PROFIL BULAN INI
PERWAKILAN BPKP PROVINSI JAWA BARAT
Ekspresinya datar saja ketika tim redaksi Mading
mengajaknya berbagi cerita di teriknya siang,
namun sesaat kemudian senyumnya selalu
terkulum di sepanjang perbincangan. Bahkan
matanya tak henti berkedip ketika berkisah
tentang pengalaman2 hidupnya yang cukup
berwarna. Sesekali tangannya mengusap wajah,
namun yaitu tadi senyumnya selalu mengembang.
Hmm… so cool…!
Terlahir di Situraja 51 tahun yang lalu, persisnya
tanggal 14 Agustus 1957 dengan nama
Drs. Toto Suparman
kini sebagai Komandan/Kabid IPP Jabar.
Putra Sumedang tulen jebolan Unpad yang mengaku ‘mateng’ di kampus dari th 1975 sd th 1984(weleh2 betah amat ya, ngapain aja di kampus pak…?), begitu mengidolakan Buya Hamka karena cara berpikirnya yang cerdas, jelas, simple dan aplikatif serta seimbang pula antara urusan dunia dengan akhiratnya. Nama Ali Sadikin juga sempat disebut…’Namun saya sedikit kecewa dengan Bang Ali karena sebagai orang sunda (Sumedang) tidak membesarkan daerah asalnya…!’, tegasnya serius. Tapi masih ada salutnya juga sih, beliau orangnya tegas, bijak dan berani. Lihat saja Jakarta di masa itu…!
“Saya hampir down ketika ayah meninggal, namun melalui dzikir panjang alhamdulillah bisa bangkit kembali”, tuturnya sembari menerawang. Ayahanda dari 3 orang putra putri yang beranjak dewasa (Dery Mustika, Andreansyah dan Sheila Lingga) buah perkawinannya dengan Tintin Kartini (alm) yang juga telah berpulang menghadap Sang Khalik pada Juli 2007, menegaskan bahwa ‘Kehilangan memang sakit namun hidup harus tetap dijalani… jika kita tatap dengan rumit maka akan rumit, maka yakinlah Allah SWT akan memberikan yang terbaik’ ujarnya panjang lebar. Dengan optimisme tersebut dan seiring berjalannya waktu, kini telah hadir pengganti tambatan hati, sang mojang Sumedang Ida Rosyida, yang masih terhitung kerabat mengisi penuh hari2nya di Jl Pelesiran No 82/56 Tamansari Bandung. Keceriaan kembali merona dan binar kebahagiaan pasangan ini rupanya kerap mengaliri orang2 di sekitarnya sehingga banyak yang termehek-mehek dibuatnya…! Hehe… maklum dong ah namanya juga temanten baru.
Awal kariernya dimulai ketika masih berstatus mahasiswa, magang di perusahaan kontraktor dari th 1978 sd 1984 (pantes atuh kuliahnya gak kelar2…!) kemudian hijrah ke BPKP dan muter2 mulai dari Kalbar, Jabar, Sumsel, Sulteng eh balik ke Jabar lagi sampai sekarang.
Bungsu dari 3 bersaudara yg suka tiba2 alergi kalau disuruh nyanyi ini (psst… anehnya seneng banget Ketuk Tilu lho…!) lagi2 berfilsafat bahwa “Hidup adalah tantangan dan perlu kenekatan, probabilitynya sama antara berhasil atau gagal so hadapi segala sesuatu dengan optimis karena pasti ada solusinya, tatap masa depan dengan enjoy”, serunya cepat. Wuaduh…!
Penggemar tutug opak dan tutug oncom yang mengaku emosional dan tidak sabaran sebagai salah satu kelemahan dirinya, “tapi saya bukan tipe pendendam lho…” tambahnya buru-buru, Saya akan marah jika seseorang keluar dari koridornya, tapi dalam menyikapi suatu kebijakan terpaksa harus manut walau sebenarnya tak sesuai dengan hati nurani” ini punya segudang cerita. Ketika tugas di pedalaman Kalimantan dan mendapat undangan dari suku Dayak; “Psstt… itu adalah isyarat untuk ditarik sebagai calon mantu instan alias “paksaan”, tandanya adalah jika lilin yg ada tiba2 mati (nah loe…!) jadi musti hati2, jika tak berkenan tolaklah secara halus” ungkapnya, lagi2 dengan tersenyum penuh arti. Pernah juga selama tugas di daerah transmigrasi mandinya pake aqua galon karena air yg ada tak layak, hahaha…borju ya? Ujarnya sambil tergelak.
Pesannya untuk BPKP : Harus selalu siap berubah, lingkungan juga terus berubah! Jaga integritas, karena yg merusak BPKP ya kita2 juga. Artinya “Kalau mau ngakal yang masuk akal tapi jangan nakal…!! Untuk peningkatan kualitas di IPP, tidak ada lagi temuan yg baru disampaikan menjelang exit confirm alias nodong. Nah loe rekan2 di IPP hati2 lho ya… kalo gak pengen kena jewer Sang Komandan.
Untuk lebih lengkap mengenal sosok profil kita ini yok simak Apa Kata Mereka…?? (Red)
APA KATA MEREKA?
Cukup tegas, tidak egois, banyak toleransi kpd rekan & bawahannya, mudah mengerti keadaan
Pak Toto pindahan dari BPKP di luar jawa, orangnya dari luar mah kelihatannya baik, tapi gak tau ya… (gak kenal banget) soalnya gak pernah ngajak ngobrol siih…
Sosok pejabat yang ramah. Setiap kali bicara selalu diikuti dg senyum dan tawa, tapi dalam penugasan tetap tegas. Kalau tim di luar kota, sering berkunjung dan memberikan arahan atas masalah2 di lapangan. Semoga kesederhanaan dan kedekatannya dgn bawahan dapat tetap dipertahankan
Kalau ada yg tidak sesuai aturan, langsung meledak amarahnya. Tapi kalau sudah colling down, balik seperti semula…. Baiikk sekalee…

sumber: http://www.bpkp.go.id/index.php?idunit=29&idpage=2521

Posted by situraja, filed under Tokoh. Date: January 24, 2009, 11:22 pm | No Comments »

Nama Landasan Udara Wiriadinata Tasikmalaya adalah nama orang Situraja

 

