Bungsu Bandung dari Sinden ke Musik Pop Sunda

Nyeri, nyeri, nyeri moal beunang diubaran
Kajeun tutumpukan paeh ge teu panasaran
Meungpeung ngora keneh
Meungpeung urang can rimbitan
Pek geura serahkeun
Talak tilu sakalian

ANDA kenal lirik di atas? Tentu mengingatkan kita pada penyanyinya, Bungsu Bandung! Vokal dan gayanya selalu khas dalam setiap penampilannya di atas panggung, layaknya seorang sinden, anggun berkebaya dan sesekali lemah gemulai bergoyang jaipong. Itulah Hj. Mimi Setiawati atau lebih populer dengan nama Bungsu Bandung yang melejitkan tembang khas Sunda “Talak Tilu” dan “Mobil Butut”.

Lahir di lingkungan keluarga sinden dari Desa Mekarmulya Situraja, Sumedang. Wanita kelahiran 5 November 1962 ini merupakan anak bungsu dari lima bersaudara yang semuanya berprofesi sinden.

Nama Bungsu Bandung didapatnya setelah ia menikah dan ikut suaminya, Ujang Jamas, yang tinggal di bilangan Sukajadi Bandung. Dari sinilah nama Bungsu Bandung pelan tapi pasti mulai banyak dikenal orang berkat kemampuannya menyanyi.

Tiga puluh lima tahun sudah perempuan berputra tiga ini berkecimpung di bidang musik. Kemampuannya tidak sebatas menyanyi dangdut. Lagam degung, jaipong, ketuk tilu, wayang, sampai kasidah dikuasainya.

Karier dan ketenarannya di dunia seni musik ini dirintisnya dari bawah. Mengaku mental entertainernya sudah ditempa sejak kecil. “Manggung dari kampung ke kampung berjalan kaki, tukang kendang manggul kendang, tukang goong manggul goong teteh teh sok nangis, kurang tidurlah, cape!” kata Teteh Bungsu mengenang saat baru menekuni pekerjaan sebagai sinden. Waktu akhirnya membawanya ke dunia rekaman. Ia pun mengembangkan bakatnya bersama Grup Wayang Golek “Pusaka Siliwangi” berkeliling Jawa Barat dari satu pentas ke pentas lainnya. Hingga di awal tahun 1995, mencoba lagi menembus dapur rekaman. Saat itu Panama Record yang dituju langsung tertarik.

Setelah 12 tahun di dunia rekaman, tercatat 20 album dengan berbagai jenis musik dikerjakan. Dari degung, wayang, kecapi, kasidah, sampai dangdut sudah ia hasilkan. Hingga albumnya yang ke 16, nilai penjualannya tidak ada yang istimewa. Baru di album ke-17 ia mencoba menampilkan sesuatu yang berbeda.

Masuklah lagu “Talak Tilu” karya Ujang Suwanda dan “Mobil Butut” karya Abdul Syukur yang dikemas ulang.

“Waktu Teteh kecil lagu itu sudah ada, tapi belum begitu dikenal luas dengan lagam degung kawih. Terus Teteh ngimpleng, bagaimana caranya agar disukai oleh semua lapisan masyarakat?” ujarnya. Lahirlah lagu “Talak Tilu dan “Mobil Butut” dengan aransemen dangdut dan disko remix. Kedua lagu itu membuat namanya melambung dan mendongkrak penjualan albumnya, termasuk beberapa lagu di album-albumnya yang lain sebut saja “Peuting Munggaran” dan “Bohong Ah”.

Kini lagu “Talak Tilu” semakin dikenal luas masyarakat. Buktinya lagu ini sudah dialihbahasakan menjadi bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Bahkan, pekan lalu baru rampung tiga video klip untuk album kedua puluh. Di antaranya, “Galak Timuru”, “Kang Haji”, dan “Surabi Haneut”.

Sesudah bulan Puasa ini ia berencana menyelesaikan kontrak dengan perusahaan rekaman yang menaunginya dengan membuat tiga album lagi.

Kini, setelah meraih kesuksesan, ia kembali menetap di Sumedang meski kesibukannya lebih banyak di Bandung. Bersama keluarga, ia mengelola Bungsu Bandung Grup yang bergerak di usaha jasa hiburan. Usahanya berbuah manis, mobil baru keluaran Jepang yang diparkir di halaman rumahnya terparkir dengan megah. (Multazam Lisendra)***
Edisi Cetak - Minggu, 30 September 2007
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/092007/30/0503.htm

Posted by situraja, filed under Pertanian, Seni Budaya, Tokoh. Date: December 9, 2007, 5:15 am | No Comments »

Pantang Menyerah Perjuangkan Kelestarian Lingkungan

 
 
 

