Nama Landasan Udara Wiriadinata Tasikmalaya adalah nama orang Situraja

![]()

Landasan Udara Wiriadinata terletak di Kelurahan Setiajaya, Setianegara, dan Setiaratu di Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya.
Nama Landasan Udara Wiriadinata Tasikmalaya adalah nama orang Situraja

![]()

Landasan Udara Wiriadinata terletak di Kelurahan Setiajaya, Setianegara, dan Setiaratu di Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya.
PERAN BAITUL MAAL WAT TAMWIL (BMT) DALAM PEMBERDAYAAN EKONOMI RAKYAT MELALUI KEUANGAN MIKRO : Studi Kasus : Peran BMT Amanah, Kecamatan Situraja, Sumedang
Oleh : Drs. Agus Hermawan - (13/06/2002)
MUQODDIMAH
Dampak krisis ekonomi berkepanjangan yang melanda negeri Indonesia hampir dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Meskipun besar kecilnya dampak tersebut berlainan antar lapisan masyarakat.
Namun, bagi masyarakat di lapisan bawah, dampak yang paling dirasakan adalah menurunnya daya beli karena harga-harga kebutuhan pokok meningkat dari harga sebelum krisis terjadi. Bagi masyarakat pelaku ekonomi rakyat (baca : pengusaha mikro) yang bergerak dalam penyediaan kebutuhan pokok (bisnis retail) krisis ekonomi tidaklah menghancurkan usaha mereka, namun bagi pelaku yang bergerak dalam usaha di luar kebutuhan pokok, dampak krisis ekonomi lebih teras dengan merosotnya omzet mereka.
Di sisi lain, lembaga-lembaga keuangan yang bergerak dalam skala makro (perbankan nasional), hampir berjatuhan satu persatu diterpa angin krisis tersebut. Dalam skala yang lebih bawah dari itu, adalah mulai rontoknya Bank-Bank Perkreditan Rakyat Konvensional. Sementara Bank umum yang tidak menganut sistem bunga, semacam Bank Muamalat Indonesia (BMI), masih bisa berdiri tegar ditengah-tengah krisis tersebut. Dari segi ini, kita bisa mengajukan sebuah dugaan bahwa sistem pengelolaan keuangan yang terkait dengan sistem global, apabila menerapkan sistem syariah cenderung bisa bertahan ditengah-tengah krisis.
Menengok lembaga keuangan mikro, bahwa ia lebih bisa bertahan di tengah-tengah krisis faktor utamanya bukan karena ia berdasarkan syariah atau tidak, tetapi karena ia tidak berkaitan langsung dengan sistem global. Karena, LKM baik yang berlandaskan syariah, seperti BMT, ataupun konvensional (yang menerapkan sistem bungan) ada yang tumbuh berkembang di tengah-tengah krisis adapula krisis adapula yang gulung tikar.
Justru kunci ketangguhan LKM ditengah-tengah krisis adalah faktor manajemen saja. Siapa yang menerapkan manajemen yang baik, dialah yang akan survive.
PEMAHAMAN DASAR TENTANG BMT
BMT singkatan dari Baitul Maal wat Tamwil, namun ada juga yang menyebutnya sebagai Balai Usaha Mandiri dan Terpadu. Perbedaan penyebutan ini sebenarnya akan menimbulkan penafsiran yang berbeda tentang BMT di lapangan.
Dalam makalah ini, yang akan dipaparkan adalah BMT sebagai Baitul Maal wat Tamwil, yang visinya adalah pemberdayaan ekonomi rakyat melalui pola syariah.
Dari perkataan Baitul Maal wat Tamwil ini, maka BMT memiliki 2 visi/misi : yaitu visi/misi sosial yang diwujudkan melalui Baitul Maal, dan visi/misi bisnis yang diwujudkan melalui Baitut Tamwil. Dengan demikian strategi BMT dalam pemberdayaan ekonomi rakyat ini adalah dengan memadukan visi/misi sosial dan bisnis.
Dalam segi operasi, BMT tidak lebih dari sebuah koperasi, karena ia dimiliki oleh masyarakat yang menjadi anggotanya, menghimpun simpanan anggota dan menyalurkannya kembali kepada anggota melalui produk pembiayaan/kredit. Oleh karena itu, legalitas BMT pada saat ini yang paling cocok adalah berbadan hukum koperasi.
Baitul Maal-nya sebuah BMT, berupaya menghimpun dana dari anggota masyarakat yang berupa zakat, infak, dan shodaqoh (ZIS) dan disalurkan kembali kepada yang berhak menerimanya, ataupun dipinjamkan kepda anggota yang benar-benar membutuhkan melalui produk pembiayaan qordhul hasan (pinjaman kebijakan/bungan nol persen).
Sementara Baitut Tamwil, berupaya menghimpun dana masyarakat yang berupa : simpanan pokok, simpanan wajib, sukarela dan simpanan berjangka serta penyertaan pihak lain, yang sifatnya merupakan kewajiban BMT untuk mengembalikannya. Dana ini diputar secara produktif/bisnis kepada para anggota dengan menggunakan pola syariah.
Dalam pengembangan selanjutnya, BMT mengembangkan “triangle” yaitu, Baitul Maal, Baitut Tamwil, dan sektor riil BMT. Untuk yang ketiga ini, BMT mendirikan untuk mengoptimalkan dana masyarakat.
PERAN BMT AL-AMANAH SUMEDANG
Pendirian BMT Al-Amanah Sumedang, yang mulai dioperasikan tanggal 9 Januari 1995, berangkat dari keprihatinan pendiri yang melihat kondisi para pengusaha mikro yang sangat kesulitan mendapatkan modal usaha.
Lembaga-lembaga keuangan formal yang ada belum bisa mengakses mereka dengan alasan “tidak bankable”. Akibatnya, mereka masuk dalam perangkat para rentenir yang menawarkan sistem pinjaman yang mudah dan cepat meskipun berbunga tinggi (bisa mencapai 20% / bulan).
Dalam identifikasi masalah dan solusinya ditemukan bahwa mereka memiliki potensi dana yang cukup besar apabila mereka bisa kerjasama satu sama lain. Apabila dilihat dari masing-masing individu, mereka memang cukup kesulitan mendapatkan modal usaha. Logikanya, seorang pengusaha mikro yang memiliki uang tunai Rp 10.000.00 akan sangat sulit untuk bisa mengembangkan usahanya. Namun apabila ada 50 orang saja yang memiliki modal sebesar itu dan mereka bersatu padu dalam satu wadah kerjasama, akan terhimpun modal Rp 500.000,00. Modal bersama ini apabila diputar dengan sistem manajemen tertentu akan cukup memberdayakan mereka, paling tidak, persoalan modal bukan lagi kendala dalam mengembangkan usaha.
Masalahnya adalah, wadah apa yang paling tepat untuk menghimpun potensi tersebut, dan sistem bagaimana yang bisa diterapkan dengan hasil yang efektif ?
Terlihat pada diri mereka (pengusaha mikro), ada rasa senasib dan sepenanggungan (persamaan kebutuhan). Karena itu, mereka harus dihimpun dalam wadah dimana mereka bisa turut serta memiliki wadah tersebut. Lalu, fakta menunjukkan bahwa, mereka bisa turut serta memiliki persamaan dalam mendapatkan modal, dan perputaran dana yang cukup cepat (simpan dan tarik), serta habisnya modal apabila terjadi musibah di dalam keluarga mereka.