Landasan Udara Wiriadinata terletak di Kelurahan Setiajaya, Setianegara, dan Setiaratu di Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya.Landasan Udara Wiriadinata, dulu Lanud Tasikmalaya, pernah digunakan untuk penerbangan sipil tahun 1970-an oleh maskapai penerbangan Bouraq dengan rute Bandung-Tasikmalaya-Cilacap. Namun, usaha itu berhenti karena tingkat okupansi pesawat yang tidak memadai.  Saat ini Landasan Udara Wiriadinata berfungsi sebagai pangkalan udara TNI Angkatan Udara. Penggantian nama Lanud Tasikmalaya menjadi Lanud Wiriadinata ini berasal dari usulan Paguyuban Masyarakat Pasundan mengingat besarnya jasa Wiriadinata selama masa revolusi pembangunan TNI AU sejak 1946. Marsda (Pur) RHA Wiriadinata kelahiran 15 Agustus 1920 di Situraja, Sumedang itu pernah menjadi Panglima Komando Pasukan Gerak Cepat (PGT) dan Panglima Komando Gabungan Pendidikan Paratrop. Selain itu juga pernah menjadi Wakil Gubernur DKI, dan anggota Dewan Pertimbangan Agung.Sumber: http://www.angkasa-online.com/12/01/cakra/cakra1.htm dan http://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/23/Jabar/1767450.htm

Posted by situraja, filed under Tokoh. Date: December 19, 2007, 6:54 pm | No Comments »

Kang Yaya

JAKARTA, Netsains - Temulawak disulap menjadi ginsengnya Indonesia? Keajaiban sains bisa saja melakukannya. Itulah yang tengah ditekuni oleh Dr.Yaya Rukayadi. Demi mewujudkan impiannya itu, Kang Yaya, demikian ia akrab disapa, memboyong temulawak ke Yonsei University, Seoul, Korea Selatan, untuk diteliti. Di sana lelaki kelahiran Sumedang 17 Agustus 1964 ini tercatat sebagai pengajar dan peneliti senior. Mengapa Kang Yaya yang hobi menulis cerpen berbahasa Sunda ini tertarik dengan temulawak? Yuk ikuti obrolan santai dengan Kang Yaya yang suka ngabodor alias melawak ini dengan Netsains.

Netsains (NS): Jika temulawak sukses menjadi andalan nasional, maka hak patennya dimiliki siapa ya Pak? Bapak sebagai penelitinya atau milik bersama dengan peneliti luar yang ikut terlibat?

Yaya Rukayadi (YR): Aduh kalau berbicara tentang paten, kita mesti ngerti dulu tentang paten itu ya, kan paten itu ada yang nasional dan ada yang internasional. Kami tidak mempatenkan temulawak di Korea karena temulawak kan milik umum , yakni Indonesia. Adapun senyawa bioaktif yang kami temukan juga sudah tidak bisa dipatenkan, karena ternyata senyawa itu sudah ditemukan oleh orang Jepang tahun 1970-an. Jadi yang kita patenkan adalah kegunaan dari senyawa bioaktif itu, itupun baru sebatas negeri Korea, bukan dunia, bukan internasional. Jadi jika ada orang Indonesia mau menggunakan senyawa aktif itu, silakan saja kami telah sepakat untuk membebaskannya. Sejauh ini patennya ditulis atas nama saya dan segenap rekan saya disini terutama bos saya. Tapi sekali lagi paten yang kami buat hanya berlaku di Korea, tidak menyangkut Indonesia, jadi jangan takut so far temulawak masih milik Indonesia. Banyak orang bicara paten, tapi sebenarnya orang tak tahu apa itu hakekat paten, itu sangat disayangkan, mestinya kalau belum mengerti ya belajar dulu apa itu paten, jangan terus ngomong paten tapi sebenarnya tidak tahu.

NS: Kenapa bapak tertarik dengan temulawak?

YR: Wah, jawabannya bisa banyak ya, diantaranya begini, di Situraja Sumedang, kampung halaman saya, tiap pagi ada orang jualan dodol koneng gede, koneng gede itu adalah bahasa Sunda-nya dari temulawak ya. Saya sangat menyukai dodol itu, enak sekali, apalagi kalau kelapanya banyak, sewaktu saya kecil, sewaktu saya tinggal di Situraja Sumedang ya sarapan pagi saya itu adalah dodol temulawak atau dodol koneng gede itu, nih saya kasih gambarnya dodol temulawak itu ya. Karena saya suka dodol koneng gede itu, jadi saya sangat tertarik dengan temulawak. Sampai sekarang saya kalau pulang ke Situraja selalu mencari dodol temulawak dan mencari tepungnya untuk dibawa ke Korea sehingga saya bisa membuat dodol temulawak di Indonesia.

Alasan yang ilmiahnya, ternyata setelah diteliti, ya kandungan senyawa bioaktif pada koneng gede atau temulawak itu ternyata banyak sekali ya, apalagi salah satu senyawa bioaktif yang saya kerjakan sekarang ini boleh dikatakan sebagai “angle compound, satu senyawa tapi punya banyak kegunaan, antikankernya ada, antibakterialnya ada, antifungalnya ada, hepatoprotektifnya ada, dan banyak lagi yang lainnya. Selain itu kan temulawak sudah banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk berbagai keperluan. Temulawak juga kan edible ya, bisa dimakan, jadi bisa sebagai makanan, minuman, sekaligus bisa jadi obat kan.

NS: Kira-kira berapa lama lagi studi bapak sukses dan bisa komersil?

YR: Lho kan salah satu angle compound yang kami isolasi dari temulawak sudah dimasukan ke odol produksi LG Korea, ini sudah lama beredar di pasaran Korea, makanya kami mendatangkan temulawak dari Indonesia yang notabene tanaman asli Indonesia. Sebentar lagi kan produk-produk lain seperti yogurt yang mengandung temulawak, permen dan lain sebagainya akan beredar di pasaran Korea. Kalau ditanya sampai kapan saya meneliti temulawak, maunya sih selamanya, kan penelitian itu tidak pernah selesai, masih banyak aspek yang belum diketahui, ginseng saja yang sudah leading masih tetep diteliti sampai sekarang, apalagi temulawak.

NS: Di Korea menjadi warga kehormatan karena apa Kang? Dan apa privilege-nya? hehehe..

YR: Saya menjadi warga kehormatan Korea, bukan karena risetnya, karena di Korea periset handal banyak sekali, dan kalau tidak salah penghargaan itu hanya diberikan kepada mereka yang melakukan significant terhadap kota Seoul khususnya dan Korea umumnya di bidang keagamaan, sosial budaya dan olah raga. Saya selain sebagai peneliti saya juga sudah hamper 6 tahun menjadi penyiar di KBS (Korean Broadcasting System) World Radio pada acara “Ajang Jumpa Kita” subprogram “Nafas Kehidupan Korea”, sebuah program diperuntukan bagi mereka yang menggunakan bahasa Malay-Indonesia.