Deni Jasmara, Republika, Selasa, 13 Juni 2006

”Belajarlah hingga ke negeri Cina”. Ungkapan itu merupakan falsafah hidup yang dilaksanakan oleh Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat, Deni Jasmara. Yang paling utama bagi pria kelahiran Sumedang, 19 Februari 1971 adalah belajar mengenai semangat yang pantang menyerah dalam segala hal. ”Orang Cina, baik yang bekerja jadi tukang bakso ataupun pengusaha pantang menyerah,” ujar suami dari Dewi Mulyani ini dalam perbincangan dengan Republika belum lama ini. Deni mencontohkan, ketika tukang bakso di Cina mengalami kerugian hingga lima atau enam kali, mereka akan tetap bertahan. Sikap itu berbeda dengan kebiasaan orang Indonesia yang jika gagal langsung pindah ke pekerjaan lain. Konsep tidak mudah menyerah, kata ayah dari dua orang putra ini yakni Umar Paris Praja Utama (5 tahun) dan Noval Ali Praja Utama (2), diterapkannya saat berorganisasi. Misalnya, persoalan revisi Perda No 02 Tahun 2004 tentang RTRW Kota Bandung. Hingga kini, Walhi bersama beberapa LSM lainnya sedang berjuang untuk membatalkan revisi RTRW Kota Bandung, walaupun revisi itu sudah disahkan wali kota. Meskipun gerakannya sering dikecam oleh sejumlah ormas, LSM, pemerintah, Deni bersama rekan-rekannya terus maju. Bagi lelaki berperawakan kecil ini, konsep tersebut akan menggiring pada kesuksesan. Ia pun kemudian mengenang, saat pertama kali aktif di lembaga swadaya masyarakat (LSM). Karenanya, tak heran jika ia bertaruh dengan ucapan ketua LSM Poklan — tempatnya pertama kali berkiprah — yang bernama Rojahi. Lulusan SMAN I Situraja ini menjelaskan, perkataan Rohaji yang menyatakan sulit untuk eksis di LSM, seolah menantang dirinya. Mulai detik itu, Deni bertekad mengalahkan Rohaji dengan konsep yang ditekuninya. Tahun demi tahun berlalu dan Deni bertahan di LSM yang bergerak di bidang lingkungan ini. ”Dulu Rohaji duduk di Direktur Walhi selama dua periode dan sayapun sekarang sudah dua periode,” katanya menandaskan. Keinginan untuk menyaingi seniornya itu bukan dilandasi oleh sikap ‘gila jabatan’. Namun, kata ia, sebagai motovasi untuk terus berjuang dan berbuat yang terbaik. Anak ketiga dari enam bersaudara ini mengaku bergabung dengan Walhi bukan karena paham persoalan lingkungan. Sebagai orang desa, Deni melihat bumi menjadi indah jika lingkungan hijau, air tak berhenti mengalir, dan udara yang sejuk. Ketika sudah masuk ke Walhi, ia pun mulai mempelajari berbagai hal terkait dengan lingkungan. Mengenai pilihannya bergabung dengan Walhi, Deni mengatakan, karena kegiatan, suasana dan tujuan Walhi jelas. Sebelumnya, lelaki lulusan Kesejahteraan Sosial Universitas Pasundan (Unpas) ini sempat aktif di organisasi masyarakat selama dua tahun. Namun ia merasa perjalanan ormas tersebut tidak cocok dengan hati nuraninya. Menurut dia, ormas sangat struktural. sehingga posisi atasan dan bawahan begitu terasa. Tidak ada kesetaraan dalam menjalankan tugas dan fungsi anggota. Sejak kecil, Deni mengaku sangat aktif berorganisasi. Beberapa organisasi pernah ia geluti. Yakni Poklan, Lembaga Kreativitas Anak Pekerja Indonesia, Konsorsium Masyarakat Lingkungan Jabar, Swadaya Muda Bandung, Koalisi Jabar Sehat, Walhi Jabar, dan Koalisi Jabar Berkelanjutan. Dalam peringatan hari lingkungan hidup sedunia yang jatuh pada 5 Juni lalu, Deni mengatakan, tidak ada kegiatan politis yang dilakukan Walhi. Peringatan, kata dia, lebih pada kegiatan kampanye mengajak masyarakat agar masyarakat peduli pada lingkungan hidup. (ren )

Posted by situraja, filed under Tokoh. Date: December 7, 2007, 2:24 am | No Comments »

Umar Wirahadikusumah (In Memoriam)

Banyak Bekerja dan Sedikit Bicara

Dang Umar Urang Situraja by Situraja.com

Nama:
Umar Wirahadikusumah, Jenderal Purn
Lahir:
Situraja, Sumedang, Jawa Barat, 10 Oktober 1924

Agama:
Islam

Jabatan Terakhir:
Wakil Presiden RI (1983-1988)

Meninggal:
Jakarta, 21 Maret 2003

Isteri:
Ny Karlinah Djaja Atmadja (nikah 2 Februari 1957)

Anak:
Rini Ariani dan Nila Shanti

Cucu:
Enam orang

Pendidikan Umum:
Eropesche Lagere School (1935-1942)
MULO (1942-1945)
SMA (1955-1957)
Universitas Padjadjaran (1957)

Pendidikan Militer:
Sunen Dancho (1943)
PETA (1944)
Chandra Muka (1951)
SSK AD (1955)
Sus Jenderal (1966)