Pada proses pencarian sebuah pemberdayaan, munculah model Baitul Maal wat Tamwil (BMT) seperti yang telah dipaparkan diatas. Dengan keterampilan hasil pelatihan BMT yang diselenggarakan oleh Yayasan Dompet Dhuafa Republika Jakarta di Semarang dan modal awal Rp 1 satu juga, para pendiri BMT Al-Amanah mulai mengoperasikan BMT di tengah-tengah masyarakat yang masih asing dengan simbol-simbol ke-Islaman. Dari modal tersebut, hanya setengahnya yang kami gulirkan ke tengah-tengah pengusaha mikro, diantaranya pedagang kaki lima, gendongan dan para pedagang kecil di Pasar Situraja, Sumedang.
Karena modal awal yang sangat minim, perlu dilakukan strategi penghimpunan dan pengelolaan dana yang efektif. Strategi yang pertama adalah sistem jemput bola. Dengan sistem jemput bola ini, petugas langsung mendatangi anggota baik anggota penyimpan maupun peminjam. Strategi ke dua, perputaran uang harus secara harian atau paling lama mingguan.
Kedua sistem ini memiliki beberapa keuanggulan, diantaranya :
a. Pelayanan cepat
b. Setoran berlipat
c. Dana bermanfaat
d. Modal jadi kuat
Khususnya dalam penghimpunan dana, beberapa cara kami lakukan, diantaranya :
a. Produk simpanan harus menarik. Kami ciptakan produk SIMANIS (Simpanan Andalan Umat Islam) dan SIBERKAH (Simpanan Berjangka Barokah), dan unutk anggota yang memiliki cicilan kios ditawarkan produk SIMPATIK (Simpanan Titipan Iuran Kios).
b. Mendatangi majelis-majelis taklim, pondok-pondok pesantren, TPA dan TQA, dan sekolah-sekolah umum.
c. Setiap peminjam diwajibkan menyimpan dananya minimal 30% dari total pinjaman yang berfungsi sebagai pinjaman.
d. Setiapa jenis simpanan diberikan jasa bagi hasil setiap bulan, meskipun kebanyakan anggota penyimpan tidak mengharapkan jasa simpanan (kecuali SIBERKAH).
Jumlah anggota masyarakat yang menitipkan dananya ke BMT Al-Amanah, dari bulan ke bulan menunjukkan peningkatan, rata-rata setiap bulan anggota penyimpan bertambah 50 orang. Hingga Juli 2000 tercatat yang menjadi anggota BMT Al-Amanah sebanyak 4551 orang anggota.
Sementara untuk penyaluran dana, disalurkan untuk pembiayaan yang produktif. Sesuai dengan sistem jemput bola dan sistem harian, maka usaha yang kami biayai unutk tahap awal adalah usaha yang perputaran dananya harian, seperti pedagang.
Pendekatan yang dilakukan dalam penyaluran dana adalah kelayakan usaha anggota dan kepribadian anggota, tidak menekankan pendekatan jaminan. Hingga Juli 2000 tercatat jumlah anggota peminjam sebanyak 416 orang (jumlah yang mengajukan permohonan terus mengikat namun kami tetap menyalurkan secara hati-hati), dengan sisa pinjaman diluar hingga Juli 2000 sebesar Rp 628.018.508,00.
Dengan sistem jemput bola harian, dana yang masuk dari anggota bisa diputar beberapa kali dalam masa tempo pembiayaan untuk anggota yang lain. Sebagai gambaran, dengan cara ini tahun 1999 total pinjaman yang sudah diberikan adalah sebesar Rp 1.277.480.756,00, dengan rata-rata perbulan disalurkan sebesar Rp 106.000.000,00.
Sebagai gambaran dari strategi diatas, dikemukakan data perkembangan jumlah simpanan dan asset tahun 1995 – Juli 2000 :
SIMPANAN DAN ASET BMT AL-AMANAH, SUMEDANG
TAHUN SIMPANAN ASSET
1995 Rp 7.244.604 Rp 12.217.025
1996 Rp 54.073.467 Rp 68.109.645
1997 Rp 120.673.917 Rp 190.745.610
1998 Rp 238.432.552 Rp 296.751.250
1999 Rp 406.977.060 Rp 528.055.473
2000 (Juli) Rp 569.205.531 Rp 720.066.358
Meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada BMT Al-Amanah Sumedang, sebagai lembaga keuangan mikro, karena ada beberapa faktor :
a. Eksternal
Kondisi masyarakat setempat, dalam hal ini pengusaha mikro, yang amat membutuhkan pelayanan modal yang mudah, cepat dan bahkan tidak memberaatkan. Hadirnya BMT telah menjadi alternatif pilihan terbaik diantara lembaga-lembaga keuangan yang ada baik informal maupun non formal.
b. Internal
Ada tiga kunci utama dalam pengelolaan BMT Al-Amanah yang dipandang turut mempersukses pengelola dana masyarakat, yakni :
1) Rubul Jihad
Para pengelola harus memiliki semangat yang tinggi untuk benar-benar memperhatikan dan mempedulikan akan pemberdayaan ekonomi rakyat. Tidak sekedar omong belaka.
2) Amanah
Para pengelola harus memiliki watak jujur dan berakhlak baik di masyarakat. Sikap amanah dan mendorong masyarakat untuk berani menitipkan dananya di BMT.
3) Fathonah
Para pengelola harus bersikap “cerdas” atau professional. Bekerja harus berdasarkan manajemen yang baik, pembukuan yang rapi dan memenuhi standar pembukuan yang ditetapkan.
Prinsipnya, mengelola keuangan mikro tidak boleh asal-asalan, tidak merupakan pekerjaan sambilan, namun harus menunjukkan keseriusan dan kemauan untuk benar-benar memperjuangkanekonomi rakyat. Kalau tidak begitu, program pemberdayaan ekonomi rakyat melalui lembaga keuangan mikro hanya isapan jempol belaka.
Lebih dari itu, lembaga keuangan mikro, harus menunjukkan sebuah lembaga yang benar-benar bisa dilirik oleh semua lapisan, tidak berkesan kumuh. Sehingga masyarakat bawah tidak meras malu memiliki lembaga, dan masyarakat atas tidak merasa ragu menitipkn dananya.
KHOTIMAH
Mudah-mudahan makalah ini memiliki nilai tambah bagi peserta diskusi. Berberapa informasi tambahan akan disampaikan secara lisan untuk memperluas diskusi. Hanya kepada Allah SWT jua-lah, kita panjatkan doa agar diskusi ini menelorkan program yang lebih baik di dalam pemberdayaan ekonomi rakyat. Amin.
Disampaikan pada Seminar dan Lokakarya Keuangan Mikro, Bandung 7- 8 September 2000
sumber: http://www.gema-pkm.org/cgi-bin/gema.pl?p=001&id=15

JAKARTA, Netsains - Temulawak disulap menjadi ginsengnya Indonesia? Keajaiban sains bisa saja melakukannya. Itulah yang tengah ditekuni oleh Dr.Yaya Rukayadi. Demi mewujudkan impiannya itu, Kang Yaya, demikian ia akrab disapa, memboyong temulawak ke Yonsei University, Seoul, Korea Selatan, untuk diteliti. Di sana lelaki kelahiran Sumedang 17 Agustus 1964 ini tercatat sebagai pengajar dan peneliti senior. Mengapa Kang Yaya yang hobi menulis cerpen berbahasa Sunda ini tertarik dengan temulawak? Yuk ikuti obrolan santai dengan Kang Yaya yang suka ngabodor alias melawak ini dengan Netsains.
Netsains (NS): Jika temulawak sukses menjadi andalan nasional, maka hak patennya dimiliki siapa ya Pak? Bapak sebagai penelitinya atau milik bersama dengan peneliti luar yang ikut terlibat?