KBS World Radio itu semacam RRI-Indonesia, yang hebatnya program itu disirkan dalam 11 bahasa di dunia, dan salah satunya Indonesia. “Nafas Kehidupan Korea” adalah sebuah program mingguan yang memperkenalkan tentang keseharian kehidupan orang Korea serta sejumlah tempat wisata, belanja, dan acara-acara menarik lainnya di Korea (http://world.kbs.co.kr). Menurut riset bahwa program saya itu secara nyata menaikan popularitas Korea, untuk itu saya dianugerahi Honorary Citizenship, dengan berbagai hak dan kewajibannya. Kewajiban khususnya ya tidak ada ya, cuman saya banyak mendapatkan keuntungan diantaranya saya bebas masuk objek wisata di Seoul, diundang keberbagai acara resmi, nanti kalau sudah tua diatas 65 tahun saya punya hak seperti orang Korea, dan lain sebagainya (http://english.seoul.go.kr/today/news/city/1244459_3326.html).

NS: .Kapan mau kembali ke Indonesia Kang?

YR: Kapan mau kembali ke Indonesia? Hampir tiap 3 bulan saya bolak-balik ke Indonesia untuk berbagai urusan terutama riset. Kalau menetap kembali di Indonesia kapan ya? Maunya punya lab dan kebun koleksi tanaman obat sendiri, sehingga bisa mengembangkan apa yang ada dalam pikiran ini. Tapi untuk membangun itu, tentu saja perlu uang, nah tabungan saya masih belum cukup untuk itu. Sementara ini belum ada rencana kembali dan menetap di Indonesia, tapi kan manusia hanya berencana, Allah yang menentukan, jadi kalau tiba-tiba Kang Yaya berada di Indonesia, itu suatu perjalanan skenario hidup yang harus dijalani, yang penting “try to do my best” dimana saja berada.

NS: Selain temulawak, ada tanaman lain yang sedang bapak teliti?

YR:Banyak ya khususnya tanaman obat Indonesia, bahkan sekarang kami sudah mengembangkan sayap ke tanaman obat Thailand, yang sedang saya fokuskan saat ini adalah temu kunci, pala, dan vanilla.

NS: Banyak spesies tanaman Indonesia yang belum tergali manfaatnya, justru sebagian patennya sudah dimiliki asing, bagaimana komentar bapak tentang itu?

YR: Ini tantangan bagi kita bangsa Indonesia, dan perlu kerja keras serat kerjasama antar instasi yang kokoh dan solid. Kita harus segera melakukan riset tentang barang kita, lalu publikasikan secara internasional bahwa kita juga sedang mengerjakannya. Tanpa publikasi internasional mana bisa kita dikenal orang dan mana bisa orang tahu bahwa sedang bekerja dengan tanaman tertentu.

Saya yakin lembaga riset Indonesia yang terkait sedang melakukan penelitian temulawak misalnya, tapi mana buktinya? Publikasi internasional itulah bukti nyata, tapi mana dari Indonesia, ada sih tapi jumlahnya sangat minim. Tapi di lab tempat saya bekerja, publikasi ilmiah temulawak bertarap internasional sudah sangat banyak, sehingga orang tahu bahwa di lab kita sedang berlangsung penelitian temulawak. Terus terang saya harus mengatakan bahwa ilmuan Indonesia masih minim melakukan publikasi internasional, sangat-sangat kurang, sayapun mungkin kalau tinggal di Indonesia belum tentu punya banyak publikasi internasional mengingat kondisi yang tidak saling mendukung.

Tentang paten sudah saya singgung diatas kan, tapi yang jelas kalau kita mengajukan paten misalnya di Korea, semuanya sudah jelas, sudah “puguh” jalur dan tahapan serta “guide line”- nya itu, dan sudah disosialisasikan pada masyarakat dengan akses yang sangat mudah. Tidak bertele-tele dan biayanya sudah jelas misalnya 300 dollar per paten, dan dalam jangka waktu setelat-telatnya 3 bulan pasti sudah ada putusan, sudah jelas nasib paten yang kita usulkan itu. Nah bagaimana di Indonesia hal ini apakah sudah segalanya jelas dan mudah? Saya tidak tahu. Kalau orang Indonesia ingin punya banyak paten ya lembaga yang mengurus patennya juga harus dibereskan supaya kerjanya jelas, efisien dan mudah. Di Korea juga ahli-ahli hukum khusus bidang paten (patent lawyer) sudah sangat banyak, bagaimana di Indonesia? Saya tidak tahu.

NS: Apakah bapak optimis dengan kondisi perkembangan sains di Indonesia?

YR: Optimis? Wah kalau bicara optimal pasti ada kondisi yang harus dicapai ya. Misalnya suatu enzim akan memberikan aktivitas optimum asalkan suhunya sekian, pH-nya sekian dengan waktu inkubasi sekian. Nah riset juga gitu, kalau kondisinya dirubah kearah yang kondusif saya yakin bisa, bahkan bisa lebih hebat toh Indonesia punya banyak scientist yang handal. Bukan saja sarana dan prasarana risetnya yang mesti dikondisikan juga hal-hal lainnya, misalnya kenaikan pangkat.

Ini dulu ya saat saya masih di Indonesia, koq banyak sekali orang menjadi professor tanpa publikasi internasional, ini kan aneh, atau banyak sekali orang yang menjadi APU (ahli peneliti utama) tanpa satupun publikasi internasional, heran kan? Karena memang tak disyaratkan barang kali ya? Tapi coba kalau disyaratkan minimal mesti punya 3 publikasi internasional pasti para peneliti dan dosen itu akan berlomba untuk publikasi internasional. Di Korea, kualitas dosen dan peneliti itu ditentukan oleh berapa banyak dan nilai publikasi internasional.

Yang lebih menyedihkan ada beberapa orang yang bekerja sudah cukup lama di lembaga riset Negara yang terkenal, tapi tidak mengerti apa itu impact factor (IF), padahal pangkat dia naik terus, bagaimana ini ? Masa seorang peneliti tidak mengerti IF sebuah jurnal internasional, salah satunya karena yang bersangkutan tidak pernah publikasi internasional yang ujung-ujungnya karena untuk kenaikan pangkat tak ditentukan dengan publikasi internasional, sedih dan prihatin kan kalau seorang peneliti negeri tidak mengerti apa yang harusnya dimengerti! [netsains.com. Merry Magdalena]

Sumber: http://www.pii.or.id/index.php?id=90

Posted by guns, filed under Tokoh. Date: December 18, 2007, 7:49 am | No Comments »

Bungsu Bandung dari Sinden ke Musik Pop Sunda

Nyeri, nyeri, nyeri moal beunang diubaran
Kajeun tutumpukan paeh ge teu panasaran
Meungpeung ngora keneh
Meungpeung urang can rimbitan
Pek geura serahkeun
Talak tilu sakalian

ANDA kenal lirik di atas? Tentu mengingatkan kita pada penyanyinya, Bungsu Bandung! Vokal dan gayanya selalu khas dalam setiap penampilannya di atas panggung, layaknya seorang sinden, anggun berkebaya dan sesekali lemah gemulai bergoyang jaipong. Itulah Hj. Mimi Setiawati atau lebih populer dengan nama Bungsu Bandung yang melejitkan tembang khas Sunda “Talak Tilu” dan “Mobil Butut”.