Karir:
Komandan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Cicalengka (1945)
Wakas Res. X Tasik (1946)
Ajudan Panglima Kodam (Pangdam) VI
Dirlat di Garut (1947)
Komandan Batalyon (Danyon) 1-U/III Cirebon (1947),
Danyon IV/Be XIII Solo (1949),
Komandan Komando Militer Kota (Dan KMK) Cirebon
Kas Ur Ex Knil Div Siliwangi (1950),
Ka Su-II Div. Siliwangi (1951),
Kas Brigif-L Cirebon (1952),
Dan Res XI/Cop Sektor A-1 (1952-l953)
lnspektur Jenderal (Irjen) T & TIll (1953-1954)
Pengganti Sementara (Pgs) Su.2 TT III (1954-1957)
Dan Men 10-Dan RTP Sibolga (1957)
Komandan Komando Militer Kota Besar (Dan KMKB) Jakarta Raya (1959).
Pejabat (Ps) Pangdam V/Jaya-I (1960)
Pangdam V/Jaya-1 (1961-l965)
Panglima Komando Strategi Tjadangan Angkatan Darat (Pangkostrad) (1965-l967)
Pangkolaga (1966)
Wakil Panglima Angkatan Darat (Wapangad) (1967.1969)
Kepala Staf AD -(Desember 1969-AprII1973)
Ketua Badan Pengawas Keuangan (BPK) (1973-l9B3)
Wakil Presiden RI (1983.1988)

Operasi Militer:
Perlucutan senjata Jepang di Cicalengka/Tasikmalaya (l945)
Kerusuhan “Merah” di daerah Cirebon, Breber dan Tegal (1946-1947)
Clash I (1947-l948),
Wehr Kreise II/Daerah Gerilya III Kuningan Barat sebagai Komandan Batalyon I Brigade Cirebon (1947 -l948)
Menghacurkan pasukan Sutan Akbar Ciniru/Kuningan (1947)
Menumpas Peristiwa Madiun sebagai Komandan Batalyon IV (l948-l950),
Clash II sebagal Komandan Ko Troepen Long Mars Solo-Tasikmalaya Barat-Clamis Utara (1948-1950),
Penumpasan Darul Islam (Dl) Jawa Barat (1950-1952),
Penumpasan PRRI di Tapanuli (1958)
Penumpasan G-30-S/PKI sebagai Pangdam V/Jaya (l965)

Penghargaan:
Bintang Dharma,
Bintang Gerilya
Kartika Eka Paksi I-II-III
Jalasena Klas I-II
Bhayangkara I-II
Kesetiaan 24 (XXIV) tahun Perang Kemerdekaan I-II
GOM I-II-V
Sapta Marga
Wira Dharma
Lencana Penegak
Dwija Sista,
Das Gross Vergenst Kreus Jerman,
Legion of Merit USA
Orde van Oranye Nassau-Nederland
Panglima Setia Mahkota-Malaysia
Bintang Keamanan no 1 dari Korea Selatan

Alamat:
Jalan Teuku Umar No.61 Jakarta Pusat
 
Mantan Wakil Presiden RI ke-4 (1983-1988) Umar Wirahadikusumah menghembuskan napas terakhir, sekitar pukul 07.53 WIB, Jumat 21 Maret 2003 di Rumah Sakit Pusat TNI-AD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, setelah sempat mendapat perawatan intensif selama dua pekan. Ia seorang putera terbaik bangsa yang jujur, rendah hati, taat pada aturan main dan lebih banyak bekerja daripada berbicara. Mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan ini juga dinilai relatif bersih dari KKN. Ia juga orang yang legowo, tidak ambisius, menerima apa adanya.
Mantan Pangkostrad kelahiran Situraja, Sumedang, Jawa Barat 10 Oktober 1924, yang wafat pada usia 79 tahun, ini meninggalkan seorang istri, Ny Karlinah Djaja Atmadja, yang dinikahinya 2 Februari 1957, dan dua orang anak, Rini Ariani dan Nila Shanti, serta enam orang cucu. Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat petang pukul 16.00, dengan upacara militer yang dipimpin mantan Wapres Jenderal (Purn) Try Sutrisno dan komandan upacara Kolonel Tisna Komara (Asisten Intelijen Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat/Kostrad). Ia menderita penyakit jantung selama 13 tahun dan telah menjalani operasi by pass jantung tahun 1989 di Herz Und Diabetes Zentrum di Badoeyhausen, Jerman. Setelah operasi jantung tersebut, kesehatan almarhum cukup baik, bahkan tetap bisa berolahraga golf. Namun sejak September 2002, jantung mantan Pangdam V Jakarta Raya (1960-1966) ini kembali mengalami gangguan dan harus menjalani perawatan lagi di Jerman.

Sepulang dari perawatan di Jerman, ia terus menjalani home care karena daya pompa jantungnya telah sangat melemah dan adanya bendungan pada paru sehingga mengakibatkan sesak napas. Sejak 5 Maret 2003, ia dirawat di paviliun Kartika RSPAD, sejak 8 Maret 2003, mendapat perawatan di ruang ICU, hingga akhirnya wafat.

Setelah dimandikan di rumah duka RSPAD, sekitar pukul 12.00 WIB, jenazahnya diusung ke Mesjid Istiqlal untuk disembahyangkan. Kemudian, epat pukul 13.00, tiba di rumah kediaman Jl Teuku Umar No.61, Jakarta Pusat untuk disemayamkan. Beberapa tokoh melawat di antaranya mantan Presiden Soeharto, Presiden Megawati Soekarnoputri, Wapres Hamzah Haz, mantan Presiden ke-3 RI BJ Habibie, Mantan Wakil Presiden (Wapres) Sudharmono, Menko Kesra Jusuf Kalla, KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu, KSAL Laksamana Bernard Kent Sondakh, Kepala Polri Jenderal (Pol) Da’i Bachtiar, Pangkostrad Letjen Bibit Waluyo, Pangdam Jaya Mayjen Djoko Santoso, dan Kepala BIN Hendropriyono.