Yaya Rukayadi (YR): Aduh kalau berbicara tentang paten, kita mesti ngerti dulu tentang paten itu ya, kan paten itu ada yang nasional dan ada yang internasional. Kami tidak mempatenkan temulawak di Korea karena temulawak kan milik umum , yakni Indonesia. Adapun senyawa bioaktif yang kami temukan juga sudah tidak bisa dipatenkan, karena ternyata senyawa itu sudah ditemukan oleh orang Jepang tahun 1970-an. Jadi yang kita patenkan adalah kegunaan dari senyawa bioaktif itu, itupun baru sebatas negeri Korea, bukan dunia, bukan internasional. Jadi jika ada orang Indonesia mau menggunakan senyawa aktif itu, silakan saja kami telah sepakat untuk membebaskannya. Sejauh ini patennya ditulis atas nama saya dan segenap rekan saya disini terutama bos saya. Tapi sekali lagi paten yang kami buat hanya berlaku di Korea, tidak menyangkut Indonesia, jadi jangan takut so far temulawak masih milik Indonesia. Banyak orang bicara paten, tapi sebenarnya orang tak tahu apa itu hakekat paten, itu sangat disayangkan, mestinya kalau belum mengerti ya belajar dulu apa itu paten, jangan terus ngomong paten tapi sebenarnya tidak tahu.
NS: Kenapa bapak tertarik dengan temulawak?
YR: Wah, jawabannya bisa banyak ya, diantaranya begini, di Situraja Sumedang, kampung halaman saya, tiap pagi ada orang jualan dodol koneng gede, koneng gede itu adalah bahasa Sunda-nya dari temulawak ya. Saya sangat menyukai dodol itu, enak sekali, apalagi kalau kelapanya banyak, sewaktu saya kecil, sewaktu saya tinggal di Situraja Sumedang ya sarapan pagi saya itu adalah dodol temulawak atau dodol koneng gede itu, nih saya kasih gambarnya dodol temulawak itu ya. Karena saya suka dodol koneng gede itu, jadi saya sangat tertarik dengan temulawak. Sampai sekarang saya kalau pulang ke Situraja selalu mencari dodol temulawak dan mencari tepungnya untuk dibawa ke Korea sehingga saya bisa membuat dodol temulawak di Indonesia.
Alasan yang ilmiahnya, ternyata setelah diteliti, ya kandungan senyawa bioaktif pada koneng gede atau temulawak itu ternyata banyak sekali ya, apalagi salah satu senyawa bioaktif yang saya kerjakan sekarang ini boleh dikatakan sebagai “angle compound, satu senyawa tapi punya banyak kegunaan, antikankernya ada, antibakterialnya ada, antifungalnya ada, hepatoprotektifnya ada, dan banyak lagi yang lainnya. Selain itu kan temulawak sudah banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk berbagai keperluan. Temulawak juga kan edible ya, bisa dimakan, jadi bisa sebagai makanan, minuman, sekaligus bisa jadi obat kan.
NS: Kira-kira berapa lama lagi studi bapak sukses dan bisa komersil?
YR: Lho kan salah satu angle compound yang kami isolasi dari temulawak sudah dimasukan ke odol produksi LG Korea, ini sudah lama beredar di pasaran Korea, makanya kami mendatangkan temulawak dari Indonesia yang notabene tanaman asli Indonesia. Sebentar lagi kan produk-produk lain seperti yogurt yang mengandung temulawak, permen dan lain sebagainya akan beredar di pasaran Korea. Kalau ditanya sampai kapan saya meneliti temulawak, maunya sih selamanya, kan penelitian itu tidak pernah selesai, masih banyak aspek yang belum diketahui, ginseng saja yang sudah leading masih tetep diteliti sampai sekarang, apalagi temulawak.
NS: Di Korea menjadi warga kehormatan karena apa Kang? Dan apa privilege-nya? hehehe..
YR: Saya menjadi warga kehormatan Korea, bukan karena risetnya, karena di Korea periset handal banyak sekali, dan kalau tidak salah penghargaan itu hanya diberikan kepada mereka yang melakukan significant terhadap kota Seoul khususnya dan Korea umumnya di bidang keagamaan, sosial budaya dan olah raga. Saya selain sebagai peneliti saya juga sudah hamper 6 tahun menjadi penyiar di KBS (Korean Broadcasting System) World Radio pada acara “Ajang Jumpa Kita” subprogram “Nafas Kehidupan Korea”, sebuah program diperuntukan bagi mereka yang menggunakan bahasa Malay-Indonesia.
KBS World Radio itu semacam RRI-Indonesia, yang hebatnya program itu disirkan dalam 11 bahasa di dunia, dan salah satunya Indonesia. “Nafas Kehidupan Korea” adalah sebuah program mingguan yang memperkenalkan tentang keseharian kehidupan orang Korea serta sejumlah tempat wisata, belanja, dan acara-acara menarik lainnya di Korea (http://world.kbs.co.kr). Menurut riset bahwa program saya itu secara nyata menaikan popularitas Korea, untuk itu saya dianugerahi Honorary Citizenship, dengan berbagai hak dan kewajibannya. Kewajiban khususnya ya tidak ada ya, cuman saya banyak mendapatkan keuntungan diantaranya saya bebas masuk objek wisata di Seoul, diundang keberbagai acara resmi, nanti kalau sudah tua diatas 65 tahun saya punya hak seperti orang Korea, dan lain sebagainya (http://english.seoul.go.kr/today/news/city/1244459_3326.html).
NS: .Kapan mau kembali ke Indonesia Kang?
YR: Kapan mau kembali ke Indonesia? Hampir tiap 3 bulan saya bolak-balik ke Indonesia untuk berbagai urusan terutama riset. Kalau menetap kembali di Indonesia kapan ya? Maunya punya lab dan kebun koleksi tanaman obat sendiri, sehingga bisa mengembangkan apa yang ada dalam pikiran ini. Tapi untuk membangun itu, tentu saja perlu uang, nah tabungan saya masih belum cukup untuk itu. Sementara ini belum ada rencana kembali dan menetap di Indonesia, tapi kan manusia hanya berencana, Allah yang menentukan, jadi kalau tiba-tiba Kang Yaya berada di Indonesia, itu suatu perjalanan skenario hidup yang harus dijalani, yang penting “try to do my best” dimana saja berada.
NS: Selain temulawak, ada tanaman lain yang sedang bapak teliti?
YR:Banyak ya khususnya tanaman obat Indonesia, bahkan sekarang kami sudah mengembangkan sayap ke tanaman obat Thailand, yang sedang saya fokuskan saat ini adalah temu kunci, pala, dan vanilla.
NS: Banyak spesies tanaman Indonesia yang belum tergali manfaatnya, justru sebagian patennya sudah dimiliki asing, bagaimana komentar bapak tentang itu?
YR: Ini tantangan bagi kita bangsa Indonesia, dan perlu kerja keras serat kerjasama antar instasi yang kokoh dan solid. Kita harus segera melakukan riset tentang barang kita, lalu publikasikan secara internasional bahwa kita juga sedang mengerjakannya. Tanpa publikasi internasional mana bisa kita dikenal orang dan mana bisa orang tahu bahwa sedang bekerja dengan tanaman tertentu.