Lahir di lingkungan keluarga sinden dari Desa Mekarmulya Situraja, Sumedang. Wanita kelahiran 5 November 1962 ini merupakan anak bungsu dari lima bersaudara yang semuanya berprofesi sinden.

Nama Bungsu Bandung didapatnya setelah ia menikah dan ikut suaminya, Ujang Jamas, yang tinggal di bilangan Sukajadi Bandung. Dari sinilah nama Bungsu Bandung pelan tapi pasti mulai banyak dikenal orang berkat kemampuannya menyanyi.

Tiga puluh lima tahun sudah perempuan berputra tiga ini berkecimpung di bidang musik. Kemampuannya tidak sebatas menyanyi dangdut. Lagam degung, jaipong, ketuk tilu, wayang, sampai kasidah dikuasainya.

Karier dan ketenarannya di dunia seni musik ini dirintisnya dari bawah. Mengaku mental entertainernya sudah ditempa sejak kecil. “Manggung dari kampung ke kampung berjalan kaki, tukang kendang manggul kendang, tukang goong manggul goong teteh teh sok nangis, kurang tidurlah, cape!” kata Teteh Bungsu mengenang saat baru menekuni pekerjaan sebagai sinden. Waktu akhirnya membawanya ke dunia rekaman. Ia pun mengembangkan bakatnya bersama Grup Wayang Golek “Pusaka Siliwangi” berkeliling Jawa Barat dari satu pentas ke pentas lainnya. Hingga di awal tahun 1995, mencoba lagi menembus dapur rekaman. Saat itu Panama Record yang dituju langsung tertarik.

Setelah 12 tahun di dunia rekaman, tercatat 20 album dengan berbagai jenis musik dikerjakan. Dari degung, wayang, kecapi, kasidah, sampai dangdut sudah ia hasilkan. Hingga albumnya yang ke 16, nilai penjualannya tidak ada yang istimewa. Baru di album ke-17 ia mencoba menampilkan sesuatu yang berbeda.

Masuklah lagu “Talak Tilu” karya Ujang Suwanda dan “Mobil Butut” karya Abdul Syukur yang dikemas ulang.

“Waktu Teteh kecil lagu itu sudah ada, tapi belum begitu dikenal luas dengan lagam degung kawih. Terus Teteh ngimpleng, bagaimana caranya agar disukai oleh semua lapisan masyarakat?” ujarnya. Lahirlah lagu “Talak Tilu dan “Mobil Butut” dengan aransemen dangdut dan disko remix. Kedua lagu itu membuat namanya melambung dan mendongkrak penjualan albumnya, termasuk beberapa lagu di album-albumnya yang lain sebut saja “Peuting Munggaran” dan “Bohong Ah”.

Kini lagu “Talak Tilu” semakin dikenal luas masyarakat. Buktinya lagu ini sudah dialihbahasakan menjadi bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Bahkan, pekan lalu baru rampung tiga video klip untuk album kedua puluh. Di antaranya, “Galak Timuru”, “Kang Haji”, dan “Surabi Haneut”.

Sesudah bulan Puasa ini ia berencana menyelesaikan kontrak dengan perusahaan rekaman yang menaunginya dengan membuat tiga album lagi.

Kini, setelah meraih kesuksesan, ia kembali menetap di Sumedang meski kesibukannya lebih banyak di Bandung. Bersama keluarga, ia mengelola Bungsu Bandung Grup yang bergerak di usaha jasa hiburan. Usahanya berbuah manis, mobil baru keluaran Jepang yang diparkir di halaman rumahnya terparkir dengan megah. (Multazam Lisendra)***
Edisi Cetak - Minggu, 30 September 2007
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/092007/30/0503.htm

Posted by situraja, filed under Pertanian, Seni Budaya, Tokoh. Date: December 9, 2007, 5:15 am | No Comments »

Pantang Menyerah Perjuangkan Kelestarian Lingkungan

 
 
 

Deni Jasmara, Republika, Selasa, 13 Juni 2006

”Belajarlah hingga ke negeri Cina”. Ungkapan itu merupakan falsafah hidup yang dilaksanakan oleh Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat, Deni Jasmara. Yang paling utama bagi pria kelahiran Sumedang, 19 Februari 1971 adalah belajar mengenai semangat yang pantang menyerah dalam segala hal. ”Orang Cina, baik yang bekerja jadi tukang bakso ataupun pengusaha pantang menyerah,” ujar suami dari Dewi Mulyani ini dalam perbincangan dengan Republika belum lama ini. Deni mencontohkan, ketika tukang bakso di Cina mengalami kerugian hingga lima atau enam kali, mereka akan tetap bertahan. Sikap itu berbeda dengan kebiasaan orang Indonesia yang jika gagal langsung pindah ke pekerjaan lain. Konsep tidak mudah menyerah, kata ayah dari dua orang putra ini yakni Umar Paris Praja Utama (5 tahun) dan Noval Ali Praja Utama (2), diterapkannya saat berorganisasi. Misalnya, persoalan revisi Perda No 02 Tahun 2004 tentang RTRW Kota Bandung. Hingga kini, Walhi bersama beberapa LSM lainnya sedang berjuang untuk membatalkan revisi RTRW Kota Bandung, walaupun revisi itu sudah disahkan wali kota. Meskipun gerakannya sering dikecam oleh sejumlah ormas, LSM, pemerintah, Deni bersama rekan-rekannya terus maju. Bagi lelaki berperawakan kecil ini, konsep tersebut akan menggiring pada kesuksesan. Ia pun kemudian mengenang, saat pertama kali aktif di lembaga swadaya masyarakat (LSM). Karenanya, tak heran jika ia bertaruh dengan ucapan ketua LSM Poklan — tempatnya pertama kali berkiprah — yang bernama Rojahi. Lulusan SMAN I Situraja ini menjelaskan, perkataan Rohaji yang menyatakan sulit untuk eksis di LSM, seolah menantang dirinya. Mulai detik itu, Deni bertekad mengalahkan Rohaji dengan konsep yang ditekuninya. Tahun demi tahun berlalu dan Deni bertahan di LSM yang bergerak di bidang lingkungan ini. ”Dulu Rohaji duduk di Direktur Walhi selama dua periode dan sayapun sekarang sudah dua periode,” katanya menandaskan. Keinginan untuk menyaingi seniornya itu bukan dilandasi oleh sikap ‘gila jabatan’. Namun, kata ia, sebagai motovasi untuk terus berjuang dan berbuat yang terbaik. Anak ketiga dari enam bersaudara ini mengaku bergabung dengan Walhi bukan karena paham persoalan lingkungan. Sebagai orang desa, Deni melihat bumi menjadi indah jika lingkungan hijau, air tak berhenti mengalir, dan udara yang sejuk. Ketika sudah masuk ke Walhi, ia pun mulai mempelajari berbagai hal terkait dengan lingkungan. Mengenai pilihannya bergabung dengan Walhi, Deni mengatakan, karena kegiatan, suasana dan tujuan Walhi jelas. Sebelumnya, lelaki lulusan Kesejahteraan Sosial Universitas Pasundan (Unpas) ini sempat aktif di organisasi masyarakat selama dua tahun. Namun ia merasa perjalanan ormas tersebut tidak cocok dengan hati nuraninya. Menurut dia, ormas sangat struktural. sehingga posisi atasan dan bawahan begitu terasa. Tidak ada kesetaraan dalam menjalankan tugas dan fungsi anggota. Sejak kecil, Deni mengaku sangat aktif berorganisasi. Beberapa organisasi pernah ia geluti. Yakni Poklan, Lembaga Kreativitas Anak Pekerja Indonesia, Konsorsium Masyarakat Lingkungan Jabar, Swadaya Muda Bandung, Koalisi Jabar Sehat, Walhi Jabar, dan Koalisi Jabar Berkelanjutan. Dalam peringatan hari lingkungan hidup sedunia yang jatuh pada 5 Juni lalu, Deni mengatakan, tidak ada kegiatan politis yang dilakukan Walhi. Peringatan, kata dia, lebih pada kegiatan kampanye mengajak masyarakat agar masyarakat peduli pada lingkungan hidup. (ren )