Upacara pelepasan jenazah di rumah duka dipimpin oleh KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu dengan komandan upacara Kolonel M Nizam (Asisten Perencanaan Kostrad).

Bekerja
Penerima beberapa penghargaan (bintang jasa) ini dikenal sebagai sosok pejabat yang lebih banyak bekerja daripada bicara. Ia juga seorang yang sangat taat pada aturan. Ia tidak suka melihat staf atau pejabat lain yang tidak menaati peraturan. Ia juga orang yang rendah hati dan tak mau menonjol-nonjolkan diri. Ia bukan orang yang menghalalkan segala cara untuk meraih sesuatu atau jabatan.

Ketika ia dipilih menjadi Wakil Presiden (1983-1988), banyak kalangan tidak menduga sebelumnya. Tapi sosoknya yang tidak ambisius rupanya telah menempatkannya memperoleh kepercayaan dari Presiden Soeharto ketika itu. Saat ia digantikan Sudharmono sebagai Wakil Presiden, tak sedikit pun tampak rasa kecewa dalam penampilannya. Ia orang yang legowo.

Ia juga orang yang relatif bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Maka ketika pemerintahan Orde Baru berakhir, dimana banyak pejabatnya disorot karena diduga terlibat KKN dan pelanggaran hak-hak asasi manusia, ia tidak pernah diusik. Sebab ia tergolong yang relatif bersih di antara banyaknya pejabat yang diduga bergelimang KKN.

Putera kelima dari pasangan Raden Rangga Wirahadikusumah (Wedana Ciawi, Tasikmalaya) dan Raden Ratnaningrum (putri Patih Demang Kartamenda di Bandung), ini memperoleh pendidikan di Eropesche Lagere School (1935-1942)
MULO (1942-1945), SMA (1955-1957) dan Universitas Padjadjaran (1957).

Memulai pendidikan kemiliteran pada zaman Jepang. Ia mengikuti latihan pemuda Seinendojo (Sunen Dancho) Tangerang (1943), lalu masuk latihan perwira (Shoodanchoo) Tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor (1944). Kemudian pendidikan Chandra Muka (1951), SSK AD (1955) hingga Sus Jenderal (1966).

Perjalanan karirnya dimulai sebagai Komandan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Cicalengka, Jawa Barat (1945). Pada masa awal Revolusi itu, sejumlah pemuda Sunda bergabung masuk tentara. Sebagian dari mereka berasal dari keluarga bangsawan, di antaranya Umar Wirahadikusumah (zoon van de Wedana van Ciawi Tasikmalaya). Ia masuk tentara atas kesadarannya sendiri untuk membela tanah air.

Anak bangsawan yang sudah berpendidikan formal MULO (SMP) mendirikan TKR di Cicalengka taanggal 1 September 1945. Kemudian menjadi Wakas Res. X Tasikmalaya (1946) dengan pangkat kapten. Lalu menjadi Ajudan Panglima Kodam (Pangdam) VI Siliwangi (yang ketika itu dijabat AH Nasution). Setelah itu menjadi Dirlat di Garut (1947) serta Komandan Batalyon (Danyon) 1-U/III Cirebon (1947). Kemudian dipercaya menjabat Danyon IV/Be XIII Solo (1949), Komandan Komando Militer Kota (Dan KMK) Cirebon, Kas Ur Ex Knil Div Siliwangi (1950), Ka Su-II Div. Siliwangi (1951), Kas Brigif-L Cirebon (1952), Dan Res XI/Cop Sektor A-1 (1952-l953) dan lnspektur Jenderal (Irjen) T & TIll (1953-1954).

Ia pun sempat menjadi Pengganti Sementara (Pgs) Su.2 TT III (1954-1957) sebelum menjabat Dan Men 10-Dan RTP Sibolga dengan pangkat Letkol (1957). Dari Sibolga, ia dipromosikan menjabat Komandan Komando Militer Kota Besar (Dan KMKB) Jakarta Raya (1959). Lalu menjadi Pejabat (Ps) Pangdam V/Jaya-I (1960) sampai menjadi Pangdam V/Jaya-1 (1961-l965) dengan pangkat kolonel kemudian Brigjen. Pada saat menjabat Pangdam V/Jaya ini ia ikut menumpas G-30-S/PKI.

Selain penumpasan G-30-S/PKI, ia juga banyak terlibat dalam operasi militer, mulai dari perlucutan senjata Jepang di Cicalengka/Tasikmalaya (l945), Kerusuhan “Merah” di daerah Cirebon, Breber dan Tegal (1946-1947), Clash I (1947-l948), dan Wehr Kreise II/Daerah Gerilya III Kuningan Barat sebagai Komandan Batalyon I Brigade Cirebon (1947 -l948).

Ia juga ikut dalam operasi penghancuran pasukan Sutan Akbar Ciniru/Kuningan (1947), penumpasan Peristiwa Madiun sebagai Komandan Batalyon IV dengan pangkat mayor (l948-l950), Clash II sebagal Komandan Ko Troepen Long Mars Solo-Tasikmalaya Barat-Clamis Utara (1948-1950), penumpasan Darul Islam (Dl) Jawa Barat (1950-1952), dan penumpasan PRRI di Tapanuli (1958).