Saya yakin lembaga riset Indonesia yang terkait sedang melakukan penelitian temulawak misalnya, tapi mana buktinya? Publikasi internasional itulah bukti nyata, tapi mana dari Indonesia, ada sih tapi jumlahnya sangat minim. Tapi di lab tempat saya bekerja, publikasi ilmiah temulawak bertarap internasional sudah sangat banyak, sehingga orang tahu bahwa di lab kita sedang berlangsung penelitian temulawak. Terus terang saya harus mengatakan bahwa ilmuan Indonesia masih minim melakukan publikasi internasional, sangat-sangat kurang, sayapun mungkin kalau tinggal di Indonesia belum tentu punya banyak publikasi internasional mengingat kondisi yang tidak saling mendukung.
Tentang paten sudah saya singgung diatas kan, tapi yang jelas kalau kita mengajukan paten misalnya di Korea, semuanya sudah jelas, sudah “puguh” jalur dan tahapan serta “guide line”- nya itu, dan sudah disosialisasikan pada masyarakat dengan akses yang sangat mudah. Tidak bertele-tele dan biayanya sudah jelas misalnya 300 dollar per paten, dan dalam jangka waktu setelat-telatnya 3 bulan pasti sudah ada putusan, sudah jelas nasib paten yang kita usulkan itu. Nah bagaimana di Indonesia hal ini apakah sudah segalanya jelas dan mudah? Saya tidak tahu. Kalau orang Indonesia ingin punya banyak paten ya lembaga yang mengurus patennya juga harus dibereskan supaya kerjanya jelas, efisien dan mudah. Di Korea juga ahli-ahli hukum khusus bidang paten (patent lawyer) sudah sangat banyak, bagaimana di Indonesia? Saya tidak tahu.
NS: Apakah bapak optimis dengan kondisi perkembangan sains di Indonesia?
YR: Optimis? Wah kalau bicara optimal pasti ada kondisi yang harus dicapai ya. Misalnya suatu enzim akan memberikan aktivitas optimum asalkan suhunya sekian, pH-nya sekian dengan waktu inkubasi sekian. Nah riset juga gitu, kalau kondisinya dirubah kearah yang kondusif saya yakin bisa, bahkan bisa lebih hebat toh Indonesia punya banyak scientist yang handal. Bukan saja sarana dan prasarana risetnya yang mesti dikondisikan juga hal-hal lainnya, misalnya kenaikan pangkat.
Ini dulu ya saat saya masih di Indonesia, koq banyak sekali orang menjadi professor tanpa publikasi internasional, ini kan aneh, atau banyak sekali orang yang menjadi APU (ahli peneliti utama) tanpa satupun publikasi internasional, heran kan? Karena memang tak disyaratkan barang kali ya? Tapi coba kalau disyaratkan minimal mesti punya 3 publikasi internasional pasti para peneliti dan dosen itu akan berlomba untuk publikasi internasional. Di Korea, kualitas dosen dan peneliti itu ditentukan oleh berapa banyak dan nilai publikasi internasional.
Yang lebih menyedihkan ada beberapa orang yang bekerja sudah cukup lama di lembaga riset Negara yang terkenal, tapi tidak mengerti apa itu impact factor (IF), padahal pangkat dia naik terus, bagaimana ini ? Masa seorang peneliti tidak mengerti IF sebuah jurnal internasional, salah satunya karena yang bersangkutan tidak pernah publikasi internasional yang ujung-ujungnya karena untuk kenaikan pangkat tak ditentukan dengan publikasi internasional, sedih dan prihatin kan kalau seorang peneliti negeri tidak mengerti apa yang harusnya dimengerti! [netsains.com. Merry Magdalena]
Bungsu Bandung dari Sinden ke Musik Pop Sunda
Nyeri, nyeri, nyeri moal beunang diubaran
Kajeun tutumpukan paeh ge teu panasaran
Meungpeung ngora keneh
Meungpeung urang can rimbitan
Pek geura serahkeun
Talak tilu sakalian
ANDA kenal lirik di atas? Tentu mengingatkan kita pada penyanyinya, Bungsu Bandung! Vokal dan gayanya selalu khas dalam setiap penampilannya di atas panggung, layaknya seorang sinden, anggun berkebaya dan sesekali lemah gemulai bergoyang jaipong. Itulah Hj. Mimi Setiawati atau lebih populer dengan nama Bungsu Bandung yang melejitkan tembang khas Sunda “Talak Tilu” dan “Mobil Butut”.
Lahir di lingkungan keluarga sinden dari Desa Mekarmulya Situraja, Sumedang. Wanita kelahiran 5 November 1962 ini merupakan anak bungsu dari lima bersaudara yang semuanya berprofesi sinden.
Nama Bungsu Bandung didapatnya setelah ia menikah dan ikut suaminya, Ujang Jamas, yang tinggal di bilangan Sukajadi Bandung. Dari sinilah nama Bungsu Bandung pelan tapi pasti mulai banyak dikenal orang berkat kemampuannya menyanyi.
Tiga puluh lima tahun sudah perempuan berputra tiga ini berkecimpung di bidang musik. Kemampuannya tidak sebatas menyanyi dangdut. Lagam degung, jaipong, ketuk tilu, wayang, sampai kasidah dikuasainya.
Karier dan ketenarannya di dunia seni musik ini dirintisnya dari bawah. Mengaku mental entertainernya sudah ditempa sejak kecil. “Manggung dari kampung ke kampung berjalan kaki, tukang kendang manggul kendang, tukang goong manggul goong teteh teh sok nangis, kurang tidurlah, cape!” kata Teteh Bungsu mengenang saat baru menekuni pekerjaan sebagai sinden. Waktu akhirnya membawanya ke dunia rekaman. Ia pun mengembangkan bakatnya bersama Grup Wayang Golek “Pusaka Siliwangi” berkeliling Jawa Barat dari satu pentas ke pentas lainnya. Hingga di awal tahun 1995, mencoba lagi menembus dapur rekaman. Saat itu Panama Record yang dituju langsung tertarik.
Setelah 12 tahun di dunia rekaman, tercatat 20 album dengan berbagai jenis musik dikerjakan. Dari degung, wayang, kecapi, kasidah, sampai dangdut sudah ia hasilkan. Hingga albumnya yang ke 16, nilai penjualannya tidak ada yang istimewa. Baru di album ke-17 ia mencoba menampilkan sesuatu yang berbeda.
Masuklah lagu “Talak Tilu” karya Ujang Suwanda dan “Mobil Butut” karya Abdul Syukur yang dikemas ulang.
“Waktu Teteh kecil lagu itu sudah ada, tapi belum begitu dikenal luas dengan lagam degung kawih. Terus Teteh ngimpleng, bagaimana caranya agar disukai oleh semua lapisan masyarakat?” ujarnya. Lahirlah lagu “Talak Tilu dan “Mobil Butut” dengan aransemen dangdut dan disko remix. Kedua lagu itu membuat namanya melambung dan mendongkrak penjualan albumnya, termasuk beberapa lagu di album-albumnya yang lain sebut saja “Peuting Munggaran” dan “Bohong Ah”.
Kini lagu “Talak Tilu” semakin dikenal luas masyarakat. Buktinya lagu ini sudah dialihbahasakan menjadi bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Bahkan, pekan lalu baru rampung tiga video klip untuk album kedua puluh. Di antaranya, “Galak Timuru”, “Kang Haji”, dan “Surabi Haneut”.
Sesudah bulan Puasa ini ia berencana menyelesaikan kontrak dengan perusahaan rekaman yang menaunginya dengan membuat tiga album lagi.