Posted by situraja, filed under Tokoh. Date: December 7, 2007, 2:24 am | No Comments »

Umar Wirahadikusumah (In Memoriam)

Banyak Bekerja dan Sedikit Bicara

Dang Umar Urang Situraja by Situraja.com

Nama:
Umar Wirahadikusumah, Jenderal Purn
Lahir:
Situraja, Sumedang, Jawa Barat, 10 Oktober 1924

Agama:
Islam

Jabatan Terakhir:
Wakil Presiden RI (1983-1988)

Meninggal:
Jakarta, 21 Maret 2003

Isteri:
Ny Karlinah Djaja Atmadja (nikah 2 Februari 1957)

Anak:
Rini Ariani dan Nila Shanti

Cucu:
Enam orang

Pendidikan Umum:
Eropesche Lagere School (1935-1942)
MULO (1942-1945)
SMA (1955-1957)
Universitas Padjadjaran (1957)

Pendidikan Militer:
Sunen Dancho (1943)
PETA (1944)
Chandra Muka (1951)
SSK AD (1955)
Sus Jenderal (1966)

Karir:
Komandan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Cicalengka (1945)
Wakas Res. X Tasik (1946)
Ajudan Panglima Kodam (Pangdam) VI
Dirlat di Garut (1947)
Komandan Batalyon (Danyon) 1-U/III Cirebon (1947),
Danyon IV/Be XIII Solo (1949),
Komandan Komando Militer Kota (Dan KMK) Cirebon
Kas Ur Ex Knil Div Siliwangi (1950),
Ka Su-II Div. Siliwangi (1951),
Kas Brigif-L Cirebon (1952),
Dan Res XI/Cop Sektor A-1 (1952-l953)
lnspektur Jenderal (Irjen) T & TIll (1953-1954)
Pengganti Sementara (Pgs) Su.2 TT III (1954-1957)
Dan Men 10-Dan RTP Sibolga (1957)
Komandan Komando Militer Kota Besar (Dan KMKB) Jakarta Raya (1959).
Pejabat (Ps) Pangdam V/Jaya-I (1960)
Pangdam V/Jaya-1 (1961-l965)
Panglima Komando Strategi Tjadangan Angkatan Darat (Pangkostrad) (1965-l967)
Pangkolaga (1966)
Wakil Panglima Angkatan Darat (Wapangad) (1967.1969)
Kepala Staf AD -(Desember 1969-AprII1973)
Ketua Badan Pengawas Keuangan (BPK) (1973-l9B3)
Wakil Presiden RI (1983.1988)

Operasi Militer:
Perlucutan senjata Jepang di Cicalengka/Tasikmalaya (l945)
Kerusuhan “Merah” di daerah Cirebon, Breber dan Tegal (1946-1947)
Clash I (1947-l948),
Wehr Kreise II/Daerah Gerilya III Kuningan Barat sebagai Komandan Batalyon I Brigade Cirebon (1947 -l948)
Menghacurkan pasukan Sutan Akbar Ciniru/Kuningan (1947)
Menumpas Peristiwa Madiun sebagai Komandan Batalyon IV (l948-l950),
Clash II sebagal Komandan Ko Troepen Long Mars Solo-Tasikmalaya Barat-Clamis Utara (1948-1950),
Penumpasan Darul Islam (Dl) Jawa Barat (1950-1952),
Penumpasan PRRI di Tapanuli (1958)
Penumpasan G-30-S/PKI sebagai Pangdam V/Jaya (l965)

Penghargaan:
Bintang Dharma,
Bintang Gerilya
Kartika Eka Paksi I-II-III
Jalasena Klas I-II
Bhayangkara I-II
Kesetiaan 24 (XXIV) tahun Perang Kemerdekaan I-II
GOM I-II-V
Sapta Marga
Wira Dharma
Lencana Penegak
Dwija Sista,
Das Gross Vergenst Kreus Jerman,
Legion of Merit USA
Orde van Oranye Nassau-Nederland
Panglima Setia Mahkota-Malaysia
Bintang Keamanan no 1 dari Korea Selatan