Kehandalannya mendukung Panglima Kostrad Mayjen Soeharto menumpas PKI, ia pun dipercaya menjabat Panglima Komando Strategi Tjadangan Angkatan Darat (Pangkostrad) (1965-l967) menggantikan Mayjen Soeharto sendiri. Beberapa bulan kemudian diangkat menjadi Pangkolaga (1966). Lalu menjadi Wakil Panglima Angkatan Darat (Wapangad) (1967-1969). Karir militernya berpuncak sebagai Kepala Staf AD (Desember 1969-AprII1973). Setelah itu, ia menjabat Ketua Badan Pengawas Keuangan (BPK) selama 10 tahun (1973-l983). Kemudian ia terpilih menjabat Wakil Presiden RI (1983-1988) mendampingi Presiden Soeharto.

Umar seorang prajurit pejuang yang taat beragama. Ia selalu tertib melakukan shalat liwa waktu. Ketika menjabat wakil presiden, pada setiap bulan Ramadhan, dia selalu mengadakan shalat tarawih di Istana Wakil Presiden. Ia juga orang yang tidak suka kemewahan dan berfoya-foya. Ia orang yang sederhana.

Saat awal menjabat wapres, ia dan keluarganya enggan meninggalkan rumah pribadinya di Jalan Agus Salim yang sederhana untuk pindah ke rumah dinas yang sudah disiapkan. Sebenarnya ia lebih senang tinggal di rumah yang mungil dan sederhana itu. Namun, karena jabatannya, dan setelah melalui perdebatan yang sedikit alot, akhirnya ia bersedia pindah ke rumah dinas dan menggunakan mobil dinas wapres yang disediakan Sekretariat Negara.

Ia satu di antara sedikit pejabat yang berkeinginan memberantas korupsi di negeri ini. Semasa kondisi kesehatannya masih baik, ia sering main tenis, golf dan jalan kaki di waktu pagi di pekarangan rumahnya bersama istrinya. Kini, ia telah pergi, dengan meninggalkan kenangan baik bagi bangsanya. *** Ensiklopedi Tokoh Indonesia http://tokohindonesia.com/ensiklopedi/u/umar-wirahadikusumah/index.shtml

Posted by situraja, filed under Tokoh. Date: December 6, 2007, 11:20 pm | No Comments »

T. WAHYUDIN TOKOH TARI SUNDA ASAL SITURAJA

Biografi

Tempat/Tanggal Lahir: Sumedang, 1 Mei 1933

Alamat: Kecamatan Situraja Sumedang

Pengalaman Belajar Menari, antara lain: Tahun 1942 belajar tari Keurseus dari Winata
Raksapraja (Ayahnya), Tahun 1951 belajar Tari Keurseus dan Wayang wong dari
R. Sadeli Hardjadinata, Tahun 1952 belajar tari Keurseus dan Tari Wayang dari R.Ono
Lesmana Kartadikusumah

Piagam Pengahargaan, antara lain: Juara lomba Tari Keurseus (Gawil) se-Jawa Barat
(1974), juara Festival tari Keurseus (Lenyepan) se-Jawa Barat (1980), dan dari Bupati
Sumedang sebagai Tokoh Tari (1999)

http://media.diknas.go.id/media/document/3864.pdf

Posted by situraja, filed under Seni Budaya, Tokoh. Date: December 6, 2007, 10:50 pm | No Comments »

Tabel Luas Wilayah dan Kelompok Ketinggian

Menurut Kecamatan

No.

Kecamatan

Luas

(Km2)

Ketinggian dari permukaan laut (m)

25 - 50

51 - 75

76 - 100

101 - 500

501 - 1000

> 1000

1

2

3

4

5

6

7

8

9

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.

Jatinangor

2620

-

-

-

-

2872

-

2.

Cimanggung

4076

-

-

-

-

1969,05

1854,73

3.

Tanjungsari

3562

-

-

-

-

5166,7

7059,27

4.

Sukasari

4712

-

-

-

-

-

-

5.

Pamulihan

5785

-

-

-

-

-

-

6.

Rancakalong

5228

-

-

-

-

6627,85

1065,53

7.

Sumedang Selatan

11741

-

-

-

1326,62

6989,45

3290,45

8.

Sumedang Utara

2825

-

-

-

2374,66

2035,11

-

9.

Ganeas

2136

-

-

-

-

-

-

10.

Situraja

5398

-

-

-

7226,38

1776,58

24,37

11.

Cisitu

5331

-

-

-

-

-

-

12.

Darmaraja

5495

-

-

-

4980,25

2347,2

479,12

13.

Cibugel

4880

-

-

-

896,34

3007,26

1087,29

14.

Wado

7642

-

-

-

5924,05

4243,31

1517,55

15.

Jatinunggal

6149

-

-

-

-

-

-

16.

Jatigede

11197

-

-

-

11666,04

-

-

17.

Tomo

6626

2256,71

2099,34

1325,4

1889,28

-

-

18.

Ujungjaya

8056

3601,34

2489,3

1417,88

498,33

-

-

19.

Conggeang

10616

-

209,48

855,31

8225,27

1145,68

95,47

20.

Paseh

3352

-

-

-

2036,81

692,19

-

21.

Cimalaka

4162

-

-

-

1913,36

4374,46

432,81

22.

Cisarua

1892

-

-

-

-

-

-

23.

Tanjungkerta

4014

-

-

-

5573,59

4954,53

-

24.

Tanjungmedar

6514

-

-

-

-

-

-

25.

