025
1996 Rp 54.073.467 Rp 68.109.645
1997 Rp 120.673.917 Rp 190.745.610
1998 Rp 238.432.552 Rp 296.751.250
1999 Rp 406.977.060 Rp 528.055.473
2000 (Juli) Rp 569.205.531 Rp 720.066.358

Meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada BMT Al-Amanah Sumedang, sebagai lembaga keuangan mikro, karena ada beberapa faktor :

a. Eksternal
Kondisi masyarakat setempat, dalam hal ini pengusaha mikro, yang amat membutuhkan pelayanan modal yang mudah, cepat dan bahkan tidak memberaatkan. Hadirnya BMT telah menjadi alternatif pilihan terbaik diantara lembaga-lembaga keuangan yang ada baik informal maupun non formal.

b. Internal
Ada tiga kunci utama dalam pengelolaan BMT Al-Amanah yang dipandang turut mempersukses pengelola dana masyarakat, yakni :

1) Rubul Jihad
Para pengelola harus memiliki semangat yang tinggi untuk benar-benar memperhatikan dan mempedulikan akan pemberdayaan ekonomi rakyat. Tidak sekedar omong belaka.

2) Amanah
Para pengelola harus memiliki watak jujur dan berakhlak baik di masyarakat. Sikap amanah dan mendorong masyarakat untuk berani menitipkan dananya di BMT.

3) Fathonah
Para pengelola harus bersikap “cerdas” atau professional. Bekerja harus berdasarkan manajemen yang baik, pembukuan yang rapi dan memenuhi standar pembukuan yang ditetapkan.

Prinsipnya, mengelola keuangan mikro tidak boleh asal-asalan, tidak merupakan pekerjaan sambilan, namun harus menunjukkan keseriusan dan kemauan untuk benar-benar memperjuangkanekonomi rakyat. Kalau tidak begitu, program pemberdayaan ekonomi rakyat melalui lembaga keuangan mikro hanya isapan jempol belaka.

Lebih dari itu, lembaga keuangan mikro, harus menunjukkan sebuah lembaga yang benar-benar bisa dilirik oleh semua lapisan, tidak berkesan kumuh. Sehingga masyarakat bawah tidak meras malu memiliki lembaga, dan masyarakat atas tidak merasa ragu menitipkn dananya.

KHOTIMAH

Mudah-mudahan makalah ini memiliki nilai tambah bagi peserta diskusi. Berberapa informasi tambahan akan disampaikan secara lisan untuk memperluas diskusi. Hanya kepada Allah SWT jua-lah, kita panjatkan doa agar diskusi ini menelorkan program yang lebih baik di dalam pemberdayaan ekonomi rakyat. Amin.

Disampaikan pada Seminar dan Lokakarya Keuangan Mikro, Bandung 7- 8 September 2000

sumber: http://www.gema-pkm.org/cgi-bin/gema.pl?p=001&id=15

Posted by situraja, filed under Ekonomi. Date: December 19, 2007, 5:12 pm | No Comments »

Kang Yaya

JAKARTA, Netsains - Temulawak disulap menjadi ginsengnya Indonesia? Keajaiban sains bisa saja melakukannya. Itulah yang tengah ditekuni oleh Dr.Yaya Rukayadi. Demi mewujudkan impiannya itu, Kang Yaya, demikian ia akrab disapa, memboyong temulawak ke Yonsei University, Seoul, Korea Selatan, untuk diteliti. Di sana lelaki kelahiran Sumedang 17 Agustus 1964 ini tercatat sebagai pengajar dan peneliti senior. Mengapa Kang Yaya yang hobi menulis cerpen berbahasa Sunda ini tertarik dengan temulawak? Yuk ikuti obrolan santai dengan Kang Yaya yang suka ngabodor alias melawak ini dengan Netsains.

Netsains (NS): Jika temulawak sukses menjadi andalan nasional, maka hak patennya dimiliki siapa ya Pak? Bapak sebagai penelitinya atau milik bersama dengan peneliti luar yang ikut terlibat?

Yaya Rukayadi (YR): Aduh kalau berbicara tentang paten, kita mesti ngerti dulu tentang paten itu ya, kan paten itu ada yang nasional dan ada yang internasional. Kami tidak mempatenkan temulawak di Korea karena temulawak kan milik umum , yakni Indonesia. Adapun senyawa bioaktif yang kami temukan juga sudah tidak bisa dipatenkan, karena ternyata senyawa itu sudah ditemukan oleh orang Jepang tahun 1970-an. Jadi yang kita patenkan adalah kegunaan dari senyawa bioaktif itu, itupun baru sebatas negeri Korea, bukan dunia, bukan internasional. Jadi jika ada orang Indonesia mau menggunakan senyawa aktif itu, silakan saja kami telah sepakat untuk membebaskannya. Sejauh ini patennya ditulis atas nama saya dan segenap rekan saya disini terutama bos saya. Tapi sekali lagi paten yang kami buat hanya berlaku di Korea, tidak menyangkut Indonesia, jadi jangan takut so far temulawak masih milik Indonesia. Banyak orang bicara paten, tapi sebenarnya orang tak tahu apa itu hakekat paten, itu sangat disayangkan, mestinya kalau belum mengerti ya belajar dulu apa itu paten, jangan terus ngomong paten tapi sebenarnya tidak tahu.

