MATO REOG FESTIVAL 2008 : DARI SITURAJA UNTUK PELESTARIAN KESENIAN REOG SUNDA

Ada banyak hal menarik dari pelaksanaan “MATO Reog Festival 2008″ yang dilaksanakan di Alun-Alun Kecamatan Situraja Kabupaten Sumedang, 29 s.d. 30 Nopember 2008. Ketika pembukaan dimulai terlihat deretan motor klasik seperti B SA, Norton, BMW, DKW, AJS, Ariel, Thor, Matchless, Jawa, Villiers, Puch, dan motor klasik lainnya yang diparkir di Alun-Alun Situraja. Demikian pula nampak orang-orang yang mengenakan baju dan jaket kulit hitam,bercelana jeans dan beraksesoris khas para pengendara motor besar. Ya, jangan kaget, acara ini memang disponsori oleh komunitas pecinta motor klasik yaitu Bikers Brotherhood Mother Chapter Bandung, yang juga melibatkan pegiat seni Kecamatan Situraja yang tergabung dalam wadah Parikesit serta Paser Bandung.
Unik memang, para bikers ketika datang disambut dengan upacara adat dan tarian khas daerah Situraja yaitu Tarian Umbul. Menyatunya para bikers dengan atmosfer kesenian dan budaya lokal menegaskan bahwa mereka adalah komunitas yang peduli dan mencintai seni budaya daerah dan mampu berbaur dengan masyarakat kalangan manapun serta tidak kehilangan akar budayanya. “Support Your Local”, “Brotherhood for Indonesian Culture”, demikian diantaranya banner yang ditampilkan oleh Bikers Brotherhood MC, disamping banner lain yang berisi semangat nasionalisme. Sungguh suatu bentuk kepedulian yang mengagumkan.
Acara yang disambut antusias oleh warga Situraja ini dimaksudkan sebagai upaya untuk memelihara dan melestarikan kesenian daerah yang cukup populer di masyarakat Sumedang pada jamannya, yaitu kesenian reog.
Pada hari pertama ditampilkan juga seni helaran,tari merak dan jaipongan-tayuban, sedangkan pada hari kedua merupakan acara pokok berupa festival reog se-Kabupaten Sumedang.
MATO Reog Festival 2008, demikian tajuk perhelatan yang diusung penyelenggara. Nama MATO sendiri dilekatkan pada festival reog ini sebagai bentuk penghargaan terhadap grup reog MATO dari Kecamatan Situraja yang pernah berjaya pada era 70-an dan 80-an yang personilnya terdiri dari
Bapak Momo (Alm.), Bapak Aca, Bapak Tarip dan Bapak Obih (Alm.). Sebagai catatan, group seni reog MATO pernah dianugerahi penghargaan pada masa itu sebagai salah satu group reog yang menjuarai lomba seni reog tingkat Jawa Barat.
MATO Reog Festival 2008 bukan hanya upaya sesaat untuk mengenang kejayaan kesenian reog di Kabupaten Sumedang pada jaman dahulu kala saja, tetapi merupakan sebuah upaya nyata memelihara mata rantai seni budaya yang hidup di masyarakat Sumedang agar tetap eksis, bertahan, dan berkelanjutan. Karena itulah penyelenggara bertekad agar MATO Reog Festival ini dapat diselenggarakan secara rutin di tahun-tahun mendatang. Sebuah upaya yang harus didukung oleh semua pihak!

Posted by situraja, filed under Seni Budaya, Situraja's News, Terbaru. Date: November 29, 2008, 2:09 pm |

Comments are closed.