Kini, setelah meraih kesuksesan, ia kembali menetap di Sumedang meski kesibukannya lebih banyak di Bandung. Bersama keluarga, ia mengelola Bungsu Bandung Grup yang bergerak di usaha jasa hiburan. Usahanya berbuah manis, mobil baru keluaran Jepang yang diparkir di halaman rumahnya terparkir dengan megah. (Multazam Lisendra)***
Edisi Cetak - Minggu, 30 September 2007
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/092007/30/0503.htm
|
Pantang Menyerah Perjuangkan Kelestarian Lingkungan |
||
|
Umar Wirahadikusumah (In Memoriam)

Umar Wirahadikusumah, Jenderal Purn
Lahir:
Situraja, Sumedang, Jawa Barat, 10 Oktober 1924
Agama:
Islam
Jabatan Terakhir:
Wakil Presiden RI (1983-1988)
Meninggal:
Jakarta, 21 Maret 2003
Isteri:
Ny Karlinah Djaja Atmadja (nikah 2 Februari 1957)
Anak:
Rini Ariani dan Nila Shanti
Cucu:
Enam orang
Pendidikan Umum:
Eropesche Lagere School (1935-1942)
MULO (1942-1945)
SMA (1955-1957)
Universitas Padjadjaran (1957)
Pendidikan Militer:
Sunen Dancho (1943)
PETA (1944)
Chandra Muka (1951)
SSK AD (1955)
Sus Jenderal (1966)
Karir:
Komandan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Cicalengka (1945)
Wakas Res. X Tasik (1946)
Ajudan Panglima Kodam (Pangdam) VI
Dirlat di Garut (1947)
Komandan Batalyon (Danyon) 1-U/III Cirebon (1947),
Danyon IV/Be XIII Solo (1949),
Komandan Komando Militer Kota (Dan KMK) Cirebon
Kas Ur Ex Knil Div Siliwangi (1950),
Ka Su-II Div. Siliwangi (1951),
Kas Brigif-L Cirebon (1952),
Dan Res XI/Cop Sektor A-1 (1952-l953)
lnspektur Jenderal (Irjen) T & TIll (1953-1954)
Pengganti Sementara (Pgs) Su.2 TT III (1954-1957)
Dan Men 10-Dan RTP Sibolga (1957)
Komandan Komando Militer Kota Besar (Dan KMKB) Jakarta Raya (1959).
Pejabat (Ps) Pangdam V/Jaya-I (1960)
Pangdam V/Jaya-1 (1961-l965)
Panglima Komando Strategi Tjadangan Angkatan Darat (Pangkostrad) (1965-l967)
Pangkolaga (1966)
Wakil Panglima Angkatan Darat (Wapangad) (1967.1969)
Kepala Staf AD -(Desember 1969-AprII1973)
Ketua Badan Pengawas Keuangan (BPK) (1973-l9B3)
Wakil Presiden RI (1983.1988)
Operasi Militer:
Perlucutan senjata Jepang di Cicalengka/Tasikmalaya (l945)
Kerusuhan “Merah” di daerah Cirebon, Breber dan Tegal (1946-1947)
Clash I (1947-l948),
Wehr Kreise II/Daerah Gerilya III Kuningan Barat sebagai Komandan Batalyon I Brigade Cirebon (1947 -l948)
Menghacurkan pasukan Sutan Akbar Ciniru/Kuningan (1947)
Menumpas Peristiwa Madiun sebagai Komandan Batalyon IV (l948-l950),
Clash II sebagal Komandan Ko Troepen Long Mars Solo-Tasikmalaya Barat-Clamis Utara (1948-1950),
Penumpasan Darul Islam (Dl) Jawa Barat (1950-1952),
Penumpasan PRRI di Tapanuli (1958)
Penumpasan G-30-S/PKI sebagai Pangdam V/Jaya (l965)
Penghargaan:
Bintang Dharma,
Bintang Gerilya
Kartika Eka Paksi I-II-III
Jalasena Klas I-II
Bhayangkara I-II
Kesetiaan 24 (XXIV) tahun Perang Kemerdekaan I-II
GOM I-II-V
Sapta Marga
Wira Dharma
Lencana Penegak
Dwija Sista,
Das Gross Vergenst Kreus Jerman,
Legion of Merit USA
Orde van Oranye Nassau-Nederland
Panglima Setia Mahkota-Malaysia
Bintang Keamanan no 1 dari Korea Selatan
Alamat:
Jalan Teuku Umar No.61 Jakarta Pusat
Mantan Wakil Presiden RI ke-4 (1983-1988) Umar Wirahadikusumah menghembuskan napas terakhir, sekitar pukul 07.53 WIB, Jumat 21 Maret 2003 di Rumah Sakit Pusat TNI-AD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, setelah sempat mendapat perawatan intensif selama dua pekan. Ia seorang putera terbaik bangsa yang jujur, rendah hati, taat pada aturan main dan lebih banyak bekerja daripada berbicara. Mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan ini juga dinilai relatif bersih dari KKN. Ia juga orang yang legowo, tidak ambisius, menerima apa adanya. Mantan Pangkostrad kelahiran Situraja, Sumedang, Jawa Barat 10 Oktober 1924, yang wafat pada usia 79 tahun, ini meninggalkan seorang istri, Ny Karlinah Djaja Atmadja, yang dinikahinya 2 Februari 1957, dan dua orang anak, Rini Ariani dan Nila Shanti, serta enam orang cucu. Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat petang pukul 16.00, dengan upacara militer yang dipimpin mantan Wapres Jenderal (Purn) Try Sutrisno dan komandan upacara Kolonel Tisna Komara (Asisten Intelijen Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat/Kostrad). Ia menderita penyakit jantung selama 13 tahun dan telah menjalani operasi by pass jantung tahun 1989 di Herz Und Diabetes Zentrum di Badoeyhausen, Jerman. Setelah operasi jantung tersebut, kesehatan almarhum cukup baik, bahkan tetap bisa berolahraga golf. Namun sejak September 2002, jantung mantan Pangdam V Jakarta Raya (1960-1966) ini kembali mengalami gangguan dan harus menjalani perawatan lagi di Jerman.
Sepulang dari perawatan di Jerman, ia terus menjalani home care karena daya pompa jantungnya telah sangat melemah dan adanya bendungan pada paru sehingga mengakibatkan sesak napas. Sejak 5 Maret 2003, ia dirawat di paviliun Kartika RSPAD, sejak 8 Maret 2003, mendapat perawatan di ruang ICU, hingga akhirnya wafat.
Setelah dimandikan di rumah duka RSPAD, sekitar pukul 12.00 WIB, jenazahnya diusung ke Mesjid Istiqlal untuk disembahyangkan. Kemudian, epat pukul 13.00, tiba di rumah kediaman Jl Teuku Umar No.61, Jakarta Pusat untuk disemayamkan. Beberapa tokoh melawat di antaranya mantan Presiden Soeharto, Presiden Megawati Soekarnoputri, Wapres Hamzah Haz, mantan Presiden ke-3 RI BJ Habibie, Mantan Wakil Presiden (Wapres) Sudharmono, Menko Kesra Jusuf Kalla, KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu, KSAL Laksamana Bernard Kent Sondakh, Kepala Polri Jenderal (Pol) Da’i Bachtiar, Pangkostrad Letjen Bibit Waluyo, Pangdam Jaya Mayjen Djoko Santoso, dan Kepala BIN Hendropriyono.
Upacara pelepasan jenazah di rumah duka dipimpin oleh KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu dengan komandan upacara Kolonel M Nizam (Asisten Perencanaan Kostrad).
Bekerja
Penerima beberapa penghargaan (bintang jasa) ini dikenal sebagai sosok pejabat yang lebih banyak bekerja daripada bicara. Ia juga seorang yang sangat taat pada aturan. Ia tidak suka melihat staf atau pejabat lain yang tidak menaati peraturan. Ia juga orang yang rendah hati dan tak mau menonjol-nonjolkan diri. Ia bukan orang yang menghalalkan segala cara untuk meraih sesuatu atau jabatan.