Buahdua

13137

-

875,42

3696,23

12033,57

1138,34

558,19

26.

Surian

5074

-

-

-

-

-

-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jumlah

152220

5858,05

5673,54

7294,82

66564,55

49339,71

17464,78

http://jabar.bps.go.id/Kab_Sumedang/topografi.htm

Posted by situraja, filed under Geografi. Date: December 6, 2007, 10:33 pm | No Comments »

Yaya, Peneliti Temulawak di Korea

Dr.Yaya Rukayadi

Di sekitar laboratorium tempat Dr Yaya Rukayadi (43) berkutat dengan kesibukannya sebagai peneliti senior sekaligus pengajar di Yonsei University, Seoul, Korea Selatan, terdapat sejumlah tanaman obat Indonesia, khususnya temulawak. Tanaman tersebut sengaja dikirim dari Tanah Air ke Negeri Ginseng itu untuk diteliti.

Dari pertanyaan mengapa tanaman obat di Indonesia diteliti di Korea, Yaya Rukayadi mengawali ceritanya. Ia ingin agar temulawak bisa dijadikan “merek” Indonesia, sama seperti ginseng yang sudah menjadi merek atau setidaknya membuat orang ingat Korea.

“Kalau orang ngomong ginseng, pasti asosiasinya Korea. Padahal, negara yang memproduksi ginseng terbesar di dunia adalah Kanada dan China. Orang Korea juga mengimpor bahan dasar ginseng dari Kanada dan China,” ungkap Yaya Rukayadi dalam percakapan dengan Kompas awal Agustus 2007 di Yonsei University, Seoul.

Obsesi Yaya menjadikan temulawak sebagai ikon tanaman obat dari Indonesia sama seperti ginseng yang sudah menjadi ikon Korea.

Di Indonesia, untuk tanaman obat temulawak (Curcuma xanthorrhiza), jangankan kultivasi yang benar, pemetaan temulawak pun data resminya belum ada. Oleh sebab itu, Yaya bekerja sama dengan Pusat Penelitian Biopharmaca di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Departemen Pertanian untuk membuat riset dasar tentang temulawak.

Tak punya musuh
Temulawak adalah tanaman yang hampir tak memiliki musuh (hama). Tanaman ini menghasilkan antijamur, ia tak akan terkena jamur karena temulawak sendiri menghasilkan jamur.

Tanaman temulawak di Indonesia hanya ada di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Maluku Selatan. Menurut Yaya, temulawak bisa tumbuh di Sumatera, tetapi tidak bisa sebaik kalau ditanam di Pulau Jawa. Untuk lebih memopulerkan dan memperkenalkan tanaman temulawak ke forum internasional, Yaya bekerja sama dengan IPB untuk mendeklarasikan Kongres Internasional Temulawak pertama pada Maret 2008 di Bogor, Jawa Barat.

Presiden Susilo bambang Yudhoyono, tutur Yaya, mengundang dia ke Istana Presiden di Jakarta untuk mempresentasikan secara rinci soal temulawak tersebut. “Kebetulan akhir Oktober nanti saya menjadi salah satu pembicara pada simposium internasional tentang farmasi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Di forum itu, saya diundang sekaligus berbicara bersama 11 ahli farmasi dunia,” ujar Yaya.

Meski “terpakai” di Indonesia, Yaya memilih tinggal di Korea. Agaknya motivasi dia untuk tetap “bertahan” tinggal, mengabdikan diri, serta mendalami ilmunya di Korea sama dengan umumnya warga Indonesia yang memilih tinggal di luar negeri. Mereka mampu berprestasi, tetapi kurang dihargai di negeri sendiri.

Warga kehormatan
Di negara lain, mereka bisa lebih bebas mendalami ilmu, berprestasi, sehingga bisa mendapatkan penghargaan yang layak. Bahkan, Yaya yang tinggal di Seoul sejak tahun 2000 itu tak hanya menjadi peneliti senior dan pengajar pada perguruan tinggi swasta Yonsei University, tetapi juga menjadi salah satu warga kehormatan di
Kota Seoul.

Karena itu, ketika Presiden Yudhoyono bertemu dengannya di Korea dan menawarkan kembali ke Tanah Air dan mengabdikan ilmunya di Indonesia, Yaya merasa bimbang. Ia tak segera menerima tawaran tersebut.

“Kembali ke Indonesia, saya pikir bukan satu-satunya jalan terbaik. Kalau pulang ke Indonesia, apakah saya bisa mengembangkan ide-ide saya secara bebas? Jangan-jangan kalau saya pulang ke Indonesia, malah saya menjadi birokrat, bukan peneliti lagi. Saya tidak ingin pulang ke Indonesia, lalu duduk di belakang meja, kemudian tunjuk sana tunjuk sini. Nah, masalah itu yang sedang saya pikirkan,” tutur Yaya.

Di Korea, dia merasa bebas melakukan apa pun yang ingin dikerjakan. Di Negeri Ginseng, seorang ilmuwan tidak disibukkan dengan urusan birokrasi seperti halnya di Indonesia. Kegiatan lain Yaya di samping menjadi ilmuwan adalah sebagai tamu pada program siaran seksi Indonesia di Radio KBS Seoul.

