Bungsu Bandung dari Sinden ke Musik Pop Sunda
Nyeri, nyeri, nyeri moal beunang diubaran
Kajeun tutumpukan paeh ge teu panasaran
Meungpeung ngora keneh
Meungpeung urang can rimbitan
Pek geura serahkeun
Talak tilu sakalian
ANDA kenal lirik di atas? Tentu mengingatkan kita pada penyanyinya, Bungsu Bandung! Vokal dan gayanya selalu khas dalam setiap penampilannya di atas panggung, layaknya seorang sinden, anggun berkebaya dan sesekali lemah gemulai bergoyang jaipong. Itulah Hj. Mimi Setiawati atau lebih populer dengan nama Bungsu Bandung yang melejitkan tembang khas Sunda “Talak Tilu” dan “Mobil Butut”.
Lahir di lingkungan keluarga sinden dari Desa Mekarmulya Situraja, Sumedang. Wanita kelahiran 5 November 1962 ini merupakan anak bungsu dari lima bersaudara yang semuanya berprofesi sinden.
Nama Bungsu Bandung didapatnya setelah ia menikah dan ikut suaminya, Ujang Jamas, yang tinggal di bilangan Sukajadi Bandung. Dari sinilah nama Bungsu Bandung pelan tapi pasti mulai banyak dikenal orang berkat kemampuannya menyanyi.
Tiga puluh lima tahun sudah perempuan berputra tiga ini berkecimpung di bidang musik. Kemampuannya tidak sebatas menyanyi dangdut. Lagam degung, jaipong, ketuk tilu, wayang, sampai kasidah dikuasainya.
Karier dan ketenarannya di dunia seni musik ini dirintisnya dari bawah. Mengaku mental entertainernya sudah ditempa sejak kecil. “Manggung dari kampung ke kampung berjalan kaki, tukang kendang manggul kendang, tukang goong manggul goong teteh teh sok nangis, kurang tidurlah, cape!” kata Teteh Bungsu mengenang saat baru menekuni pekerjaan sebagai sinden. Waktu akhirnya membawanya ke dunia rekaman. Ia pun mengembangkan bakatnya bersama Grup Wayang Golek “Pusaka Siliwangi” berkeliling Jawa Barat dari satu pentas ke pentas lainnya. Hingga di awal tahun 1995, mencoba lagi menembus dapur rekaman. Saat itu Panama Record yang dituju langsung tertarik.
Setelah 12 tahun di dunia rekaman, tercatat 20 album dengan berbagai jenis musik dikerjakan. Dari degung, wayang, kecapi, kasidah, sampai dangdut sudah ia hasilkan. Hingga albumnya yang ke 16, nilai penjualannya tidak ada yang istimewa. Baru di album ke-17 ia mencoba menampilkan sesuatu yang berbeda.
Masuklah lagu “Talak Tilu” karya Ujang Suwanda dan “Mobil Butut” karya Abdul Syukur yang dikemas ulang.
“Waktu Teteh kecil lagu itu sudah ada, tapi belum begitu dikenal luas dengan lagam degung kawih. Terus Teteh ngimpleng, bagaimana caranya agar disukai oleh semua lapisan masyarakat?” ujarnya. Lahirlah lagu “Talak Tilu dan “Mobil Butut” dengan aransemen dangdut dan disko remix. Kedua lagu itu membuat namanya melambung dan mendongkrak penjualan albumnya, termasuk beberapa lagu di album-albumnya yang lain sebut saja “Peuting Munggaran” dan “Bohong Ah”.
Kini lagu “Talak Tilu” semakin dikenal luas masyarakat. Buktinya lagu ini sudah dialihbahasakan menjadi bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Bahkan, pekan lalu baru rampung tiga video klip untuk album kedua puluh. Di antaranya, “Galak Timuru”, “Kang Haji”, dan “Surabi Haneut”.
Sesudah bulan Puasa ini ia berencana menyelesaikan kontrak dengan perusahaan rekaman yang menaunginya dengan membuat tiga album lagi.
Kini, setelah meraih kesuksesan, ia kembali menetap di Sumedang meski kesibukannya lebih banyak di Bandung. Bersama keluarga, ia mengelola Bungsu Bandung Grup yang bergerak di usaha jasa hiburan. Usahanya berbuah manis, mobil baru keluaran Jepang yang diparkir di halaman rumahnya terparkir dengan megah. (Multazam Lisendra)***
Edisi Cetak - Minggu, 30 September 2007
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/092007/30/0503.htm