Ketika ia dipilih menjadi Wakil Presiden (1983-1988), banyak kalangan tidak menduga sebelumnya. Tapi sosoknya yang tidak ambisius rupanya telah menempatkannya memperoleh kepercayaan dari Presiden Soeharto ketika itu. Saat ia digantikan Sudharmono sebagai Wakil Presiden, tak sedikit pun tampak rasa kecewa dalam penampilannya. Ia orang yang legowo.
Ia juga orang yang relatif bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Maka ketika pemerintahan Orde Baru berakhir, dimana banyak pejabatnya disorot karena diduga terlibat KKN dan pelanggaran hak-hak asasi manusia, ia tidak pernah diusik. Sebab ia tergolong yang relatif bersih di antara banyaknya pejabat yang diduga bergelimang KKN.
Putera kelima dari pasangan Raden Rangga Wirahadikusumah (Wedana Ciawi, Tasikmalaya) dan Raden Ratnaningrum (putri Patih Demang Kartamenda di Bandung), ini memperoleh pendidikan di Eropesche Lagere School (1935-1942)
MULO (1942-1945), SMA (1955-1957) dan Universitas Padjadjaran (1957).
Memulai pendidikan kemiliteran pada zaman Jepang. Ia mengikuti latihan pemuda Seinendojo (Sunen Dancho) Tangerang (1943), lalu masuk latihan perwira (Shoodanchoo) Tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor (1944). Kemudian pendidikan Chandra Muka (1951), SSK AD (1955) hingga Sus Jenderal (1966).
Perjalanan karirnya dimulai sebagai Komandan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Cicalengka, Jawa Barat (1945). Pada masa awal Revolusi itu, sejumlah pemuda Sunda bergabung masuk tentara. Sebagian dari mereka berasal dari keluarga bangsawan, di antaranya Umar Wirahadikusumah (zoon van de Wedana van Ciawi Tasikmalaya). Ia masuk tentara atas kesadarannya sendiri untuk membela tanah air.
Anak bangsawan yang sudah berpendidikan formal MULO (SMP) mendirikan TKR di Cicalengka taanggal 1 September 1945. Kemudian menjadi Wakas Res. X Tasikmalaya (1946) dengan pangkat kapten. Lalu menjadi Ajudan Panglima Kodam (Pangdam) VI Siliwangi (yang ketika itu dijabat AH Nasution). Setelah itu menjadi Dirlat di Garut (1947) serta Komandan Batalyon (Danyon) 1-U/III Cirebon (1947). Kemudian dipercaya menjabat Danyon IV/Be XIII Solo (1949), Komandan Komando Militer Kota (Dan KMK) Cirebon, Kas Ur Ex Knil Div Siliwangi (1950), Ka Su-II Div. Siliwangi (1951), Kas Brigif-L Cirebon (1952), Dan Res XI/Cop Sektor A-1 (1952-l953) dan lnspektur Jenderal (Irjen) T & TIll (1953-1954).
Ia pun sempat menjadi Pengganti Sementara (Pgs) Su.2 TT III (1954-1957) sebelum menjabat Dan Men 10-Dan RTP Sibolga dengan pangkat Letkol (1957). Dari Sibolga, ia dipromosikan menjabat Komandan Komando Militer Kota Besar (Dan KMKB) Jakarta Raya (1959). Lalu menjadi Pejabat (Ps) Pangdam V/Jaya-I (1960) sampai menjadi Pangdam V/Jaya-1 (1961-l965) dengan pangkat kolonel kemudian Brigjen. Pada saat menjabat Pangdam V/Jaya ini ia ikut menumpas G-30-S/PKI.
Selain penumpasan G-30-S/PKI, ia juga banyak terlibat dalam operasi militer, mulai dari perlucutan senjata Jepang di Cicalengka/Tasikmalaya (l945), Kerusuhan “Merah” di daerah Cirebon, Breber dan Tegal (1946-1947), Clash I (1947-l948), dan Wehr Kreise II/Daerah Gerilya III Kuningan Barat sebagai Komandan Batalyon I Brigade Cirebon (1947 -l948).
Ia juga ikut dalam operasi penghancuran pasukan Sutan Akbar Ciniru/Kuningan (1947), penumpasan Peristiwa Madiun sebagai Komandan Batalyon IV dengan pangkat mayor (l948-l950), Clash II sebagal Komandan Ko Troepen Long Mars Solo-Tasikmalaya Barat-Clamis Utara (1948-1950), penumpasan Darul Islam (Dl) Jawa Barat (1950-1952), dan penumpasan PRRI di Tapanuli (1958).
Kehandalannya mendukung Panglima Kostrad Mayjen Soeharto menumpas PKI, ia pun dipercaya menjabat Panglima Komando Strategi Tjadangan Angkatan Darat (Pangkostrad) (1965-l967) menggantikan Mayjen Soeharto sendiri. Beberapa bulan kemudian diangkat menjadi Pangkolaga (1966). Lalu menjadi Wakil Panglima Angkatan Darat (Wapangad) (1967-1969). Karir militernya berpuncak sebagai Kepala Staf AD (Desember 1969-AprII1973). Setelah itu, ia menjabat Ketua Badan Pengawas Keuangan (BPK) selama 10 tahun (1973-l983). Kemudian ia terpilih menjabat Wakil Presiden RI (1983-1988) mendampingi Presiden Soeharto.
Umar seorang prajurit pejuang yang taat beragama. Ia selalu tertib melakukan shalat liwa waktu. Ketika menjabat wakil presiden, pada setiap bulan Ramadhan, dia selalu mengadakan shalat tarawih di Istana Wakil Presiden. Ia juga orang yang tidak suka kemewahan dan berfoya-foya. Ia orang yang sederhana.
Saat awal menjabat wapres, ia dan keluarganya enggan meninggalkan rumah pribadinya di Jalan Agus Salim yang sederhana untuk pindah ke rumah dinas yang sudah disiapkan. Sebenarnya ia lebih senang tinggal di rumah yang mungil dan sederhana itu. Namun, karena jabatannya, dan setelah melalui perdebatan yang sedikit alot, akhirnya ia bersedia pindah ke rumah dinas dan menggunakan mobil dinas wapres yang disediakan Sekretariat Negara.