Padahal, cita-cita Yaya sebenarnya ingin menjadi seorang guru. Oleh karena itu, dia bersikeras kepada orangtuanya agar bisa belajar di sekolah pendidikan guru di Kota Sumedang. Namun, orangtuanya ingin supaya Yaya belajar di sekolah menengah atas (SMA). Kebetulan, di Situraja, tempat tinggalnya dulu, ketika itu baru berdiri SMA.

Setelah lulus SMA tahun 1983, dia mengikuti beberapa kali ujian masuk perguruan tinggi melalui sistem Proyek Perintis (PP) I sampai PP IV. Selain diterima pada Jurusan Farmasi ITB, Yaya juga lolos seleksi di IPB. Ia pun diterima di Jurusan Biologi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung, atau sekarang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Yaya kemudian memutuskan mengambil Jurusan Farmasi ITB. Namun, rupanya cita-cita untuk menjadi guru tetap membayangi sehingga kuliah di ITB hanya dijalaninya setahun. Ia lalu memutuskan pindah ke IKIP Jurusan Biologi hingga sarjana, kemudian menyelesaikan program S-2 dan S-3 di IPB.

Pada waktu melakukan penelitian program doktor, dia pernah dikirim dan lolos seleksi masuk University of California di Berkeley, Amerika Serikat (AS), tahun 1996 untuk mempelajari tentang biokontrol pada penyakit kedelai.

Setiap tahun, kata Yaya, University of California hanya menerima 20 mahasiswa melalui seleksi yang ketat. Dari jumlah mahasiswa itu, 10 di antaranya merupakan warga AS, sedangkan sisanya dari luar AS.

“Ketika itu saya satu-satunya mahasiswa dari Asia,” ucap Yaya, yang juga sempat melakukan penelitian biokontrol untuk penyakit kedelai di University of Edinburgh, Skotlandia, tahun 1998.

Akan tetapi, dari hasil riset soal kedelai di AS itulah Yaya Rukayadi kemudian memperkenalkan salah satu rumus kimia YR 32-menyangkut penyakit kedelai-kepanjangan dari Yaya Rukayadi, sedangkan angka 32 adalah umur dia saat melakukan penelitian tersebut.

Setelah meraih S-3, Yaya tertarik pada temulawak sebab sepengetahuannya tanaman itu hanya ada di Indonesia. Ia lalu memusatkan perhatiannya pada temulawak.

Keinginannya untuk meneliti lebih jauh manfaat temulawak semakin terbuka lebar saat dia diajak Prof Jae Kwan-hwang, pengajar pada Yonsei University, untuk bergabung sebagai peneliti sekaligus pengajar pada perguruan tinggi tersebut.

Dari hasil penelitian pada temulawak, dia antara lain menemukan fungsi temulawak sebagai antiketombe. Temulawak juga bisa dimanfaatkan sebagaipasta gigi. Menurut Yaya, temulawak pun sangat mungkin dapat digunakan untuk mengatasi penyakit kanker. Meski untuk itu, masih diperlukan penelitian lebih lanjut.

Meski cukup sibuk, Yaya tetap menyempatkan diri menulis hasil penelitiannya tentang temulawak untuk jurnal-jurnal ilmiah internasional. Alasannya, agar temulawak menjadi perhatian lebih banyak peneliti di dunia.

BIODATA

* Nama : Dr Yaya Rukayadi
* Lahir : Sumedang, 17 Agustus 1964
* Keluarga : Dia anak bungsu dari enam bersaudara
* Hobi : Fotografi, jalan-jalan, dan menulis. Salah satu hobinya
adalah menulis cerita pendek (carita pondok-carpon)
pada Majalah “Sunda Mangle”.

* Pendidikan:
- Lulus SMA, 1983
- Kuliah pada Jurusan Farmasi ITB, 1983-1984
- Sarjana Biologi IKIP Bandung, 1984-1990
- Program Master (S-2) di IPB Bogor, 1992-1995
- Program Doktor (S-3) di IPB, 1995-1998

* Kegiatan Lain:
- Menjadi pembawa acara pada Radio Korea International (RKI)
- Korean Broadcasting System (KBS), 2002

* Penghargaan:
- Sebagai Warga Kehormatan Kota Seoul, 2007, dia antara lain bisa
bepergian ke mana saja di kota itu secara gratis

link :http://www.kompas.com/ver1/Negeriku/0710/25/052320.htm

Posted by situraja, filed under Tokoh. Date: December 6, 2007, 10:24 pm | No Comments »

Budidaya Sawo Sukatali ST 1, Secuil Beban dari Komoditas Unggulan
Senin, 02 Juli 07 - oleh : admin

