Giliran Bibit Palawija Diinvasi Pasukan Kera

Rabu, 29 Oktober 08 - by : Iko
SITURAJA, PriOl- Serangan ribuan kera yang ada di sekitar hutan Desa Bangbayang Kec. Situraja terus berlanjut. Kali ini hewan primata tersebut bukan saja memakan tanaman masyarakat yang sudah matang atau berbuah siap panen, namun tanaman yang masih berupa bibit pun habis dijarah mereka.
Menurut Kepala Desa Bangbayang Umar, aksi pasukan kera yang kian ganas dan mengkhawatirkan itu sudah berjalan dua tahun terakhir. Pasukan kera kini menyerang bibit tanaman yang baru ditebar, seperti benih kacang tanah yang baru diaseuk (disemai). “Kondisinya terbalik. Kini para petani sepertinya hanya menunggu belas kasihan dari pasukan kera tersebut,” kata Umar.
Awalnya, menurut Umar, hanya mengganggu tanaman yang sudah berbuah yang mungkin saat ini mulai memasuki musim tanam dan di hutan masih paceklik (tidak ada makanan) sehingga para kera tersebut mengambil binih dalam tanah terus dimakan. “Sakadang monyet teh kalaparan meureun,” tambah Umar.
Ditambahkan Umar, kejadian tersebut membuat para petani seakarang frustasi dengan perilaku sang kera. Umar tidak bisa memastikan apakah para petani palawija yang ada di desanya mau lagi bercocok tanam palawija. Sementara perhatian dari pemkab Sumedang untuk mengatasi masalah ini belum ada. “Nya kahayang mah atuh dibantuan binih keur palawija da puguh unggal taun oge binih palawija teh beak dihakan monyet,” jelas Umar.

Priangan tanpa Batas, Fakta tanpa Batas, Priangan Maya Priangan Nyata
Rubrik : Lingkar Sumedang
http://berita.prianganonline.com
Versi Online : http://berita.prianganonline.com/?act=berita&aksi=lihat&id=1455

Posted by situraja, filed under Ekonomi, Pertanian. Date: October 29, 2008, 2:46 pm | No Comments »

Bungsu Bandung dari Sinden ke Musik Pop Sunda

Nyeri, nyeri, nyeri moal beunang diubaran
Kajeun tutumpukan paeh ge teu panasaran
Meungpeung ngora keneh
Meungpeung urang can rimbitan
Pek geura serahkeun
Talak tilu sakalian

ANDA kenal lirik di atas? Tentu mengingatkan kita pada penyanyinya, Bungsu Bandung! Vokal dan gayanya selalu khas dalam setiap penampilannya di atas panggung, layaknya seorang sinden, anggun berkebaya dan sesekali lemah gemulai bergoyang jaipong. Itulah Hj. Mimi Setiawati atau lebih populer dengan nama Bungsu Bandung yang melejitkan tembang khas Sunda “Talak Tilu” dan “Mobil Butut”.

Lahir di lingkungan keluarga sinden dari Desa Mekarmulya Situraja, Sumedang. Wanita kelahiran 5 November 1962 ini merupakan anak bungsu dari lima bersaudara yang semuanya berprofesi sinden.

Nama Bungsu Bandung didapatnya setelah ia menikah dan ikut suaminya, Ujang Jamas, yang tinggal di bilangan Sukajadi Bandung. Dari sinilah nama Bungsu Bandung pelan tapi pasti mulai banyak dikenal orang berkat kemampuannya menyanyi.

Tiga puluh lima tahun sudah perempuan berputra tiga ini berkecimpung di bidang musik. Kemampuannya tidak sebatas menyanyi dangdut. Lagam degung, jaipong, ketuk tilu, wayang, sampai kasidah dikuasainya.