Ia satu di antara sedikit pejabat yang berkeinginan memberantas korupsi di negeri ini. Semasa kondisi kesehatannya masih baik, ia sering main tenis, golf dan jalan kaki di waktu pagi di pekarangan rumahnya bersama istrinya. Kini, ia telah pergi, dengan meninggalkan kenangan baik bagi bangsanya. *** Ensiklopedi Tokoh Indonesia http://tokohindonesia.com/ensiklopedi/u/umar-wirahadikusumah/index.shtml
T. WAHYUDIN TOKOH TARI SUNDA ASAL SITURAJA
Biografi
Tempat/Tanggal Lahir: Sumedang, 1 Mei 1933
Alamat: Kecamatan Situraja Sumedang
Pengalaman Belajar Menari, antara lain: Tahun 1942 belajar tari Keurseus dari Winata
Raksapraja (Ayahnya), Tahun 1951 belajar Tari Keurseus dan Wayang wong dari
R. Sadeli Hardjadinata, Tahun 1952 belajar tari Keurseus dan Tari Wayang dari R.Ono
Lesmana Kartadikusumah
Piagam Pengahargaan, antara lain: Juara lomba Tari Keurseus (Gawil) se-Jawa Barat
(1974), juara Festival tari Keurseus (Lenyepan) se-Jawa Barat (1980), dan dari Bupati
Sumedang sebagai Tokoh Tari (1999)
http://media.diknas.go.id/media/document/3864.pdf
Tabel Luas Wilayah dan Kelompok Ketinggian
Menurut Kecamatan
|
No. |
Kecamatan |
Luas (Km2) |
Ketinggian dari permukaan laut (m) |
|||||
|
25 - 50 |
51 - 75 |
76 - 100 |
101 - 500 |
501 - 1000 |
> 1000 |
|||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1. |
Jatinangor |
2620 |
- |
- |
- |
- |
2872 |
- |
|
2. |
Cimanggung |
4076 |
- |
- |
- |
- |
1969,05 |
1854,73 |
|
3. |
Tanjungsari |
3562 |
- |
- |
- |
- |
5166,7 |
7059,27 |
|
4. |
Sukasari |
4712 |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
|
5. |
Pamulihan |
5785 |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
|
6. |
Rancakalong |
5228 |
- |
- |
- |
- |
6627,85 |
1065,53 |
|
7. |
Sumedang Selatan |
11741 |
- |
- |
- |
1326,62 |
6989,45 |
3290,45 |
|
8. |
Sumedang Utara |
2825 |
- |
- |
- |
2374,66 |
2035,11 |
- |
|
9. |
Ganeas |
2136 |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
|
10. |
Situraja |
5398 |
- |
- |
- |
7226,38 |
1776,58 |
24,37 |
|
11. |
Cisitu |
5331 |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
|
12. |
Darmaraja |
5495 |
- |
- |
- |
4980,25 |
2347,2 |
479,12 |
|
13. |
Cibugel |
4880 |
- |
- |
- |
896,34 |
3007,26 |
1087,29 |
|
14. |
Wado |
7642 |
- |
- |
- |
5924,05 |
4243,31 |
1517,55 |
|
15. |
Jatinunggal |
6149 |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
|
16. |
Jatigede |
11197 |
- |
- |
- |
11666,04 |
- |
- |
|
17. |
Tomo |
6626 |
2256,71 |
2099,34 |
1325,4 |
1889,28 |
- |
- |
|
18. |
Ujungjaya |
8056 |
3601,34 |
2489,3 |
1417,88 |
498,33 |
- |
- |
|
19. |
Conggeang |
10616 |
- |
209,48 |
855,31 |
8225,27 |
1145,68 |
95,47 |
|
20. |
Paseh |
3352 |
- |
- |
- |
2036,81 |
692,19 |
- |
|
21. |
Cimalaka |
4162 |
- |
- |
- |
1913,36 |
4374,46 |
432,81 |
|
22. |
Cisarua |
1892 |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
|
23. |
Tanjungkerta |
4014 |
- |
- |
- |
5573,59 |
4954,53 |
- |
|
24. |
Tanjungmedar |
6514 |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
|
25. |
Buahdua |
13137 |
- |
875,42 |
3696,23 |
12033,57 |
1138,34 |
558,19 |
|
26. |
Surian |
5074 |
- |
- |
- |
- |
- |
- |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Jumlah |
152220 |
5858,05 |
5673,54 |
7294,82 |
66564,55 |
49339,71 |
17464,78 |
http://jabar.bps.go.id/Kab_Sumedang/topografi.htm
Yaya, Peneliti Temulawak di Korea

Di sekitar laboratorium tempat Dr Yaya Rukayadi (43) berkutat dengan kesibukannya sebagai peneliti senior sekaligus pengajar di Yonsei University, Seoul, Korea Selatan, terdapat sejumlah tanaman obat Indonesia, khususnya temulawak. Tanaman tersebut sengaja dikirim dari Tanah Air ke Negeri Ginseng itu untuk diteliti.
Dari pertanyaan mengapa tanaman obat di Indonesia diteliti di Korea, Yaya Rukayadi mengawali ceritanya. Ia ingin agar temulawak bisa dijadikan “merek” Indonesia, sama seperti ginseng yang sudah menjadi merek atau setidaknya membuat orang ingat Korea.
“Kalau orang ngomong ginseng, pasti asosiasinya Korea. Padahal, negara yang memproduksi ginseng terbesar di dunia adalah Kanada dan China. Orang Korea juga mengimpor bahan dasar ginseng dari Kanada dan China,” ungkap Yaya Rukayadi dalam percakapan dengan Kompas awal Agustus 2007 di Yonsei University, Seoul.
Obsesi Yaya menjadikan temulawak sebagai ikon tanaman obat dari Indonesia sama seperti ginseng yang sudah menjadi ikon Korea.
Di Indonesia, untuk tanaman obat temulawak (Curcuma xanthorrhiza), jangankan kultivasi yang benar, pemetaan temulawak pun data resminya belum ada. Oleh sebab itu, Yaya bekerja sama dengan Pusat Penelitian Biopharmaca di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Departemen Pertanian untuk membuat riset dasar tentang temulawak.
Tak punya musuh
Temulawak adalah tanaman yang hampir tak memiliki musuh (hama). Tanaman ini menghasilkan antijamur, ia tak akan terkena jamur karena temulawak sendiri menghasilkan jamur.
Tanaman temulawak di Indonesia hanya ada di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Maluku Selatan. Menurut Yaya, temulawak bisa tumbuh di Sumatera, tetapi tidak bisa sebaik kalau ditanam di Pulau Jawa. Untuk lebih memopulerkan dan memperkenalkan tanaman temulawak ke forum internasional, Yaya bekerja sama dengan IPB untuk mendeklarasikan Kongres Internasional Temulawak pertama pada Maret 2008 di Bogor, Jawa Barat.
Presiden Susilo bambang Yudhoyono, tutur Yaya, mengundang dia ke Istana Presiden di Jakarta untuk mempresentasikan secara rinci soal temulawak tersebut. “Kebetulan akhir Oktober nanti saya menjadi salah satu pembicara pada simposium internasional tentang farmasi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Di forum itu, saya diundang sekaligus berbicara bersama 11 ahli farmasi dunia,” ujar Yaya.
Meski “terpakai” di Indonesia, Yaya memilih tinggal di Korea. Agaknya motivasi dia untuk tetap “bertahan” tinggal, mengabdikan diri, serta mendalami ilmunya di Korea sama dengan umumnya warga Indonesia yang memilih tinggal di luar negeri. Mereka mampu berprestasi, tetapi kurang dihargai di negeri sendiri.
Warga kehormatan
Di negara lain, mereka bisa lebih bebas mendalami ilmu, berprestasi, sehingga bisa mendapatkan penghargaan yang layak. Bahkan, Yaya yang tinggal di Seoul sejak tahun 2000 itu tak hanya menjadi peneliti senior dan pengajar pada perguruan tinggi swasta Yonsei University, tetapi juga menjadi salah satu warga kehormatan di
Kota Seoul.
Karena itu, ketika Presiden Yudhoyono bertemu dengannya di Korea dan menawarkan kembali ke Tanah Air dan mengabdikan ilmunya di Indonesia, Yaya merasa bimbang. Ia tak segera menerima tawaran tersebut.
“Kembali ke Indonesia, saya pikir bukan satu-satunya jalan terbaik. Kalau pulang ke Indonesia, apakah saya bisa mengembangkan ide-ide saya secara bebas? Jangan-jangan kalau saya pulang ke Indonesia, malah saya menjadi birokrat, bukan peneliti lagi. Saya tidak ingin pulang ke Indonesia, lalu duduk di belakang meja, kemudian tunjuk sana tunjuk sini. Nah, masalah itu yang sedang saya pikirkan,” tutur Yaya.