Alamat:
Jalan Teuku Umar No.61 Jakarta Pusat
 
Mantan Wakil Presiden RI ke-4 (1983-1988) Umar Wirahadikusumah menghembuskan napas terakhir, sekitar pukul 07.53 WIB, Jumat 21 Maret 2003 di Rumah Sakit Pusat TNI-AD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, setelah sempat mendapat perawatan intensif selama dua pekan. Ia seorang putera terbaik bangsa yang jujur, rendah hati, taat pada aturan main dan lebih banyak bekerja daripada berbicara. Mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan ini juga dinilai relatif bersih dari KKN. Ia juga orang yang legowo, tidak ambisius, menerima apa adanya.
Mantan Pangkostrad kelahiran Situraja, Sumedang, Jawa Barat 10 Oktober 1924, yang wafat pada usia 79 tahun, ini meninggalkan seorang istri, Ny Karlinah Djaja Atmadja, yang dinikahinya 2 Februari 1957, dan dua orang anak, Rini Ariani dan Nila Shanti, serta enam orang cucu. Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat petang pukul 16.00, dengan upacara militer yang dipimpin mantan Wapres Jenderal (Purn) Try Sutrisno dan komandan upacara Kolonel Tisna Komara (Asisten Intelijen Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat/Kostrad). Ia menderita penyakit jantung selama 13 tahun dan telah menjalani operasi by pass jantung tahun 1989 di Herz Und Diabetes Zentrum di Badoeyhausen, Jerman. Setelah operasi jantung tersebut, kesehatan almarhum cukup baik, bahkan tetap bisa berolahraga golf. Namun sejak September 2002, jantung mantan Pangdam V Jakarta Raya (1960-1966) ini kembali mengalami gangguan dan harus menjalani perawatan lagi di Jerman.

Sepulang dari perawatan di Jerman, ia terus menjalani home care karena daya pompa jantungnya telah sangat melemah dan adanya bendungan pada paru sehingga mengakibatkan sesak napas. Sejak 5 Maret 2003, ia dirawat di paviliun Kartika RSPAD, sejak 8 Maret 2003, mendapat perawatan di ruang ICU, hingga akhirnya wafat.

Setelah dimandikan di rumah duka RSPAD, sekitar pukul 12.00 WIB, jenazahnya diusung ke Mesjid Istiqlal untuk disembahyangkan. Kemudian, epat pukul 13.00, tiba di rumah kediaman Jl Teuku Umar No.61, Jakarta Pusat untuk disemayamkan. Beberapa tokoh melawat di antaranya mantan Presiden Soeharto, Presiden Megawati Soekarnoputri, Wapres Hamzah Haz, mantan Presiden ke-3 RI BJ Habibie, Mantan Wakil Presiden (Wapres) Sudharmono, Menko Kesra Jusuf Kalla, KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu, KSAL Laksamana Bernard Kent Sondakh, Kepala Polri Jenderal (Pol) Da’i Bachtiar, Pangkostrad Letjen Bibit Waluyo, Pangdam Jaya Mayjen Djoko Santoso, dan Kepala BIN Hendropriyono.

Upacara pelepasan jenazah di rumah duka dipimpin oleh KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu dengan komandan upacara Kolonel M Nizam (Asisten Perencanaan Kostrad).

Bekerja
Penerima beberapa penghargaan (bintang jasa) ini dikenal sebagai sosok pejabat yang lebih banyak bekerja daripada bicara. Ia juga seorang yang sangat taat pada aturan. Ia tidak suka melihat staf atau pejabat lain yang tidak menaati peraturan. Ia juga orang yang rendah hati dan tak mau menonjol-nonjolkan diri. Ia bukan orang yang menghalalkan segala cara untuk meraih sesuatu atau jabatan.

Ketika ia dipilih menjadi Wakil Presiden (1983-1988), banyak kalangan tidak menduga sebelumnya. Tapi sosoknya yang tidak ambisius rupanya telah menempatkannya memperoleh kepercayaan dari Presiden Soeharto ketika itu. Saat ia digantikan Sudharmono sebagai Wakil Presiden, tak sedikit pun tampak rasa kecewa dalam penampilannya. Ia orang yang legowo.

Ia juga orang yang relatif bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Maka ketika pemerintahan Orde Baru berakhir, dimana banyak pejabatnya disorot karena diduga terlibat KKN dan pelanggaran hak-hak asasi manusia, ia tidak pernah diusik. Sebab ia tergolong yang relatif bersih di antara banyaknya pejabat yang diduga bergelimang KKN.

Putera kelima dari pasangan Raden Rangga Wirahadikusumah (Wedana Ciawi, Tasikmalaya) dan Raden Ratnaningrum (putri Patih Demang Kartamenda di Bandung), ini memperoleh pendidikan di Eropesche Lagere School (1935-1942)
MULO (1942-1945), SMA (1955-1957) dan Universitas Padjadjaran (1957).

Memulai pendidikan kemiliteran pada zaman Jepang. Ia mengikuti latihan pemuda Seinendojo (Sunen Dancho) Tangerang (1943), lalu masuk latihan perwira (Shoodanchoo) Tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor (1944). Kemudian pendidikan Chandra Muka (1951), SSK AD (1955) hingga Sus Jenderal (1966).

Perjalanan karirnya dimulai sebagai Komandan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Cicalengka, Jawa Barat (1945). Pada masa awal Revolusi itu, sejumlah pemuda Sunda bergabung masuk tentara. Sebagian dari mereka berasal dari keluarga bangsawan, di antaranya Umar Wirahadikusumah (zoon van de Wedana van Ciawi Tasikmalaya). Ia masuk tentara atas kesadarannya sendiri untuk membela tanah air.

Anak bangsawan yang sudah berpendidikan formal MULO (SMP) mendirikan TKR di Cicalengka taanggal 1 September 1945. Kemudian menjadi Wakas Res. X Tasikmalaya (1946) dengan pangkat kapten. Lalu menjadi Ajudan Panglima Kodam (Pangdam) VI Siliwangi (yang ketika itu dijabat AH Nasution). Setelah itu menjadi Dirlat di Garut (1947) serta Komandan Batalyon (Danyon) 1-U/III Cirebon (1947). Kemudian dipercaya menjabat Danyon IV/Be XIII Solo (1949), Komandan Komando Militer Kota (Dan KMK) Cirebon, Kas Ur Ex Knil Div Siliwangi (1950), Ka Su-II Div. Siliwangi (1951), Kas Brigif-L Cirebon (1952), Dan Res XI/Cop Sektor A-1 (1952-l953) dan lnspektur Jenderal (Irjen) T & TIll (1953-1954).

Ia pun sempat menjadi Pengganti Sementara (Pgs) Su.2 TT III (1954-1957) sebelum menjabat Dan Men 10-Dan RTP Sibolga dengan pangkat Letkol (1957). Dari Sibolga, ia dipromosikan menjabat Komandan Komando Militer Kota Besar (Dan KMKB) Jakarta Raya (1959). Lalu menjadi Pejabat (Ps) Pangdam V/Jaya-I (1960) sampai menjadi Pangdam V/Jaya-1 (1961-l965) dengan pangkat kolonel kemudian Brigjen. Pada saat menjabat Pangdam V/Jaya ini ia ikut menumpas G-30-S/PKI.