Karier dan ketenarannya di dunia seni musik ini dirintisnya dari bawah. Mengaku mental entertainernya sudah ditempa sejak kecil. “Manggung dari kampung ke kampung berjalan kaki, tukang kendang manggul kendang, tukang goong manggul goong teteh teh sok nangis, kurang tidurlah, cape!” kata Teteh Bungsu mengenang saat baru menekuni pekerjaan sebagai sinden. Waktu akhirnya membawanya ke dunia rekaman. Ia pun mengembangkan bakatnya bersama Grup Wayang Golek “Pusaka Siliwangi” berkeliling Jawa Barat dari satu pentas ke pentas lainnya. Hingga di awal tahun 1995, mencoba lagi menembus dapur rekaman. Saat itu Panama Record yang dituju langsung tertarik.

Setelah 12 tahun di dunia rekaman, tercatat 20 album dengan berbagai jenis musik dikerjakan. Dari degung, wayang, kecapi, kasidah, sampai dangdut sudah ia hasilkan. Hingga albumnya yang ke 16, nilai penjualannya tidak ada yang istimewa. Baru di album ke-17 ia mencoba menampilkan sesuatu yang berbeda.

Masuklah lagu “Talak Tilu” karya Ujang Suwanda dan “Mobil Butut” karya Abdul Syukur yang dikemas ulang.

“Waktu Teteh kecil lagu itu sudah ada, tapi belum begitu dikenal luas dengan lagam degung kawih. Terus Teteh ngimpleng, bagaimana caranya agar disukai oleh semua lapisan masyarakat?” ujarnya. Lahirlah lagu “Talak Tilu dan “Mobil Butut” dengan aransemen dangdut dan disko remix. Kedua lagu itu membuat namanya melambung dan mendongkrak penjualan albumnya, termasuk beberapa lagu di album-albumnya yang lain sebut saja “Peuting Munggaran” dan “Bohong Ah”.

Kini lagu “Talak Tilu” semakin dikenal luas masyarakat. Buktinya lagu ini sudah dialihbahasakan menjadi bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Bahkan, pekan lalu baru rampung tiga video klip untuk album kedua puluh. Di antaranya, “Galak Timuru”, “Kang Haji”, dan “Surabi Haneut”.

Sesudah bulan Puasa ini ia berencana menyelesaikan kontrak dengan perusahaan rekaman yang menaunginya dengan membuat tiga album lagi.

Kini, setelah meraih kesuksesan, ia kembali menetap di Sumedang meski kesibukannya lebih banyak di Bandung. Bersama keluarga, ia mengelola Bungsu Bandung Grup yang bergerak di usaha jasa hiburan. Usahanya berbuah manis, mobil baru keluaran Jepang yang diparkir di halaman rumahnya terparkir dengan megah. (Multazam Lisendra)***
Edisi Cetak - Minggu, 30 September 2007
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/092007/30/0503.htm

Posted by situraja, filed under Pertanian, Seni Budaya, Tokoh. Date: December 9, 2007, 5:15 am | No Comments »

Budidaya Sawo Sukatali ST 1, Secuil Beban dari Komoditas Unggulan
Senin, 02 Juli 07 - oleh : admin