Di Korea, dia merasa bebas melakukan apa pun yang ingin dikerjakan. Di Negeri Ginseng, seorang ilmuwan tidak disibukkan dengan urusan birokrasi seperti halnya di Indonesia. Kegiatan lain Yaya di samping menjadi ilmuwan adalah sebagai tamu pada program siaran seksi Indonesia di Radio KBS Seoul.
Padahal, cita-cita Yaya sebenarnya ingin menjadi seorang guru. Oleh karena itu, dia bersikeras kepada orangtuanya agar bisa belajar di sekolah pendidikan guru di Kota Sumedang. Namun, orangtuanya ingin supaya Yaya belajar di sekolah menengah atas (SMA). Kebetulan, di Situraja, tempat tinggalnya dulu, ketika itu baru berdiri SMA.
Setelah lulus SMA tahun 1983, dia mengikuti beberapa kali ujian masuk perguruan tinggi melalui sistem Proyek Perintis (PP) I sampai PP IV. Selain diterima pada Jurusan Farmasi ITB, Yaya juga lolos seleksi di IPB. Ia pun diterima di Jurusan Biologi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung, atau sekarang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Yaya kemudian memutuskan mengambil Jurusan Farmasi ITB. Namun, rupanya cita-cita untuk menjadi guru tetap membayangi sehingga kuliah di ITB hanya dijalaninya setahun. Ia lalu memutuskan pindah ke IKIP Jurusan Biologi hingga sarjana, kemudian menyelesaikan program S-2 dan S-3 di IPB.
Pada waktu melakukan penelitian program doktor, dia pernah dikirim dan lolos seleksi masuk University of California di Berkeley, Amerika Serikat (AS), tahun 1996 untuk mempelajari tentang biokontrol pada penyakit kedelai.
Setiap tahun, kata Yaya, University of California hanya menerima 20 mahasiswa melalui seleksi yang ketat. Dari jumlah mahasiswa itu, 10 di antaranya merupakan warga AS, sedangkan sisanya dari luar AS.
“Ketika itu saya satu-satunya mahasiswa dari Asia,” ucap Yaya, yang juga sempat melakukan penelitian biokontrol untuk penyakit kedelai di University of Edinburgh, Skotlandia, tahun 1998.
Akan tetapi, dari hasil riset soal kedelai di AS itulah Yaya Rukayadi kemudian memperkenalkan salah satu rumus kimia YR 32-menyangkut penyakit kedelai-kepanjangan dari Yaya Rukayadi, sedangkan angka 32 adalah umur dia saat melakukan penelitian tersebut.
Setelah meraih S-3, Yaya tertarik pada temulawak sebab sepengetahuannya tanaman itu hanya ada di Indonesia. Ia lalu memusatkan perhatiannya pada temulawak.
Keinginannya untuk meneliti lebih jauh manfaat temulawak semakin terbuka lebar saat dia diajak Prof Jae Kwan-hwang, pengajar pada Yonsei University, untuk bergabung sebagai peneliti sekaligus pengajar pada perguruan tinggi tersebut.
Dari hasil penelitian pada temulawak, dia antara lain menemukan fungsi temulawak sebagai antiketombe. Temulawak juga bisa dimanfaatkan sebagaipasta gigi. Menurut Yaya, temulawak pun sangat mungkin dapat digunakan untuk mengatasi penyakit kanker. Meski untuk itu, masih diperlukan penelitian lebih lanjut.
Meski cukup sibuk, Yaya tetap menyempatkan diri menulis hasil penelitiannya tentang temulawak untuk jurnal-jurnal ilmiah internasional. Alasannya, agar temulawak menjadi perhatian lebih banyak peneliti di dunia.
BIODATA
* Nama : Dr Yaya Rukayadi
* Lahir : Sumedang, 17 Agustus 1964
* Keluarga : Dia anak bungsu dari enam bersaudara
* Hobi : Fotografi, jalan-jalan, dan menulis. Salah satu hobinya
adalah menulis cerita pendek (carita pondok-carpon)
pada Majalah “Sunda Mangle”.
* Pendidikan:
- Lulus SMA, 1983
- Kuliah pada Jurusan Farmasi ITB, 1983-1984
- Sarjana Biologi IKIP Bandung, 1984-1990
- Program Master (S-2) di IPB Bogor, 1992-1995
- Program Doktor (S-3) di IPB, 1995-1998
* Kegiatan Lain:
- Menjadi pembawa acara pada Radio Korea International (RKI)
- Korean Broadcasting System (KBS), 2002
* Penghargaan:
- Sebagai Warga Kehormatan Kota Seoul, 2007, dia antara lain bisa
bepergian ke mana saja di kota itu secara gratis
link :http://www.kompas.com/ver1/Negeriku/0710/25/052320.htm
Budidaya Sawo Sukatali ST 1, Secuil Beban dari Komoditas Unggulan
Senin, 02 Juli 07 - oleh : admin

Desa Sukatali berada di wilayah Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang. Nama desa ini cukup dikenal berkat buah Sawo. Orang mengenal buah sawo khas Desa Sukatali bukan hanya karena banyak warganya yang menanam buah itu, melainkan tipikal buahnya. Buah sawo asli Desa Sukatali memiliki sejumlah keistimewaan, antara lain, rasanya sangat manis dan tidak mudah busuk. Selain itu, jika ditekan, terasa tidak lembek. Konsumen sering terkecoh karena menyangka buah sawo masih mentah.
Buah Sawo Desa Sukatali memiliki kandungan gizi yang tinggi. Kandungan protein, lemak, kalsium, fosfor, zat besi, dan vit C buah ini dinilai lebih tinggi dibandingkan apel.
Konon, sejarah buah sawo Desa Sukatali tak terlepas dari nama seorang abdi dalem Pangeran Soeriatmadja yang bernama Satir. Ia diberi tanaman itu oleh Pangeran Soeriatmadja karena kurang terpelihara. Satir kemudian menanamnya di tempat tinggalnya, Desa Sukatali. Lama kelamaan, pohon sawonya semakin banyak.
Salah seorang warga Desa Sukatali yang memiliki banyak pohon sawo adalah Eros Rosmala (61). Lahan di sekitar rumahnya banyak ditumbuhi pohon ini. Katanya, memelihara tanaman sawo khas Desa Sukatali tidak begitu rumit. Hanya diberi pupuk kandang dan rajin disiangi, pohon sawo akan berbuah lebat. Penggunaan pestisida juga dihindari. Oleh karena itu, sawo ini bebas dari kimia.
Dahulu, buah sawo Desa Sukatali dikenal dengan nama Sawo Apel Kapas. Pada 2002, nama itu berubah menjadi Sawo Sukatali ST1. Aturannya,, tidak dibenarkan pemakaian tiga nama untuk satu komoditas.
Menurut Ir. Ateng, Kabid Tanaman Holtikultura Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Holtikultura, Kabupaten Sumedang, kode “ST1” merupakan kepanjangan dari Sumedang Tandang 1. Kode ini tidak hanya berlaku untuk buah sawo Desa Sukatali, tetapi juga untuk komoditas unggulan lainnya, misalnya, Umbi Cilembu ST1.
Sebagai komoditas unggulan, kini pembudidayaan buah Sawo Sukatali ST1 tidak hanya terpusat di Desa Sukatali. Instansi terkait telah membuka lahan pengembangan di Kecamatan Situraja, Cisitu, dan Kecamatan Darmaraja. Di atas lahan seluas 3.672 hektar yang mencakup ketiga kecamatan itu, telah ditanam kurang lebih 32.847 pohon sawo Redaksi) http://www.inkubator-bisnis.com/?pilih=lihat&id=22