Selain penumpasan G-30-S/PKI, ia juga banyak terlibat dalam operasi militer, mulai dari perlucutan senjata Jepang di Cicalengka/Tasikmalaya (l945), Kerusuhan “Merah” di daerah Cirebon, Breber dan Tegal (1946-1947), Clash I (1947-l948), dan Wehr Kreise II/Daerah Gerilya III Kuningan Barat sebagai Komandan Batalyon I Brigade Cirebon (1947 -l948).

Ia juga ikut dalam operasi penghancuran pasukan Sutan Akbar Ciniru/Kuningan (1947), penumpasan Peristiwa Madiun sebagai Komandan Batalyon IV dengan pangkat mayor (l948-l950), Clash II sebagal Komandan Ko Troepen Long Mars Solo-Tasikmalaya Barat-Clamis Utara (1948-1950), penumpasan Darul Islam (Dl) Jawa Barat (1950-1952), dan penumpasan PRRI di Tapanuli (1958).

Kehandalannya mendukung Panglima Kostrad Mayjen Soeharto menumpas PKI, ia pun dipercaya menjabat Panglima Komando Strategi Tjadangan Angkatan Darat (Pangkostrad) (1965-l967) menggantikan Mayjen Soeharto sendiri. Beberapa bulan kemudian diangkat menjadi Pangkolaga (1966). Lalu menjadi Wakil Panglima Angkatan Darat (Wapangad) (1967-1969). Karir militernya berpuncak sebagai Kepala Staf AD (Desember 1969-AprII1973). Setelah itu, ia menjabat Ketua Badan Pengawas Keuangan (BPK) selama 10 tahun (1973-l983). Kemudian ia terpilih menjabat Wakil Presiden RI (1983-1988) mendampingi Presiden Soeharto.

Umar seorang prajurit pejuang yang taat beragama. Ia selalu tertib melakukan shalat liwa waktu. Ketika menjabat wakil presiden, pada setiap bulan Ramadhan, dia selalu mengadakan shalat tarawih di Istana Wakil Presiden. Ia juga orang yang tidak suka kemewahan dan berfoya-foya. Ia orang yang sederhana.

Saat awal menjabat wapres, ia dan keluarganya enggan meninggalkan rumah pribadinya di Jalan Agus Salim yang sederhana untuk pindah ke rumah dinas yang sudah disiapkan. Sebenarnya ia lebih senang tinggal di rumah yang mungil dan sederhana itu. Namun, karena jabatannya, dan setelah melalui perdebatan yang sedikit alot, akhirnya ia bersedia pindah ke rumah dinas dan menggunakan mobil dinas wapres yang disediakan Sekretariat Negara.

Ia satu di antara sedikit pejabat yang berkeinginan memberantas korupsi di negeri ini. Semasa kondisi kesehatannya masih baik, ia sering main tenis, golf dan jalan kaki di waktu pagi di pekarangan rumahnya bersama istrinya. Kini, ia telah pergi, dengan meninggalkan kenangan baik bagi bangsanya. *** Ensiklopedi Tokoh Indonesia http://tokohindonesia.com/ensiklopedi/u/umar-wirahadikusumah/index.shtml

Posted by situraja, filed under Tokoh. Date: December 6, 2007, 11:20 pm | No Comments »

T. WAHYUDIN TOKOH TARI SUNDA ASAL SITURAJA

Biografi

Tempat/Tanggal Lahir: Sumedang, 1 Mei 1933

Alamat: Kecamatan Situraja Sumedang

Pengalaman Belajar Menari, antara lain: Tahun 1942 belajar tari Keurseus dari Winata
Raksapraja (Ayahnya), Tahun 1951 belajar Tari Keurseus dan Wayang wong dari
R. Sadeli Hardjadinata, Tahun 1952 belajar tari Keurseus dan Tari Wayang dari R.Ono
Lesmana Kartadikusumah

Piagam Pengahargaan, antara lain: Juara lomba Tari Keurseus (Gawil) se-Jawa Barat
(1974), juara Festival tari Keurseus (Lenyepan) se-Jawa Barat (1980), dan dari Bupati
Sumedang sebagai Tokoh Tari (1999)

http://media.diknas.go.id/media/document/3864.pdf

Posted by situraja, filed under Seni Budaya, Tokoh. Date: December 6, 2007, 10:50 pm | No Comments »

Yaya, Peneliti Temulawak di Korea

Dr.Yaya Rukayadi

Di sekitar laboratorium tempat Dr Yaya Rukayadi (43) berkutat dengan kesibukannya sebagai peneliti senior sekaligus pengajar di Yonsei University, Seoul, Korea Selatan, terdapat sejumlah tanaman obat Indonesia, khususnya temulawak. Tanaman tersebut sengaja dikirim dari Tanah Air ke Negeri Ginseng itu untuk diteliti.

Dari pertanyaan mengapa tanaman obat di Indonesia diteliti di Korea, Yaya Rukayadi mengawali ceritanya. Ia ingin agar temulawak bisa dijadikan “merek” Indonesia, sama seperti ginseng yang sudah menjadi merek atau setidaknya membuat orang ingat Korea.

“Kalau orang ngomong ginseng, pasti asosiasinya Korea. Padahal, negara yang memproduksi ginseng terbesar di dunia adalah Kanada dan China. Orang Korea juga mengimpor bahan dasar ginseng dari Kanada dan China,” ungkap Yaya Rukayadi dalam percakapan dengan Kompas awal Agustus 2007 di Yonsei University, Seoul.

Obsesi Yaya menjadikan temulawak sebagai ikon tanaman obat dari Indonesia sama seperti ginseng yang sudah menjadi ikon Korea.

Di Indonesia, untuk tanaman obat temulawak (Curcuma xanthorrhiza), jangankan kultivasi yang benar, pemetaan temulawak pun data resminya belum ada. Oleh sebab itu, Yaya bekerja sama dengan Pusat Penelitian Biopharmaca di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Departemen Pertanian untuk membuat riset dasar tentang temulawak.

Tak punya musuh
Temulawak adalah tanaman yang hampir tak memiliki musuh (hama). Tanaman ini menghasilkan antijamur, ia tak akan terkena jamur karena temulawak sendiri menghasilkan jamur.

Tanaman temulawak di Indonesia hanya ada di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Maluku Selatan. Menurut Yaya, temulawak bisa tumbuh di Sumatera, tetapi tidak bisa sebaik kalau ditanam di Pulau Jawa. Untuk lebih memopulerkan dan memperkenalkan tanaman temulawak ke forum internasional, Yaya bekerja sama dengan IPB untuk mendeklarasikan Kongres Internasional Temulawak pertama pada Maret 2008 di Bogor, Jawa Barat.