Desa Sukatali berada di wilayah Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang. Nama desa ini cukup dikenal berkat buah Sawo. Orang mengenal buah sawo khas Desa Sukatali bukan hanya karena banyak warganya yang menanam buah itu, melainkan tipikal buahnya. Buah sawo asli Desa Sukatali memiliki sejumlah keistimewaan, antara lain, rasanya sangat manis dan tidak mudah busuk. Selain itu, jika ditekan, terasa tidak lembek. Konsumen sering terkecoh karena menyangka buah sawo masih mentah.
Buah Sawo Desa Sukatali memiliki kandungan gizi yang tinggi. Kandungan protein, lemak, kalsium, fosfor, zat besi, dan vit C buah ini dinilai lebih tinggi dibandingkan apel.
Konon, sejarah buah sawo Desa Sukatali tak terlepas dari nama seorang abdi dalem Pangeran Soeriatmadja yang bernama Satir. Ia diberi tanaman itu oleh Pangeran Soeriatmadja karena kurang terpelihara. Satir kemudian menanamnya di tempat tinggalnya, Desa Sukatali. Lama kelamaan, pohon sawonya semakin banyak.
Salah seorang warga Desa Sukatali yang memiliki banyak pohon sawo adalah Eros Rosmala (61). Lahan di sekitar rumahnya banyak ditumbuhi pohon ini. Katanya, memelihara tanaman sawo khas Desa Sukatali tidak begitu rumit. Hanya diberi pupuk kandang dan rajin disiangi, pohon sawo akan berbuah lebat. Penggunaan pestisida juga dihindari. Oleh karena itu, sawo ini bebas dari kimia.
Dahulu, buah sawo Desa Sukatali dikenal dengan nama Sawo Apel Kapas. Pada 2002, nama itu berubah menjadi Sawo Sukatali ST1. Aturannya,, tidak dibenarkan pemakaian tiga nama untuk satu komoditas.
Menurut Ir. Ateng, Kabid Tanaman Holtikultura Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Holtikultura, Kabupaten Sumedang, kode “ST1” merupakan kepanjangan dari Sumedang Tandang 1. Kode ini tidak hanya berlaku untuk buah sawo Desa Sukatali, tetapi juga untuk komoditas unggulan lainnya, misalnya, Umbi Cilembu ST1.
Sebagai komoditas unggulan, kini pembudidayaan buah Sawo Sukatali ST1 tidak hanya terpusat di Desa Sukatali. Instansi terkait telah membuka lahan pengembangan di Kecamatan Situraja, Cisitu, dan Kecamatan Darmaraja. Di atas lahan seluas 3.672 hektar yang mencakup ketiga kecamatan itu, telah ditanam kurang lebih 32.847 pohon sawo Redaksi) http://www.inkubator-bisnis.com/?pilih=lihat&id=22

Posted by situraja, filed under Ekonomi, Pertanian. Date: December 6, 2007, 10:17 pm | Comments Off

Tak ada yang lebih menggembirakan bagi sebagian besar warga di Kecamatan Situraja kecuali datangnya musim hujan. Bisa dimaklumi, mayoritas mata pencaharian penduduk adalah bertani. Di sebagian daerah di Situraja, menanam kacang tanah (suuk), jagung, kacang putih, biasa dilakukan di pesawahan sebelum curah hujan benar-benar tinggi. Para petani mulai menanam padi jika hujan berkesinambungan, saat mata air resapan, selokan-selokan, sungai-sungai mulai teraliri air secara kontinyu. Dalam setahun kebanyakan cuma sekali dapat berhasil panen dengan mulus. Setelahnya, jika menanam padi lagi berarti untung-untungan. Beruntung jika sampai musim panen padi mereka terairi, jika tidak maka dipastikan gagal panen alias fuso. Hujan tak datang, padi mengering, itulah saat yang memilukan. Mereka yang tak mau mengambil risiko dengan menanam padi untuk yang kedua kalinya (morekat) biasanya memilih menanam palawija lagi seperti ubi jalar (boled). Hanya sedikit wilayah pesawahan di situraja yang dapat ditanami padi sepanjang tahun. Cuma daerah dekat dengan sumber air seperti sungai dan irigasi. Keberadaan irigasi pun sering tak maksimal, semisal irigasi Sentig yang seharusnya sampai ke daerah Sukatali, Cijeler, dan Ambit, kenyataannya hanya sebagian tempat saja yang dapat menikmatinya. Hal ini seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah dengan menempatkan masalah tersebut pada skala prioritas utama, mengingat lahan pertanian adalah sumber kesejahteraan mayoritas warga Situraja. Bertani pada masa sekarang sering dikeluhkan para petani karena mahalnya pupuk dan obat-obatan. Biaya produksi dan tenaga kerja kadang tak sebanding dengan hasil akhir. Bertani tak ubahnya seperti berspekulasi. Ah, siapakah yang tak rindu kampung halaman? Betapa indahnya pesawahan yang menghampar hijau. Betapa riang gembiranya para petani yang memanen padi yang menguning. Lihatlah di sana, di perbukitan, mereka yang berhuma dan bercocok tanam! Akankah pemandangan itu tetap ada saat lahan-lahan mulai menyempit menjadi kumpulan bangunan bertembok dan saat para pemudanya enggan menyentuh tanah? (tulisan ini ditulis dengan ibu jari saja:dari hp)

Posted by situraja, filed under Ekonomi, Pertanian. Date: November 29, 2007, 2:56 am | No Comments »

18  Nov
Situraja

Situraja, Situraja!

Situraja terletak di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Indonesia.  Situraja adalah sebuah nama yang demikian bermakna.  Ia benar-benar ada.  Apapun yang terlihat, terdengar, terasa dan terekam akan meninggalkan jejaknya dalam lintasan sejarah kehidupan. 

Posted by situraja, filed under Dari Kami. Date: November 18, 2007, 1:52 am | No Comments »

29  Oct
SUMEDANG

Sumedang, - www.situraja.com. Kabar gembira bagi warga Sumedang. Telah hadir sebuah blog tentang Situraja. All about situraja. Semoga www.situraja.com dapat bermanfaat.

Posted by situraja, filed under Terbaru. Date: October 29, 2007, 8:35 am | No Comments »

Next Entries »