Desa Sukatali berada di wilayah Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang. Nama desa ini cukup dikenal berkat buah Sawo. Orang mengenal buah sawo khas Desa Sukatali bukan hanya karena banyak warganya yang menanam buah itu, melainkan tipikal buahnya. Buah sawo asli Desa Sukatali memiliki sejumlah keistimewaan, antara lain, rasanya sangat manis dan tidak mudah busuk. Selain itu, jika ditekan, terasa tidak lembek. Konsumen sering terkecoh karena menyangka buah sawo masih mentah.
Buah Sawo Desa Sukatali memiliki kandungan gizi yang tinggi. Kandungan protein, lemak, kalsium, fosfor, zat besi, dan vit C buah ini dinilai lebih tinggi dibandingkan apel.
Konon, sejarah buah sawo Desa Sukatali tak terlepas dari nama seorang abdi dalem Pangeran Soeriatmadja yang bernama Satir. Ia diberi tanaman itu oleh Pangeran Soeriatmadja karena kurang terpelihara. Satir kemudian menanamnya di tempat tinggalnya, Desa Sukatali. Lama kelamaan, pohon sawonya semakin banyak.
Salah seorang warga Desa Sukatali yang memiliki banyak pohon sawo adalah Eros Rosmala (61). Lahan di sekitar rumahnya banyak ditumbuhi pohon ini. Katanya, memelihara tanaman sawo khas Desa Sukatali tidak begitu rumit. Hanya diberi pupuk kandang dan rajin disiangi, pohon sawo akan berbuah lebat. Penggunaan pestisida juga dihindari. Oleh karena itu, sawo ini bebas dari kimia.
Dahulu, buah sawo Desa Sukatali dikenal dengan nama Sawo Apel Kapas. Pada 2002, nama itu berubah menjadi Sawo Sukatali ST1. Aturannya,, tidak dibenarkan pemakaian tiga nama untuk satu komoditas.
Menurut Ir. Ateng, Kabid Tanaman Holtikultura Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Holtikultura, Kabupaten Sumedang, kode “ST1” merupakan kepanjangan dari Sumedang Tandang 1. Kode ini tidak hanya berlaku untuk buah sawo Desa Sukatali, tetapi juga untuk komoditas unggulan lainnya, misalnya, Umbi Cilembu ST1.
Sebagai komoditas unggulan, kini pembudidayaan buah Sawo Sukatali ST1 tidak hanya terpusat di Desa Sukatali. Instansi terkait telah membuka lahan pengembangan di Kecamatan Situraja, Cisitu, dan Kecamatan Darmaraja. Di atas lahan seluas 3.672 hektar yang mencakup ketiga kecamatan itu, telah ditanam kurang lebih 32.847 pohon sawo Redaksi) http://www.inkubator-bisnis.com/?pilih=lihat&id=22

Posted by situraja, filed under Ekonomi, Pertanian. Date: December 6, 2007, 10:17 pm | Comments Off

Tak ada yang lebih menggembirakan bagi sebagian besar warga di Kecamatan Situraja kecuali datangnya musim hujan. Bisa dimaklumi, mayoritas mata pencaharian penduduk adalah bertani. Di sebagian daerah di Situraja, menanam kacang tanah (suuk), jagung, kacang putih, biasa dilakukan di pesawahan sebelum curah hujan benar-benar tinggi. Para petani mulai menanam padi jika hujan berkesinambungan, saat mata air resapan, selokan-selokan, sungai-sungai mulai teraliri air secara kontinyu. Dalam setahun kebanyakan cuma sekali dapat berhasil panen dengan mulus. Setelahnya, jika menanam padi lagi berarti untung-untungan. Beruntung jika sampai musim panen padi mereka terairi, jika tidak maka dipastikan gagal panen alias fuso. Hujan tak datang, padi mengering, itulah saat yang memilukan. Mereka yang tak mau mengambil risiko dengan menanam padi untuk yang kedua kalinya (morekat) biasanya memilih menanam palawija lagi seperti ubi jalar (boled). Hanya sedikit wilayah pesawahan di situraja yang dapat ditanami padi sepanjang tahun. Cuma daerah dekat dengan sumber air seperti sungai dan irigasi. Keberadaan irigasi pun sering tak maksimal, semisal irigasi Sentig yang seharusnya sampai ke daerah Sukatali, Cijeler, dan Ambit, kenyataannya hanya sebagian tempat saja yang dapat menikmatinya. Hal ini seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah dengan menempatkan masalah tersebut pada skala prioritas utama, mengingat lahan pertanian adalah sumber kesejahteraan mayoritas warga Situraja. Bertani pada masa sekarang sering dikeluhkan para petani karena mahalnya pupuk dan obat-obatan. Biaya produksi dan tenaga kerja kadang tak sebanding dengan hasil akhir. Bertani tak ubahnya seperti berspekulasi. Ah, siapakah yang tak rindu kampung halaman? Betapa indahnya pesawahan yang menghampar hijau. Betapa riang gembiranya para petani yang memanen padi yang menguning. Lihatlah di sana, di perbukitan, mereka yang berhuma dan bercocok tanam! Akankah pemandangan itu tetap ada saat lahan-lahan mulai menyempit menjadi kumpulan bangunan bertembok dan saat para pemudanya enggan menyentuh tanah? (tulisan ini ditulis dengan ibu jari saja:dari hp)

Posted by situraja, filed under Ekonomi, Pertanian. Date: November 29, 2007, 2:56 am | No Comments »