Presiden Susilo bambang Yudhoyono, tutur Yaya, mengundang dia ke Istana Presiden di Jakarta untuk mempresentasikan secara rinci soal temulawak tersebut. “Kebetulan akhir Oktober nanti saya menjadi salah satu pembicara pada simposium internasional tentang farmasi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Di forum itu, saya diundang sekaligus berbicara bersama 11 ahli farmasi dunia,” ujar Yaya.

Meski “terpakai” di Indonesia, Yaya memilih tinggal di Korea. Agaknya motivasi dia untuk tetap “bertahan” tinggal, mengabdikan diri, serta mendalami ilmunya di Korea sama dengan umumnya warga Indonesia yang memilih tinggal di luar negeri. Mereka mampu berprestasi, tetapi kurang dihargai di negeri sendiri.

Warga kehormatan
Di negara lain, mereka bisa lebih bebas mendalami ilmu, berprestasi, sehingga bisa mendapatkan penghargaan yang layak. Bahkan, Yaya yang tinggal di Seoul sejak tahun 2000 itu tak hanya menjadi peneliti senior dan pengajar pada perguruan tinggi swasta Yonsei University, tetapi juga menjadi salah satu warga kehormatan di
Kota Seoul.

Karena itu, ketika Presiden Yudhoyono bertemu dengannya di Korea dan menawarkan kembali ke Tanah Air dan mengabdikan ilmunya di Indonesia, Yaya merasa bimbang. Ia tak segera menerima tawaran tersebut.

“Kembali ke Indonesia, saya pikir bukan satu-satunya jalan terbaik. Kalau pulang ke Indonesia, apakah saya bisa mengembangkan ide-ide saya secara bebas? Jangan-jangan kalau saya pulang ke Indonesia, malah saya menjadi birokrat, bukan peneliti lagi. Saya tidak ingin pulang ke Indonesia, lalu duduk di belakang meja, kemudian tunjuk sana tunjuk sini. Nah, masalah itu yang sedang saya pikirkan,” tutur Yaya.

Di Korea, dia merasa bebas melakukan apa pun yang ingin dikerjakan. Di Negeri Ginseng, seorang ilmuwan tidak disibukkan dengan urusan birokrasi seperti halnya di Indonesia. Kegiatan lain Yaya di samping menjadi ilmuwan adalah sebagai tamu pada program siaran seksi Indonesia di Radio KBS Seoul.

Padahal, cita-cita Yaya sebenarnya ingin menjadi seorang guru. Oleh karena itu, dia bersikeras kepada orangtuanya agar bisa belajar di sekolah pendidikan guru di Kota Sumedang. Namun, orangtuanya ingin supaya Yaya belajar di sekolah menengah atas (SMA). Kebetulan, di Situraja, tempat tinggalnya dulu, ketika itu baru berdiri SMA.

Setelah lulus SMA tahun 1983, dia mengikuti beberapa kali ujian masuk perguruan tinggi melalui sistem Proyek Perintis (PP) I sampai PP IV. Selain diterima pada Jurusan Farmasi ITB, Yaya juga lolos seleksi di IPB. Ia pun diterima di Jurusan Biologi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung, atau sekarang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Yaya kemudian memutuskan mengambil Jurusan Farmasi ITB. Namun, rupanya cita-cita untuk menjadi guru tetap membayangi sehingga kuliah di ITB hanya dijalaninya setahun. Ia lalu memutuskan pindah ke IKIP Jurusan Biologi hingga sarjana, kemudian menyelesaikan program S-2 dan S-3 di IPB.

Pada waktu melakukan penelitian program doktor, dia pernah dikirim dan lolos seleksi masuk University of California di Berkeley, Amerika Serikat (AS), tahun 1996 untuk mempelajari tentang biokontrol pada penyakit kedelai.

Setiap tahun, kata Yaya, University of California hanya menerima 20 mahasiswa melalui seleksi yang ketat. Dari jumlah mahasiswa itu, 10 di antaranya merupakan warga AS, sedangkan sisanya dari luar AS.

“Ketika itu saya satu-satunya mahasiswa dari Asia,” ucap Yaya, yang juga sempat melakukan penelitian biokontrol untuk penyakit kedelai di University of Edinburgh, Skotlandia, tahun 1998.

Akan tetapi, dari hasil riset soal kedelai di AS itulah Yaya Rukayadi kemudian memperkenalkan salah satu rumus kimia YR 32-menyangkut penyakit kedelai-kepanjangan dari Yaya Rukayadi, sedangkan angka 32 adalah umur dia saat melakukan penelitian tersebut.

Setelah meraih S-3, Yaya tertarik pada temulawak sebab sepengetahuannya tanaman itu hanya ada di Indonesia. Ia lalu memusatkan perhatiannya pada temulawak.

Keinginannya untuk meneliti lebih jauh manfaat temulawak semakin terbuka lebar saat dia diajak Prof Jae Kwan-hwang, pengajar pada Yonsei University, untuk bergabung sebagai peneliti sekaligus pengajar pada perguruan tinggi tersebut.

Dari hasil penelitian pada temulawak, dia antara lain menemukan fungsi temulawak sebagai antiketombe. Temulawak juga bisa dimanfaatkan sebagaipasta gigi. Menurut Yaya, temulawak pun sangat mungkin dapat digunakan untuk mengatasi penyakit kanker. Meski untuk itu, masih diperlukan penelitian lebih lanjut.

Meski cukup sibuk, Yaya tetap menyempatkan diri menulis hasil penelitiannya tentang temulawak untuk jurnal-jurnal ilmiah internasional. Alasannya, agar temulawak menjadi perhatian lebih banyak peneliti di dunia.

BIODATA

* Nama : Dr Yaya Rukayadi
* Lahir : Sumedang, 17 Agustus 1964
* Keluarga : Dia anak bungsu dari enam bersaudara
* Hobi : Fotografi, jalan-jalan, dan menulis. Salah satu hobinya
adalah menulis cerita pendek (carita pondok-carpon)
pada Majalah “Sunda Mangle”.

* Pendidikan:
- Lulus SMA, 1983
- Kuliah pada Jurusan Farmasi ITB, 1983-1984
- Sarjana Biologi IKIP Bandung, 1984-1990
- Program Master (S-2) di IPB Bogor, 1992-1995
- Program Doktor (S-3) di IPB, 1995-1998

* Kegiatan Lain:
- Menjadi pembawa acara pada Radio Korea International (RKI)
- Korean Broadcasting System (KBS), 2002

* Penghargaan:
- Sebagai Warga Kehormatan Kota Seoul, 2007, dia antara lain bisa
bepergian ke mana saja di kota itu secara gratis

link :http://www.kompas.com/ver1/Negeriku/0710/25/052320.htm

Posted by situraja, filed under Tokoh. Date: December 6, 2007, 10:24 pm | No Comments »