NS: Kenapa bapak tertarik dengan temulawak?

YR: Wah, jawabannya bisa banyak ya, diantaranya begini, di Situraja Sumedang, kampung halaman saya, tiap pagi ada orang jualan dodol koneng gede, koneng gede itu adalah bahasa Sunda-nya dari temulawak ya. Saya sangat menyukai dodol itu, enak sekali, apalagi kalau kelapanya banyak, sewaktu saya kecil, sewaktu saya tinggal di Situraja Sumedang ya sarapan pagi saya itu adalah dodol temulawak atau dodol koneng gede itu, nih saya kasih gambarnya dodol temulawak itu ya. Karena saya suka dodol koneng gede itu, jadi saya sangat tertarik dengan temulawak. Sampai sekarang saya kalau pulang ke Situraja selalu mencari dodol temulawak dan mencari tepungnya untuk dibawa ke Korea sehingga saya bisa membuat dodol temulawak di Indonesia.

Alasan yang ilmiahnya, ternyata setelah diteliti, ya kandungan senyawa bioaktif pada koneng gede atau temulawak itu ternyata banyak sekali ya, apalagi salah satu senyawa bioaktif yang saya kerjakan sekarang ini boleh dikatakan sebagai “angle compound, satu senyawa tapi punya banyak kegunaan, antikankernya ada, antibakterialnya ada, antifungalnya ada, hepatoprotektifnya ada, dan banyak lagi yang lainnya. Selain itu kan temulawak sudah banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk berbagai keperluan. Temulawak juga kan edible ya, bisa dimakan, jadi bisa sebagai makanan, minuman, sekaligus bisa jadi obat kan.

NS: Kira-kira berapa lama lagi studi bapak sukses dan bisa komersil?

YR: Lho kan salah satu angle compound yang kami isolasi dari temulawak sudah dimasukan ke odol produksi LG Korea, ini sudah lama beredar di pasaran Korea, makanya kami mendatangkan temulawak dari Indonesia yang notabene tanaman asli Indonesia. Sebentar lagi kan produk-produk lain seperti yogurt yang mengandung temulawak, permen dan lain sebagainya akan beredar di pasaran Korea. Kalau ditanya sampai kapan saya meneliti temulawak, maunya sih selamanya, kan penelitian itu tidak pernah selesai, masih banyak aspek yang belum diketahui, ginseng saja yang sudah leading masih tetep diteliti sampai sekarang, apalagi temulawak.

NS: Di Korea menjadi warga kehormatan karena apa Kang? Dan apa privilege-nya? hehehe..

YR: Saya menjadi warga kehormatan Korea, bukan karena risetnya, karena di Korea periset handal banyak sekali, dan kalau tidak salah penghargaan itu hanya diberikan kepada mereka yang melakukan significant terhadap kota Seoul khususnya dan Korea umumnya di bidang keagamaan, sosial budaya dan olah raga. Saya selain sebagai peneliti saya juga sudah hamper 6 tahun menjadi penyiar di KBS (Korean Broadcasting System) World Radio pada acara “Ajang Jumpa Kita” subprogram “Nafas Kehidupan Korea”, sebuah program diperuntukan bagi mereka yang menggunakan bahasa Malay-Indonesia.

KBS World Radio itu semacam RRI-Indonesia, yang hebatnya program itu disirkan dalam 11 bahasa di dunia, dan salah satunya Indonesia. “Nafas Kehidupan Korea” adalah sebuah program mingguan yang memperkenalkan tentang keseharian kehidupan orang Korea serta sejumlah tempat wisata, belanja, dan acara-acara menarik lainnya di Korea (http://world.kbs.co.kr). Menurut riset bahwa program saya itu secara nyata menaikan popularitas Korea, untuk itu saya dianugerahi Honorary Citizenship, dengan berbagai hak dan kewajibannya. Kewajiban khususnya ya tidak ada ya, cuman saya banyak mendapatkan keuntungan diantaranya saya bebas masuk objek wisata di Seoul, diundang keberbagai acara resmi, nanti kalau sudah tua diatas 65 tahun saya punya hak seperti orang Korea, dan lain sebagainya (http://english.seoul.go.kr/today/news/city/1244459_3326.html).

NS: .Kapan mau kembali ke Indonesia Kang?

YR: Kapan mau kembali ke Indonesia? Hampir tiap 3 bulan saya bolak-balik ke Indonesia untuk berbagai urusan terutama riset. Kalau menetap kembali di Indonesia kapan ya? Maunya punya lab dan kebun koleksi tanaman obat sendiri, sehingga bisa mengembangkan apa yang ada dalam pikiran ini. Tapi untuk membangun itu, tentu saja perlu uang, nah tabungan saya masih belum cukup untuk itu. Sementara ini belum ada rencana kembali dan menetap di Indonesia, tapi kan manusia hanya berencana, Allah yang menentukan, jadi kalau tiba-tiba Kang Yaya berada di Indonesia, itu suatu perjalanan skenario hidup yang harus dijalani, yang penting “try to do my best” dimana saja berada.

NS: Selain temulawak, ada tanaman lain yang sedang bapak teliti?

YR:Banyak ya khususnya tanaman obat Indonesia, bahkan sekarang kami sudah mengembangkan sayap ke tanaman obat Thailand, yang sedang saya fokuskan saat ini adalah temu kunci, pala, dan vanilla.

NS: Banyak spesies tanaman Indonesia yang belum tergali manfaatnya, justru sebagian patennya sudah dimiliki asing, bagaimana komentar bapak tentang itu?

YR: Ini tantangan bagi kita bangsa Indonesia, dan perlu kerja keras serat kerjasama antar instasi yang kokoh dan solid. Kita harus segera melakukan riset tentang barang kita, lalu publikasikan secara internasional bahwa kita juga sedang mengerjakannya. Tanpa publikasi internasional mana bisa kita dikenal orang dan mana bisa orang tahu bahwa sedang bekerja dengan tanaman tertentu.

Saya yakin lembaga riset Indonesia yang terkait sedang melakukan penelitian temulawak misalnya, tapi mana buktinya? Publikasi internasional itulah bukti nyata, tapi mana dari Indonesia, ada sih tapi jumlahnya sangat minim. Tapi di lab tempat saya bekerja, publikasi ilmiah temulawak bertarap internasional sudah sangat banyak, sehingga orang tahu bahwa di lab kita sedang berlangsung penelitian temulawak. Terus terang saya harus mengatakan bahwa ilmuan Indonesia masih minim melakukan publikasi internasional, sangat-sangat kurang, sayapun mungkin kalau tinggal di Indonesia belum tentu punya banyak publikasi internasional mengingat kondisi yang tidak saling mendukung.

Tentang paten sudah saya singgung diatas kan, tapi yang jelas kalau kita mengajukan paten misalnya di Korea, semuanya sudah jelas, sudah “puguh” jalur dan tahapan serta “guide line”- nya itu, dan sudah disosialisasikan pada masyarakat dengan akses yang sangat mudah. Tidak bertele-tele dan biayanya sudah jelas misalnya 300 dollar per paten, dan dalam jangka waktu setelat-telatnya 3 bulan pasti sudah ada putusan, sudah jelas nasib paten yang kita usulkan itu. Nah bagaimana di Indonesia hal ini apakah sudah segalanya jelas dan mudah? Saya tidak tahu. Kalau orang Indonesia ingin punya banyak paten ya lembaga yang mengurus patennya juga harus dibereskan supaya kerjanya jelas, efisien dan mudah. Di Korea juga ahli-ahli hukum khusus bidang paten (patent lawyer) sudah sangat banyak, bagaimana di Indonesia? Saya tidak tahu.

NS: Apakah bapak optimis dengan kondisi perkembangan sains di Indonesia?

YR: Optimis? Wah kalau bicara optimal pasti ada kondisi yang harus dicapai ya. Misalnya suatu enzim akan memberikan aktivitas optimum asalkan suhunya sekian, pH-nya sekian dengan waktu inkubasi sekian. Nah riset juga gitu, kalau kondisinya dirubah kearah yang kondusif saya yakin bisa, bahkan bisa lebih hebat toh Indonesia punya banyak scientist yang handal. Bukan saja sarana dan prasarana risetnya yang mesti dikondisikan juga hal-hal lainnya, misalnya kenaikan pangkat.

Ini dulu ya saat saya masih di Indonesia, koq banyak sekali orang menjadi professor tanpa publikasi internasional, ini kan aneh, atau banyak sekali orang yang menjadi APU (ahli peneliti utama) tanpa satupun publikasi internasional, heran kan? Karena memang tak disyaratkan barang kali ya? Tapi coba kalau disyaratkan minimal mesti punya 3 publikasi internasional pasti para peneliti dan dosen itu akan berlomba untuk publikasi internasional. Di Korea, kualitas dosen dan peneliti itu ditentukan oleh berapa banyak dan nilai publikasi internasional.

Yang lebih menyedihkan ada beberapa orang yang bekerja sudah cukup lama di lembaga riset Negara yang terkenal, tapi tidak mengerti apa itu impact factor (IF), padahal pangkat dia naik terus, bagaimana ini ? Masa seorang peneliti tidak mengerti IF sebuah jurnal internasional, salah satunya karena yang bersangkutan tidak pernah publikasi internasional yang ujung-ujungnya karena untuk kenaikan pangkat tak ditentukan dengan publikasi internasional, sedih dan prihatin kan kalau seorang peneliti negeri tidak mengerti apa yang harusnya dimengerti! [netsains.com. Merry Magdalena]

Sumber: http://www.pii.or.id/index.php?id=90

Posted by guns, filed under Tokoh. Date: December 18, 2007, 7:49 am | No Comments »

« Previous Entries